Senyum Anak Difabel, Inspirasi dari Elsafan

Staf di Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Siti Nurjanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di ruang kelas sederhana SLB A & A+ (Ganda) Elsafan, tawa riang pecah ketika Joseph, seorang siswa SMA berusia 21 tahun, berbincang dengan dokter gigi dari Universitas Indonesia (UI). Pada Jumat, 12 September 2025, ia baru saja menjalani pemeriksaan gigi sebuah pengalaman yang mungkin terlihat biasa, tetapi memiliki arti besar baginya.
“Saya baru tahu kalau harus sikat gigi tiga kali sehari: pagi, siang, dan sebelum tidur. Biasanya saya tidak pernah sikat gigi malam,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Joseph bukanlah remaja biasa. Ia memiliki bakat Istimewa, yaitu mampu memainkan 13 alat musik, salah satunya drum, dan bercita-cita menjadi musisi hebat. “Kalau gigi sehat, saya bisa percaya diri tersenyum di atas panggung,” katanya penuh semangat. Ucapannya sederhana, tetapi sarat makna. Kesehatan gigi baginya bukan hanya soal fisik, melainkan juga tentang keyakinan untuk meraih mimpi.
Kisah Joseph hanyalah satu dari sekian cerita yang mewarnai pemeriksaan gigi di Elsafan. Gabriella, siswi kelas 7 SMP berusia 13 tahun, juga merasakan kebahagiaan yang sama. Tinggal bersama neneknya dan belum pernah sekalipun memeriksakan gigi karena keterbatasan biaya, hari itu ia mendapat kesempatan berharga.
“Senang sekali bisa bertemu dokter gigi UI yang ramah, jadi saya tidak takut diperiksa,” ungkap Gabriella. Senyum tulusnya menjadi hadiah manis dari pengalaman pertamanya.
Kegiatan pemeriksaan gigi ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI 2025. Lebih dari sekadar bakti sosial, acara ini bahkan akan tercatat dalam sejarah melalui Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Pemeriksaan 1000 Gigi untuk Kaum Difabel.”
Acara di Elsafan juga dihadiri oleh Kepala Subdit Pemberdayaan Masyarakat dan Inovasi Sosial UI. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen UI dalam mendukung kesehatan gigi teman-teman difabel. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini saja, tetapi dapat dilanjutkan dengan berbagai kerja sama bersama Yayasan Elsafan,” tuturnya.
Kepala Sekolah SLB A & A+ (Ganda) Elsafan, Dhodik Anggana, turut menyambut hangat. Ia mengingatkan bahwa anak-anak difabel sering mengalami kesulitan dalam merawat gigi, misalnya sulit membedakan tekstur makanan atau langsung menelan tanpa mengunyah. “Karena itu, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat. Semoga dapat terus berlanjut,” katanya penuh harap.
Hari itu, bukan hanya gigi yang diperiksa. Lebih dari itu, ada semangat baru yang tumbuh pada setiap anak. Dengan segala keterbatasan dan kelebihan mereka, setiap anak berhak memiliki senyum sehat. Joseph ingin bermusik dengan percaya diri, Gabriella bisa tersenyum lega, dan sekolah merasakan dukungan nyata.
Kegiatan sederhana ini akhirnya menjadi pengingat: senyum yang sehat adalah jembatan menuju masa depan yang lebih cerah. Dan Universitas Indonesia hadir untuk menjaga agar senyum itu tetap terukir di wajah anak-anak Elsafan.
