Mengapa Tubuh Kita Berkedut Saat Hampir Tertidur? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sitinazwa nk tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda tiba-tiba tersentak kaget tepat saat tubuh hampir terlelap? Seolah-olah Anda baru saja "terjatuh" dari ketinggian, lalu langsung terbangun dengan jantung berdegup kencang. Fenomena ini dialami oleh hampir semua orang, namun jarang yang tahu apa penyebabnya secara ilmiah. Dalam dunia medis, kejadian ini dikenal dengan istilah hypnic jerk atau hypnagogic jerk — dan ternyata ada penjelasan neurologis yang sangat menarik di baliknya.

Apa Itu Hypnic Jerk?
Hypnic jerk adalah kontraksi otot involunter (tidak disengaja) yang terjadi secara tiba-tiba pada saat seseorang sedang dalam proses transisi dari kondisi terjaga menuju tidur. Gerakan ini biasanya berlangsung hanya sepersekian detik, namun cukup kuat untuk membangunkan penderitanya. Menurut data dari American Academy of Sleep Medicine, fenomena ini dialami oleh sekitar 60 hingga 70 persen populasi dunia, sehingga tergolong sebagai kondisi yang sangat normal.
Hypnic jerk dapat terjadi di seluruh bagian tubuh, namun paling sering dirasakan di kaki, lengan, atau seluruh tubuh secara bersamaan. Beberapa orang bahkan melaporkan sensasi visual berupa kilatan cahaya atau suara keras di kepala sesaat sebelum tersentak.
Apa yang Terjadi di Otak Saat Itu?
Untuk memahami hypnic jerk, kita perlu melihat apa yang terjadi di sistem saraf pusat selama proses tertidur.
Saat tubuh mulai beralih ke fase tidur, otak memasuki tahap N1 (Non-REM Stage 1) — tahap tidur paling ringan. Pada tahap ini, aktivitas otak mulai melambat, detak jantung menurun, suhu tubuh turun, dan otot-otot mulai berelaksasi. Namun, proses "peralihan kendali" dari sistem saraf sadar ke sistem saraf otonom tidak selalu berjalan mulus.
Inilah yang menjelaskan hypnic jerk: otak salah menginterpretasikan relaksasi otot yang tiba-tiba sebagai sinyal bahwa tubuh sedang jatuh. Sebagai respons protektif, otak langsung mengirimkan sinyal darurat ke otot-otot tubuh untuk "menyelamatkan diri" — dan jadilah kontraksi mendadak itu.
Teori Ilmiah di Balik Hypnic Jerk
Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan fenomena ini dari sudut pandang neurologi dan evolusi:
1. Teori Refleks Evolutif
Teori ini dikemukakan oleh sejumlah ahli neurologi evolusioner. Mereka berpendapat bahwa hypnic jerk adalah sisa respons evolusi dari nenek moyang manusia yang tidur di atas pohon. Ketika otot-otot mulai rileks dan tubuh "terasa jatuh", otak memicu kontraksi otot sebagai mekanisme untuk mencegah tubuh benar-benar terjatuh. Meskipun manusia modern sudah tidak lagi tidur di pohon, respons refleks ini masih tersimpan dalam sistem saraf kita.
2. Teori Konflik Neurologis
Teori kedua menjelaskan bahwa hypnic jerk terjadi akibat konflik antara dua sistem saraf yang bekerja bersamaan. Saat tertidur, sistem saraf parasimpatis mengambil alih kendali tubuh dari sistem saraf simpatis. Dalam proses peralihan ini, terkadang terjadi "miskomunikasi" yang memicu gelombang aktivasi otot secara tiba-tiba.
3. Teori Penurunan Suhu Tubuh
Beberapa peneliti juga mengaitkan hypnic jerk dengan penurunan suhu tubuh inti yang terjadi saat awal tidur. Perubahan suhu yang cepat ini dapat memicu aktivasi singkat pada motor neuron, sehingga menghasilkan kontraksi otot yang tidak disengaja.
Faktor yang Memperparah Hypnic Jerk
Meskipun hypnic jerk adalah fenomena normal, intensitas dan frekuensinya dapat meningkat karena beberapa faktor:
Kelelahan dan kurang tidur: Saat tubuh sangat kelelahan, proses transisi ke tahap tidur berlangsung lebih cepat dan tidak teratur, sehingga memicu hypnic jerk lebih sering.
Konsumsi kafein dan stimulan: Kafein, nikotin, dan obat-obatan stimulan dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf, membuat otak lebih "waspada" bahkan saat tubuh mencoba tidur.
Stres dan kecemasan: Tingkat kortisol (hormon stres) yang tinggi membuat sistem saraf simpatis tetap aktif, sehingga proses relaksasi otot menjadi lebih terganggu.
Olahraga intens sebelum tidur: Aktivitas fisik berat meninggalkan residu aktivasi neuromuskular yang dapat memicu kontraksi otot saat awal tidur.
Apakah Hypnic Jerk Berbahaya?
Secara umum, hypnic jerk tidak berbahaya dan tidak memerlukan penanganan medis khusus. Kondisi ini bukan merupakan tanda gangguan saraf atau penyakit serius
Cara Mengurangi Frekuensi Hypnic Jerk
Jika Anda merasa terganggu oleh hypnic jerk, berikut langkah-langkah yang dapat membantu:
Terapkan jadwal tidur yang konsisten untuk melatih ritme sirkadian tubuh.
Hindari kafein minimal 6 jam sebelum tidur untuk menurunkan aktivasi sistem saraf.
Lakukan relaksasi progresif otot atau teknik pernapasan dalam sebelum tidur untuk membantu transisi yang lebih halus.
Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman — suhu ruangan ideal untuk tidur berkisar antara 18–22°C menurut rekomendasi Sleep Foundation.
Batasi penggunaan layar (gadget) minimal 30 menit sebelum tidur karena cahaya biru menghambat produksi melatonin.
