Konten dari Pengguna

Petani Bukan Mesin Penghasil Makanan, Mereka Manusia yang Terluka

Sitti

Sitti

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sitti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi pribadi penulis

Setiap kita makan nasi hari ini, ada tangan-tangan kasar yang memeras keringatnya di ladang. Tapi anehnya, petani justru jarang ikut duduk dalam meja kebijakan soal pangan. Mereka yang menanam, tapi paling terakhir menikmati hasil panen. Bahkan seringkali, justru mereka yang kelaparan.

Saya tidak bicara soal romantisasi petani yang bangun pagi, berkawan dengan lumpur, lalu pulang saat matahari jatuh. Saya bicara tentang kenyataan pahit: petani kita masih miskin, terpinggirkan, dan terus dipaksa bertahan dalam sistem yang tidak pernah berpihak pada mereka.

Bayangkan, harga pupuk naik, harga gabah ditekan, lahan makin sempit, dan cuaca makin tak menentu. Tapi solusi dari pemerintah hanya dua: program bantuan yang sifatnya tambal sulam dan wacana modernisasi pertanian yang tak pernah menyentuh akar masalah. Modernisasi bagi siapa? Bagi petani atau investor?

Yang lebih menyakitkan, narasi “petani malas” masih hidup di tengah kita. Seolah semua ini salah mereka yang tak bisa “beradaptasi zaman”. Padahal, siapa yang menciptakan zaman ini? Siapa yang menggiring petani ke sudut sempit dengan harga tak adil dan akses modal yang berat sebelah?

Masalah pertanian bukan soal produktivitas semata, tapi soal keadilan struktural. Dan ini yang tak pernah selesai dibahas. Seolah-olah kita hanya butuh hasil taninya, bukan nasib petaninya.

Petani bukan mesin. Mereka manusia. Dan manusia bisa patah bila terus-menerus diabaikan.

Jika negara benar ingin mandiri pangan, mulailah dengan mendengar suara petani bukan sekadar mengundang mereka dalam seminar, tapi hadir dalam kehidupan mereka. Bantu bukan hanya saat kamera menyala, tapi ketika hujan datang dan panen gagal.

Karena selama petani terus dianggap kecil, kita semua sedang membangun negeri di atas tanah yang tak punya akar.