Ontologi Seblak: Sensasionalisme Rasa di Tengah Kerapuhan Jiwa yang Terbakar
Tulisan dari Slamet Purwanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di bawah tenda-tenda kaki lima yang dikepung jelaga kota, atau di dalam mangkuk-mangkuk plastik yang dipesan tergesa lewat aplikasi gawai, sebuah ritual katarsis sedang dirayakan secara riuh. Manusia modern sedang merayakan rasa sakit yang renyah. Kita telah sampai pada satu titik neurosis sensorik yang ganjil: kita merasa belum mencicipi kehidupan jika lidah ini belum terbakar. Kerupuk yang mulanya keras, sengaja direndam hingga layu, melunak dalam kuah merah kental yang mendidih bersama kencur yang menyengat dan gempuran cabai yang tak kenal ampun. Kita mengidap kegilaan rasa pada sepiring seblak—sebuah agresi gastronomi akut yang dengan keliru kita baptis sebagai "hiburan" atau "makanan penghilang stres".
Namun, mari kita tengok lebih jauh ke balik uap panas yang mengepul itu. Sensasi pedas yang meletup-letup di rongga mulut ini sesungguhnya adalah sebuah pelarian yang tragis. Kita sedang mengalami mati rasa eksistensial (existential numbness); kita sedang mengasingkan diri dari kelembutan rasa yang presisi. Kita memenuhi pencernaan kita dengan anestesi rasa—sensasi pedas yang menyiksa—agar kita tidak perlu merasakan kepedihan yang lebih purba di dalam jiwa: kekosongan, kesepian, dan kecemasan hidup yang tak kunjung selesai. Kita menciptakan bisingnya rasa di lidah demi membungkam keheningan yang menakutkan di dalam kepala.
Ketika Lidah Didikte Rasa Sakit dan Tubuh Menjadi Medan Tempur Dopamin Instan
Mengapa kepalsuan rasa yang bersembunyi di balik level-level pedas yang menyiksa ini begitu mengerikan? Karena ketika manusia hanya bisa merasa hidup lewat stimulasi yang ekstrem, ia kehilangan kepekaan terhadap keindahan yang subtil dan perlahan. Kita mulai mengomodifikasi tubuh sendiri menjadi mesin penguji rasa sakit, menimbang kebahagiaan dari seberapa tinggi level cabai yang sanggup kita taklukkan, atau seberapa banjir keringat yang mengucur dari dahi. Kita menukar kesehatan jangka panjang dan ketenangan pencernaan yang tak ternilai dengan kepuasan dopamin sesaat yang sebetulnya tak pernah menyembuhkan luka psikologis kita.
Dampak dari patologi sensorik ini merayap lambat namun mematikan. Ketika Anda terbiasa dengan hantaman rasa yang ekstrem, Anda akan kehilangan selera terhadap hal-hal yang tenang dan biasa. Maka jangan heran jika hari ini kita menyaksikan sebuah paradoks zaman: generasi yang begitu ekspresif di media sosial, namun begitu hampa di dunia nyata. Mereka membutuhkan stimulan yang makin hari makin keras untuk sekadar merasa "ada". Jiwa yang terbiasa dibakar oleh sensasi instan seblak akan menjadi tidak sabar dalam merajut proses hidup; semua harus serbapedas, serbacepat, dan langsung meledak di tempat.
Lebih jauh lagi, racun sensasionalisme ini meluber hingga merusak cara kita berinteraksi. Ketika lidah dan pikiran Anda hanya bisa merespons sesuatu yang ekstrem, empati Anda terhadap hal-hal kecil yang sunyi ikut menguap. Percakapan interpersonal yang mendalam, buku yang menuntut perenungan, atau pelukan yang membutuhkan keheningan, perlahan-lahan kita pandang sebagai sesuatu yang "hambar" dan membosankan. Kita telah berubah menjadi pencandu adrenalin rasa yang sukses memuaskan nafsu instan, namun bangkrut secara kedalaman emosi. Kita telah menumbalkan kepekaan batin demi validasi rasa yang merusak.
Menemukan Kembali Moderasi Rasa Melalui Kesadaran Mengecap dan Batas Diri
Menyembuhkan diri dari kutukan kecanduan sensasi ekstrem ini tidak menuntut kita untuk mengharamkan seblak dan bersumpah hanya memakan makanan hambar seumur hidup. Solusinya adalah sebuah dekonstruksi selera yang radikal—sebuah keberanian untuk menjahit kembali hubungan yang waras antara apa yang masuk ke mulut dan apa yang dirasakan oleh jiwa. Kita harus merebut kembali kedaulatan indra pengecap kita dengan menegakkan batas-batas rasa yang tak boleh ditawar.
Langkah pertama adalah dengan merayakan kembali "Sengaja Menakar" (Strategic Moderation)". Saat Anda berhadapan dengan semangkuk seblak, turunkan egomu untuk menaklukkan level tertinggi. Selipkan kesadaran di antara suapan-suapan Anda. Nikmatilah kencurnya yang menghangatkan secara perlahan, bukan cabainya yang membakar membabi buta. Makanlah tanpa dibarengi dengan menatap layar gawai. Duduklah dan biarkan diri Anda benar-benar mengecap, bukan sekadar menelan. Kehadiran utuh saat makan akan membuat Anda menyadari kapan tubuh berkata "cukup". Rasa yang moderat adalah rahim tempat apresiasi sejati terhadap kehidupan dilahirkan kembali.
Langkah kedua, ubahlah cara kita mengonsumsi emosi. Berhentilah mencari pelarian stres lewat siksaan fisik pada lambung, dan mulailah bertanya, "Kesedihan apa yang sedang berusaha aku bakar dengan rasa pedas ini?". Beranilah menarik garis demarkasi yang tegas antara mencari hiburan rasa dan merusak diri. Selesaikan masalah psikologis Anda di ruang refleksi, bukan di meja makan dengan menyiksa diri sendiri.
Pada akhirnya, prestasi tertinggi dari seorang manusia dalam menikmati hidangan bukanlah seberapa kebal ia terhadap siksaan rasa pedas atau seberapa viral makanan yang ia coba. Prestasi sejati adalah ketika Anda mampu menikmati dunia tanpa harus merusak bait-bait ketenangan di dalam tubuh Anda sendiri. Berhentilah menjadikan rasa pedas yang ekstrem sebagai tameng untuk menyembunyikan kerapuhan batin yang sepi. Mari pulang ke rasa yang jujur dan seimbang, sebab tubuh dan jiwa ini terlalu sakral jika hanya dihabiskan untuk membakar diri di dalam mangkuk peradaban yang tak pernah tahu kata reda.

