Cerita Umroh (12): Kubah Hijau Masjid Nabawi

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sugeng Winarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siang itu, dari kejauhan, kilauan Masjid Nabawi sudah terlihat. Bangunan megah dengan halaman luas dan payung-payung raksasa yang mekar seperti bunga itu membuat setiap langkah jamaah terasa ringan, seakan ada kekuatan yang menuntun.
Namun, di antara seluruh pesona Masjid Nabawi, ada satu titik yang menjadi magnet kami semua yakni Kubah Hijau.
Kubah yang berdiri anggun di atas makam Rosulullah SAW itu menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena warnanya yang berbeda, tetapi karena makna spiritual yang terkandung di baliknya.
Kubah hijau Masjid Nabawi merupakan penanda adanya makam Rosulullah SAW dan para sahabat di bagian bawahnya. Bagian bawah dari Kubah Hijau ini dahulu adalah rumah Rosulullah SAW dengan sang istri, Aisyah RA.
Kubah Hijau Masjid Nabawi berada persis di atas makam Rosulullah SAW dan para sahabat. Kubah ini berfungsi sebagai penutup ruang makam Rosulullah SAW.
Dengan adanya kubah hijau ini, umat Islam yang berada di sekitar Masjid Nabawi bisa langsung mengetahui area makam Rosulullah SAW. Kubah Hijau ini juga menjadi daya tarik bagi orang-orang yang melihat masjid dari kejauhan. Orang bisa langsung mengetahui posisi lokasi makam Rosulullah SAW dengan Kubah Hijau di atapnya.
Mata kami tertuju pada kubah berwarna hijau pekat yang tampak begitu meneduhkan.
Di tengah hiruk pikuk jamaah dari berbagai negara, mereka seperti larut dalam keheningan batin.
Kami semua sadar bahwa kubah Masjid Nabawi bukan sekadar kubah masjid biasa, tetapi sebuah penanda tempat suci yang menyimpan cinta dan kerinduan umat Islam sepanjang zaman.
Menurut sejumlah sumber, bahwa Kubah Hijau itu awalnya bukan hijau. Pada masa Sultan Qaitbay dari Mesir, tahun 1481 M, kubah dibangun untuk memperkokoh bangunan makam Rosulullah SAW. Kubah itu beberapa kali direnovasi, hingga pada masa Sultan Mahmud II dari Turki Utsmani, sekitar abad ke-19, kubah dicat dengan warna hijau. Sejak saat itu dikenal dengan nama Al-Qubbah al-Khadra, atau Kubah Hijau.
Saat malam hari, setelah shalat Isya, jamaah Mitra Umroh kembali keluar ke halaman masjid. Langit Madinah waktu itu sangat cerah dan cahaya lampu yang terpancar dari Masjid Nabawi membuat suasana terasa damai.
Kubah Hijau tampak bersinar lebih anggun, seakan memancarkan cahaya yang bukan hanya dari lampu, melainkan dari cinta dan doa jutaan umat yang datang silih berganti.
Jamaah duduk melingkar sambil bertasbih. Di antara mereka ada yang tak henti-hentinya menatap kubah itu.
Bagi jamaah Mitra Umroh, berdiri di bawah Kubah Hijau menjadi momen paling membekas sepanjang perjalanan. Banyak dari kami berdo’a dengan sungguh-sungguh, memohon ampun, memohon syafaat, dan menitipkan kerinduan yang selama ini terpendam.
Kubah Hijau bukan sekadar kubah arsitektur. Ia adalah simbol cinta yang abadi. Sejak berabad-abad lalu, kubah itu menjadi tanda bahwa di bawahnya terdapat makam manusia mulia, Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa cahaya Islam ke seluruh dunia.
Bagi jamaah Mitra Umroh, kubah ini adalah mercusuar kerinduan. Seperti laut yang selalu mencari pantai, hati kami semua pun selalu mencari rumah Nabi. Saat melihat Kubah Hijau, kami semua merasa panggilan itu telah dijawab.
Kubah Hijau Masjid Nabawi bukan hanya sekadar elemen arsitektur yang megah, tetapi juga memiliki sejarah panjang dan makna mendalam dalam Islam. Warna hijau yang dipilih menambah nuansa spiritual bagi setiap muslim yang mengunjungi Madinah.
Meskipun tidak bisa didekati langsung, keberadaan kubah ini tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi para jamaah yang datang untuk beribadah dan mengunjungi makam Rosulullah.
Kubah Hijau Masjid Nabawi adalah saksi bisu perjalanan sejarah Islam. Selain sebagai penanda makam Rosulullah, kubah ini juga menjadi simbol keagungan Masjid Nabawi dan kecintaan umat Muslim kepada Nabi Muhammad.
Cerita tentang Kubah Hijau Masjid Nabawi bagi jamaah Mitra Umroh bukanlah sekedar kisah perjalanan religi. Ia adalah pengalaman spiritual yang mempertemukan kerinduan panjang dengan kenyataan yang indah.
Kubah Hijau akan selalu menjadi saksi, bahwa cinta kepada Rosulullah SAW tidak pernah lekang oleh waktu.
Kini saat kami semua jamaah Mitra Umroh sudah di tanah air, setiap kali kami melihat gambar Kubah Hijau, hati kami semua akan kembali terbang ke Madinah, mengingat malam-malam penuh do’a, air mata, dan kerinduan yang tak pernah habis. (*)
(bersambung, ……….)
