Hustle Culture Membunuhmu Perlahan, dan Kamu Bahkan Bangga Melakukannya

Mahasiswi Akuntansi, Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sukma Fitri Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hustle culture sudah menjadi epidemi diam-diam yang menyerang generasi muda Indonesia. Bukan lebay. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menyebut angka yang mengejutkan: sekitar 83 persen pekerja di Indonesia mengalami gejala burnout. Bukan 8 persen. Bukan 18 persen. Delapan puluh tiga persen. Dan yang paling mengkhawatirkan, banyak dari mereka menganggap itu sebagai tanda kesuksesan.
Selama lima tahun terakhir, kita menyaksikan sebuah paradoks yang sungguh aneh: generasi yang paling vokal soal kesehatan mental justru paling getol meromantisasi kelelahan. "Rise and grind." "Sleep is for the weak." "Tidur bisa nanti, cuan dulu." Kalimat-kalimat itu viral di media sosial, disukai jutaan orang, dan diam-diam terinternalisasi sebagai standar baru definisi sukses.
Hustle Culture dan Ilusi Kesuksesan yang Dijual Medsos
Ada alasan mengapa hustle culture tumbuh subur di era media sosial. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Indrayanti, dalam risetnya pada 2023 menyoroti bagaimana unggahan prestasi di media sosial memicu mekanisme perbandingan diri yang konstan. Kita melihat teman seangkatan sudah jadi founder startup, influencer dengan penghasilan ratusan juta, atau profesional muda yang posting foto lembur jam 2 pagi seolah itu adalah lencana kehormatan.
Yang terjadi kemudian bukan motivasi, melainkan kecemasan. Penelitian Universitas Indonesia (2023) menemukan bahwa 45 persen Generasi Z mengalami kecemasan dan depresi yang berkaitan langsung dengan tekanan media sosial. Sementara survei Jakpat (2024) mengonfirmasi bahwa Generasi Z adalah kelompok paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan generasi mana pun sebelumnya.
Ironi terbesarnya: mereka yang paling tertekan itu justru adalah kelompok yang paling keras mendorong diri sendiri—bukan karena mereka ingin, tapi karena mereka merasa tidak punya pilihan lain.
Bukan Masalah Mental, Ini Juga Masalah Struktural
Kita terlalu mudah menyederhanakan hustle culture sebagai soal mentalitas. Padahal ada akar struktural yang sering luput dari percakapan.
Data GoodStats (2024) menunjukkan rata-rata pendapatan Gen Z di Indonesia berada di bawah Rp2,5 juta per bulan. Sementara BPS mencatat pengeluaran rata-rata warga Jakarta mencapai Rp14,88 juta per bulan. Selisihnya bukan lagi gap—itu jurang. Dan ketika jurang itu nyata, bekerja dua pekerjaan sekaligus, freelance sampai dini hari, atau mengorbankan waktu tidur bukan lagi pilihan ideologis—itu strategi bertahan hidup.
Riset Parlie dan Tarigan (2025) menemukan kecemasan finansial memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan Generasi Z. Ketakutan terhadap masa depan ekonomi mendorong mereka untuk bekerja berlebihan demi memperoleh rasa aman yang sebenarnya tidak pernah datang, hanya terus dikejar. Selain itu, Indonesia masih masuk daftar 20 negara dengan jam kerja terpanjang di dunia—sementara upah yang diterima jauh dari sebanding.
Dalam sistem seperti ini, siapa yang harus disalahkan: individu yang "terlalu lemah" untuk tidak burnout, atau sistemnya?
Ketika Tubuh Mulai Menyerah
WHO secara resmi mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena okupasional dalam ICD-11, dengan tiga ciri utama: kelelahan kronis yang tidak membaik meski sudah istirahat, sikap sinis dan menjauh dari pekerjaan, serta penurunan kinerja secara signifikan. Ini bukan sekadar "capek biasa."
Laporan SHRM 2025 yang dikutip Antara mencatat lebih dari 52 persen karyawan global mengalami burnout kronis, dan 4 dari 10 pekerja merasa pekerjaan mereka berdampak negatif pada kesehatan mental. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih buruk: survei Workplace Wellbeing Score Indonesia 2025 mencatat kesejahteraan mental pekerja tanah air berada di angka 50,98 persen—di bawah rata-rata global sebesar 58,62 persen.
Yang paling mengkhawatirkan: 91 persen Generasi Z dilaporkan kerap menghadapi tantangan kesehatan mental di lingkungan kerja, dan 35 persen di antaranya mengalami depresi. Burnout kronis juga meningkatkan risiko depresi hingga tiga kali lipat dan memicu gangguan fisik seperti penyakit jantung.
Tubuh Melawan dengan Caranya Sendiri
Menariknya, generasi ini punya cara melawannya—meski bukan dengan cara yang diinginkan perusahaan.
Quiet quitting, fenomena di mana pekerja hanya mengerjakan tugas sesuai deskripsi pekerjaan tanpa lebih, mulai marak sejak 2022 dan kini sudah merambah Indonesia. Ini bukan kemalasan. Ini adalah perlawanan diam-diam terhadap kultur yang meminta segalanya tanpa imbal balik yang setara. Sementara di sisi lain, slow living—gaya hidup yang menolak glorifikasi kesibukan—mulai mendapat pengikut yang semakin banyak di kalangan anak muda urban.
Tanda-tandanya ada di mana-mana: akun media sosial yang memposting konten "deinfluencing" produktivitas, komunitas yang merayakan istirahat sebagai pencapaian, hingga percakapan soal work-life balance yang kini jauh lebih terbuka dari sebelumnya.
Lalu, Apa Solusinya?
Psikolog klinis yang diwawancarai Antara pada Mei 2026 menyatakan dengan tegas: healing atau liburan tidak cukup untuk menyelesaikan akar masalahnya jika sumber stres utama—lingkungan kerja toksik atau tidak adanya batasan kerja yang sehat—tetap tidak berubah.
Perubahan harus terjadi di dua level. Pertama, struktural: regulasi jam kerja yang dipatuhi, upah yang layak, dan jaminan kesehatan mental sebagai bagian dari hak pekerja—bukan kemewahan. Kemenkes sendiri sudah mulai mendorong skrining psikososial dalam program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Langkah yang terlambat, tapi tetap lebih baik dari tidak sama sekali.
Kedua, kultural: kita perlu berhenti meromantisasi kelelahan. Berhenti menganggap orang yang berani istirahat sebagai pemalas. Berhenti mengukur nilai seseorang dari seberapa sibuk jadwalnya.
Sukses yang membuatmu sakit bukan lagi sukses. Itu hanya kelelahan yang diberi nama yang berbeda.
Penulis adalah pemerhati isu ketenagakerjaan dan kesehatan mental generasi muda.
