Kumparan Logo
Crystal Palace vs Brighton
Wilfried Zaha mencetak gol ke gawang Brighton.

Karena Wilfried Zaha Ingin Dimengerti

Supersoccer

Supersoccerverified-green

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

comment
67
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wilfried Zaha mencetak gol ke gawang Brighton. Foto: REUTERS/David Klein
zoom-in-whitePerbesar
Wilfried Zaha mencetak gol ke gawang Brighton. Foto: REUTERS/David Klein

Wilfried Zaha menjadi pahlawan Crystal Palace dalam laga pekan ke-17 Premier League 2019/20 kontra Brighton and Hove Albion. Winger 27 tahun itu mencetak gol penyama kedudukan di menit 76. Laga di Selhurst Park itu pun berakhir imbang 1-1, tuan rumah batal kehilangan muka.

Zaha memang telah menjadi andalan The Eagles sejak 2014/15. Bahkan sebelumnya, pesepak bola Pantai Gading ini pernah membela Palace pada periode 2009/10 hingga 2012/13, kala klub asal London itu masih berkutat di kompetisi level kedua.

Selebrasi Wilfried Zaha mencetak gol ke gawang Brighton. Foto: REUTERS/David Klein

Pada transfer musim panas lalu, Zaha bahkan santer dikabarkan diincar oleh klub lain. Salah satunya, Arsenal. Sejumlah media, termasuk The Independent, menyebut sosok yang juga sempat membela Timnas Inggris itu memiliki nilai jual hingga 80 juta poundsterling.

Banyak yang sangsi dengan harganya yang begitu tinggi. Keraguan banyak orang terhadap dirinya tak pelak membikin Zaha resah. Menurutnya, masih banyak orang yang tak mengerti kualitasnya.

"Aku tidak bisa seenaknya berharap semua orang menyukaiku. Namun pada saat yang sama, aku akan senang jika orang-orang sudi meluangkan waktu untuk memahami diriku," ujarnya kepada The Independent.

Wajar jika ada pihak-pihak yang meragukan dirinya. Sebab, Zaha punya 'riwayat gagal' di Manchester United (2013-2015) --klub yang dianggap besar dan memiliki sejarah panjang. Itu menjadi noda dalam kariernya.

Wiflried Zaha (kiri) dan Aaron Wan-Bissaka (Manchester United) memperebutkan bola. Foto: Reuters/Matthew Childs

Selain itu, Zaha sebenarnya telah menjadi pusat perhatian sejak lama, sedari masih belia. Namun tak jarang, 'perhatian' itu berbentuk sesuatu yang bersifat negatif.

“Anda berurusan dengan banyak hal tidak penting di sepak bola,” kata Zaha.

"Kamu datang dari nol, kamu bekerja keras sampai ke puncak dan kamu berpikir, 'Aku akhirnya mencapai panggung luar biasa yang kuimpikan di sepanjang hidupku'. Lalu kamu sadar bahwa kamu masih menemukan caci maki, dalam segala hal, [sesuatu yang enggak kamu perkirakan]," ungkapnya.

Wilfried Zaha. Foto: Reuters/Suhaib Salem

Pada awalnya, Zaha merasa tidak punya banyak pilihan selain menerima segala cacian itu. Pesepak bola kelahiran Abidjan itu menganggap pelecehan yang diterimanya hanyalah sesuatu yang berjalan seiring dengan kesuksesan.

Namun, seiring berjalannya waktu, Zaha gerah juga. Caci maki yang ditujukan padanya terus menggerogoti dirinya, bahkan mencuri kesenangannya dalam bermain sepak bola.

kumparan post embed

"Aku berharap bisa lebih vokal ketika masih muda dulu karena aku membiarkan banyak hal terjadi begitu saja," katanya.

“Ketika awal mulai berkarier, aku tidak pernah bisa mengerti kenapa saya sering mendapat pelecehan. Jelas, sepanjang waktu, kau harus memiliki kulit yang tebal dan berpikir, 'Aku tidak peduli jika orang tidak menyukaiku'," lanjutnya.

"Namun, alangkah lebih baiknya jika mereka mau sejenak mengenal diriku yang sebenarnya. Banyak hal dari diriku yang banyak orang enggak tahu,” harapnya.

Fanatisme tampaknya menjadi pangkal masalahnya. Sosok yang menghabiskan masa kecilnya di Croydon, London Selatan, ini resah dengan mentalitas manusia macam 'Kalau lu adalah pemain dari klub lawan, maka artinya lu musuh gua, gua benci sama lu. Titik'.

kumparan post embed

"Sekarang aku hanya bilang ke diri sendiri untuk fokus pada apa yang bisa dikontrol dan tidak merasa jengkel dan frustrasi tentang hal-hal di luar itu," ungkapnya.

Well, mirip-mirip seperti yang ditulis Mark Manson dalam bukunya, The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Hidup ini terlalu singkat jika terlalu banyak mendengarkan bacotan orang.

"Kedewasaan adalah ketika seseorang belajar untuk hanya peduli terhadap hal yang benar-benar layak dipedulikan."

-Mark Ranson

"Itu sebabnya aku kembali menikmati sepak bola. Aku tidak bisa mengendalikan apa yang akan kalian mau lakukan, apa yang orang lain akan melakukannya, aku hanya harus fokus pada diri sendiri," tegasnya.

Well, pada akhirnya, surgaku belum tentu jadi surgamu. Nerakamu pun belum tentu jadi nerakaku.

Wilfred Zaha jadi pahlawan Palace. Foto: Reuters/Tony O'Brien

Kini, Zaha benar-benar ingin fokus terus menaikkan performanya. Dia sangat bersyukur bisa mewujudkan impiannya menjadi pesepak bola profesional.

Mungkin itu juga salah satu alasan Zaha tidak menyerah dengan sepak bola. Di saat teman-teman seperjuangannya dulu gagal, tidak mendapat kesempatan, tetapi dia mampu bersinar terang. Sesuatu yang haram untuk disia-siakan.

“Aku mungkin masih 27 tahun, [tapi] aku merasa seperti telah bermain sepak bola selamanya. Namun, masih ada lagi yang akan datang. Aku masih memahami diriku sendiri," pungkasnya.

Editor: Katondio Bayumitra Wedya

---

Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.

collection embed figure