Laszlo Kubala: Legenda Barcelona yang Selamat dari Tragedi Superga Grande Torino

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di kompleks stadion Camp Nou, ada sebuah patung manusia yang didesain dalam pose sedang mengambil ancang-ancang untuk menendang bola. Asal tahu saja, itu adalah patung Laszlo Kubala, penyerang legendaris Barcelona.
Sosok kelahiran Budapest, Hungaria, itu memperkuat Blaugrana selama 1951-1961. Berkat kepiawaiannya membobol gawang lawan, Barcelona berhasil menggondol empat trofi La Liga dan 10 trofi juara lainnya.
Tak khayal, Kubala diakui sebagai legenda besar klub berjersi khas warna biru-merah itu, meski dia juga sempat membela rival sekota, RCD Espanyol. Di level internasional, dirinya pernah membela Timnas Cekoslowakia, Hungaria, Spanyol, hingga Catalunya. Zaman dulu bisa begitu, bos.
Well, tetapi ada sebuah insiden yang nyaris membuatnya tak bakal dikenang banyak orang hingga sekarang. Itu adalah tragedi kecelakaan pesawat Superga yang menewaskan skuat Grande Torino.
Kubala tidak pernah membela Torino. Namun, klub asal Turin itu mengundang Kubala untuk memperkuat tim mereka yang hendak melakoni laga testimonial untuk Francisco Ferreira kontra Benfica di Lisbon, Portugal.
Sebenarnya, pemain yang kala itu membela klub Italia, Pro Patria, tersebut menerima tawaran tersebut. Akan tetapi, berdasarkan cerita yang ditulis Alex Leonard dalam kolomnya di These Football Times, pada saat mau berangkat, Kubala mendapati anaknya yang berusia sekitar satu tahun, Branko, sakit parah.
Apa boleh bikin? Namanya juga anak sendiri, kan? Alhasil, jadilah dia tidak berangkat ke Portugal dan menetap di 'Negeri Pizza' demi merawat putranya.
Dan ternyata, musibah 'kecil' itu menjadi semacam pertolongan Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya. Sebab, meski jalannya laga Benfica vs Torino itu berjalan lancar, terjadi tragedi maut yang menimpa skuat Il Toro di perjalanan pulang ke Italia.
Pesawat The Avio Linee Italiane tipe Fiat G.212 CP yang mengangkut anak asuh Leslie Lievesley itu menabrak dinding penahan di belakang bangunan Basilika Superga. Tidak ada yang selamat karenanya.
Tercatat, 4 kru pesawat, 3 jurnalis, 3 klub ofisial, 3 staf pelatih (termasuk Lievesley), dan 18 pemain Grande Torino tewas. Tanggal kejadiannya adalah 4 Mei 1949. Akhir yang nahas untuk sebuah generasi emas.
Andai Kubala ada di pesawat itu, maka kemungkinan besar dia tidak akan pernah sempat membela Barcelona dan klub-klub lain setelah kariernya di Pro Patria. Tidak ada akan patungnya di Camp Nou.
Andai dia naik pesawat itu, tanggal peringatan kematiannya pun bisa jadi bukan 17 Mei, melainkan 4 Mei. Ya, pria yang lahir pada 10 Juni 1927 itu telah wafat pada 17 Mei 2002, tepat 18 tahun silam.
Tampaknya, dia memang ditakdirkan menutup mata untuk selama-lamanya di Kota Barcelona--tempat di mana dia mengukir tinta emas kariernya--, bukan di Bukit Superga, Italia.
Kisah yang mirip seperti ini pernah menimpa Christian Panucci, eks bek AC Milan. Kalau mau tahu kisahnya, silakan cek pada stori di bawah ini.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
----
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi 1 unit SmartTV dan 2 Jersi Original klub Liga Inggris. Buruan daftar di sini.
