Dalam Dekap Cahaya: Tentang Imajinasi Mengejar Mimpi & Ikhtiar Menabur Inspirasi

X Cekgu II Suami penuh waktu dan penulis paruh waktu II Menulis buku, diantaranya: UN, The End... dan Suara Guru Suara Tuhan II Ketua Umum PTIC DKI 2021/2026 II Bergiat di Univ. Trilogi - Center for Teacher Mind Transformation (CTMT) FKIP Univ. Riau
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syafbrani ZA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul Buku : Dalam Dekap Cahaya: Story of My Life
Penulis : L.N Firdaus (Guru Besar FKIP Universitas Riau)
Penerbit : Taman Karya
ISBN : 978-623-325-832-6
Tanggal Terbit : 1 Oktober 2025 (cetakan ke-1)
Jumlah hal. : XXIII + 100 halaman
“Makna hidup anda adalah membantu orang lain menemukan makna hidup mereka…”
Kata bijak dari penulis salah satu buku terlaris di dunia dan sekaligus seorang yang selamat dari tragedi holocaust, Viktor E. Frankl menjadi menjadi salah satu highlight yang disematkan dalam buku Dalam Dekap Cahaya: Story of My Life karya Prof. L.N. Firdaus ini. Selain memang menjadi ciri khas dalam setiap bukunya, yang sering menukil kalimat-kalimat inspiratif dan sarat makna, maka dalam buku terbarunya ini penulis sejatinya ingin menabur inspirasi dan makna kehidupan melalui jejak-jejak perjalanannya sendiri. Membantu pembaca untuk menemukan inspirasi dan makna hidupnya.
Sejak bertahun lamanya dunia kampus sering diingatkan agar tidak menjadi menara gading yang membuat masyarakat sekitar terisolasi. Akhirnya dengan semangat menghidupkan kembali suluh-suluh keilmuan yang menyalakan dampak bagi masyarakat luas, belakangan kita kemudian dikenalkan dengan istilah #KampusBerdampak.
Tapi, jauh sebelum semangat kampus berdampak ini digaungkan dan walaupun dalam kesunyian tanpa beragam liputan media, Prof. L.N Firdaus sebagai salah satu akademisi yang telah mewakafkan diri di dunia pendidikan (tinggi) sepertinya telah lebih dahulu menyulut dampak-dampak itu, . Persis pertama kali ketika beliau didapuk menjadi pengajar di salah satu PTN terbaik yang berada di sumatera, yakni Universitas Riau pada 1 Maret 1989 silam.
Ketika diangkat menjadi pengajar, beliau menyadari bahwa tugasnya bukan sekedar mengajar. Baginya dengan mengajar berarti telah diamanahkan untuk membentuk manusia yang merupakan generasi baru yang akan menjadi pemikul masa depan bangsa. Filosofi dirinya dalam mengajar juga bukan sekedar memberikan jawaban kepada peserta didik, tetapi bagaimana mampu menyalakan pertanyaan. Dampaknya? Walaupun hampir semua mahasiswa yang telah ditakdirkan diajari beliau akan memberikan kesan bahwa beliau dosen ‘killer’, tetapi hampir semua mahasiswa itu juga telah memberi kesaksian atas inspirasi yang diberikannya.
Ketegasan dan semangat untuk mengajar dengan tidak basa-basi alias alakadar ini dilakukannya tidak lain karena satu tujuan: melahirkan daya juang untuk melangkah lebih jauh (halaman 46-47).
Melalui buku autobiografi yang terdiri dari 100 halaman ini, kita tidak hanya menemukan bagaimana Prof. L.N Firdaus melakukan injeksi nilai-nilai kehidupan yang kemudian memberikan dampak bagi mahasiswanya untuk melejitkan potensi. Di luar itu, guru besar FKIP Universitas Riau ini juga selalu menjadi ‘penyala’ bagi masyarakat di luar lingkungan kampus. Berbagai kalangan yang telah mendapatkan asupan berupa nutrisi-nutrisi keilmuan darinya. Mulai dari ruang seminar, workshop, pelatihan, maupun dalam agenda ‘bual-bual’ informal. Semua ini dilakukanya tidak lain karena baginya pendidikan bukan sekedar memberi, tapi membekali (halaman 48).
Tidak hanya ingin memberikan dampak, banyak inspirasi yang bisa didapatkan dari setiap tapak-tapak kehidupan yang dijalaninya. Diantaranya adalah bagaimana Prof. L.N Firdaus menarasikan perjalanan hidupnya sebagai from zero to hero. Beliau tumbuh dari kecil sampai ke jenjang pendidikan tinggi (S1) tidak pernah lepas dari cengkraman status sosial yang dilabel oleh dunia ini dengan nama miskin, pra sejahtera atau sejenisnya. Akan tetapi dengan semangatnya untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan, semua dilaluinya dengan gigih hingga akhirnya dengan do'a dan usaha yang dilakukan secara konsisten mengantarkannya untuk studi lanjut di kampus top Indonesia (S2) serta di perguruan tinggi dunia tepatnya di Prancis (S3), bahkan sampai akhirnya meraih gelar Guru Besar di usia yang relatif muda.
Sajian kronologis dan historis pengalaman hidupnya ini terdapat dalam Bab. 1 sampai dengan Bab. 3. Ketika membaca tiga bagian ini kita juga akan menemukan sebuah kesaksian hidup penulisnya sebelum bertransformasi secara legal dan substansial sebagai L.N Firdaus. Nama yang akhirnya tidak hanya menjadi nama resmi namun juga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pencahariannya untuk mendekap cahaya. Secara bahasa filosofis hal ini disampaikannya dalam bagian prolog: “...dari jejak sebagai anak keturunan Tionghoa yang hidup di tengah transformasi sosial-budaya, sehingga berhijrah secara spiritual dan intelektual.”
Membaca buku sosok yang sejak kecil dan sampai sekarang juga dikenal dengan nama ‘A Heng’ ini tidak akan membuat kita meyakini pepatah arab man jadda wa jadda itu benar adanya. Lebih dari itu adalah bagaimana kita bisa menjalani hidup ini lebih bermakna tidak hanya untuk diri, namun juga sekaligus untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan bahkan dunia.
Melalui buku ini pembaca tidak hanya disuguhkan tentang kebaikan, tentang ketenaran dan tentang kejayaan. Apapun rupa profesi kita saat ini, penulis secara tidak langsung sepertinya juga ingin mengajak pembaca untuk kembali memperkuat pendidikan karakter yang sudah semakin krisis dalam kehidupan sehari-hari. Persis seperti apa yang pernah disampaikan Bung Hatta hampir 70 tahun lalu “Pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan berani mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar.”
Walaupun banyak testimoni positif tentangnya, termasuk mengenai integritas dirinya yang diakui hampir semua kalangan. Akan tetapi sadar akan dirinya adalah seorang hamba Allah di muka bumi ini, Prof. L.N Firdaus tidak lupa menjelaskan tentang fitrah dirinya sebagai manusia itu sendiri. Ritme kehidupan sehari-hari sebagai manusia pada umumnya tersebut juga tercurahkan pada salah satu bagian di buku ini (Bab. 7)
Buku ini cocok untuk dijadikan bahan bacaan bagi siapapun yang ingin belajar tentang makna kehidupan dari seorang yang lahir di pulau kecil, yakni Pulau Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Buku ini juga sangat tepat untuk dijadikan sebagai motivasi bagi para pelajar/mahasiswa untuk melecutkan semangatnya di tengah terpaan krisis mental akibat daya tarik kehidupan sosial media yang semakin ambyar.
*Penulis adalah pegiat literasi asal Singkep, sehari-hari menjadi penulis paruh waktu dan ayah penuh waktu
