Konten dari Pengguna

Derrida di Pesisir Aceh

Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu

Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra indonesia, universitas syiah kuala

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarifudin Brutu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dekonstruksi Oposisi Biner dan Hegemoni Metafisika dalam Folklor Banta Berensyah

Ilustrasi folklor Banta Brensyah. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi folklor Banta Brensyah. Foto: Generated by AI

Oleh: Syarifudin Brutu, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala.

Dalam diskursus sastra lisan Nusantara, khususnya di Aceh, dongeng sering kali diposisikan sebagai instrumen didaktis yang statis. Kita terbiasa menerima narasi Banta Berensyah sebagai dogma moralitas: sebuah pertarungan antara kebajikan (virtue) yang direpresentasikan oleh Banta, melawan kejahatan (vice) yang dipersonifikasikan oleh Jakub. Namun, melalui kacamata dekonstruksi Jacques Derrida, struktur ini menyimpan retakan-retakan ideologis yang patut dibongkar.

Dekonstruksi tidak bekerja untuk menghancurkan makna, melainkan untuk menyingkap bagaimana sebuah teks membangun otoritasnya di atas penindasan makna lain. Dalam "Banta Berensyah", otoritas itu dibangun di atas pemujaan terhadap "nasib" yang secara sistematis meminggirkan "akal".

Meruntuhkan Oposisi Biner: Pahlawan yang Pasif vs Antagonis yang Aktif

Sastra tradisional cenderung membangun oposisi biner yang timpang: Protagonis/Antagonis, Sabar/Kikir, Ilahi/Duniawi. Banta Berensyah diletakkan pada posisi pertama yang dianggap lebih tinggi. Namun, jika kita telusuri secara tekstual, Banta adalah subjek yang "kosong". Ia tidak memiliki agensi; ia tidak memenangkan apa pun melalui kemampuannya sendiri.

Kemenangan Banta adalah hasil dari intervensi luar biasa—daun talas yang melawan hukum fisika dan burung elang yang berfungsi sebagai deus ex machina. Sebaliknya, Jakub adalah sosok yang memiliki agensi penuh. Ia merencanakan, ia berlayar dengan risiko maut, dan ia bernegosiasi dengan realitas pasar. Dekonstruksi memperlihatkan sebuah ironi: teks ini memuja kepasifan yang dibantu keajaiban dan mengutuk aktivitas yang mengandalkan rasionalitas.

Kritik terhadap Logosentrisme dan "Suara Langit"

Derrida mengkritik Logosentrisme, yaitu kecenderungan untuk mencari "pusat makna" atau kebenaran absolut yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam cerita ini, suara burung elang di akhir pesta adalah simbol "Logos". Ketika elang berteriak, seluruh dialektika berhenti. Jakub tidak diberi ruang untuk melakukan pembelaan hukum, meskipun secara teknis ia adalah orang yang membawa komoditas (kain emas) melintasi samudra.

Suara elang berfungsi sebagai alat sensor naratif. Ia hadir untuk menutup celah logika yang mungkin muncul di benak audiens: Bukankah Jakub yang mempertaruhkan nyawanya di laut untuk membawa kain itu ke istana? Dengan menghadirkan suara langit, teks tersebut memaksa pembaca untuk berhenti berpikir rasional dan kembali tunduk pada otoritas mistis. Jakub tidak dihukum karena ia "jahat" dalam pengertian kriminal murni, melainkan karena ia mencoba melampaui garis takdir yang sudah ditentukan oleh narasi tersebut.

Jakub sebagai "The Other": Manifestasi Meritokrasi yang Terasing

Dalam sosiologi masyarakat pesisir yang dinamis, sosok Jakub sebenarnya adalah prototipe dari Homo Economicus—manusia ekonomi yang memahami hukum pertukaran. Pernyataannya bahwa rezeki harus dijemput dengan "urat leher" adalah manifestasi dari etos kerja meritokratis. Namun, teks dongeng ini melakukan marginalisasi terhadap pemikiran tersebut.

Jakub dijadikan "Yang Lain" (The Other) agar nilai-nilai komunal-mistis masyarakat saat itu tetap terjaga. Kematian Jakub yang jatuh tersungkur saat mencoba melompat dari jendela istana adalah simbol dari kegagalan logika manusia saat berhadapan dengan tembok tebal dogma magis. Ia jatuh bukan karena ia lemah, tetapi karena struktur dunia dalam dongeng tersebut memang dirancang untuk menghancurkannya.

Différance: Menangguhkan Kebenaran Tunggal

Konsep Différance Derrida mengajarkan bahwa makna selalu tertunda dan tidak pernah tunggal. Jika kita menangguhkan vonis "jahat" pada Jakub, kita akan melihat seorang paman yang mungkin frustrasi karena keponakannya memilih jalan "keajaiban" daripada jalan "usaha". Jakub adalah representasi dari tegangan antara modernitas (rasionalitas) dan tradisionalisme (fatalisme).

Membaca ulang Banta Berensyah secara dekonstruktif memungkinkan kita untuk melihat bahwa tidak ada pahlawan yang sepenuhnya murni dan tidak ada penjahat yang sepenuhnya tanpa dasar logika. Keadilan puitis yang menewaskan Jakub sebenarnya adalah bentuk ketidakadilan intelektual; sebuah pembungkaman terhadap mereka yang berani mengandalkan akal di tengah masyarakat yang memuja mukjizat tanpa usaha.

Relevansi Kritik Sastra bagi Literasi Modern

Mendekonstruksi folklor bukan berarti kita kehilangan kecintaan terhadap budaya lokal. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk mematangkan cara kita berpikir. Sebagai masyarakat yang sedang bergerak menuju modernitas, kita harus mampu melihat bahwa nilai-nilai seperti "kesabaran" Banta tidak boleh disalahartikan sebagai "kepasifan", dan "perhitungan" Jakub tidak boleh selalu distigmatisasi sebagai "kekikiran".

Kisah Banta Berensyah, melalui kacamata ini, bukan lagi sekadar dongeng sebelum tidur bagi anak-anak, melainkan sebuah medan pertempuran filosofis tentang bagaimana manusia memandang kerja keras, nasib, dan keadilan di bawah bayang-bayang kekuasaan yang absolut.

Sumber Referensi dan Objek Kajian:

  • Sumber Primer: Teks narasi Banta Berensyah melalui dokumentasi digital: Dongeng Kak Rico - Cerita Rakyat Banta Berensyah.

  • Kerangka Teoretis: Derrida, Jacques. (1967). Of Grammatology.

  • Kajian Sastra Lisan Aceh: Analisis Folklor dan Sosiologi Sastra.