Perjalanan Di Balik Data Sensus Ekonomi
Tulisan dari Zulfikar Amar Maruf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik data yang tersusun rapi dalam sebuah sensus, ada cerita panjang para petugas yang bekerja di lapangan. Ada perjalanan dari satu rumah ke rumah lainnya, ada pintu yang terbuka dan tertutup, ada warga yang menyambut dengan ramah, tetapi tidak sedikit pula yang menolak karena berbagai kekhawatiran.
Bagi Zulfikar Amar Maruf, menjadi petugas Sensus Ekonomi 2026 adalah pengalaman yang tidak hanya mengajarkan tentang pendataan, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, dan bagaimana menghadapi beragam karakter masyarakat.
Perjalanan itu bermula ketika Zulfikar mengikuti pelatihan selama tiga hari di sebuah hotel di kawasan Bogor. Pelatihan tersebut menjadi bekal awal sebelum dirinya benar-benar terjun ke lapangan.
Bersama para petugas lainnya, ia mendapatkan pembekalan mengenai teknis pendataan, prosedur pelaksanaan sensus, serta berbagai hal yang perlu diperhatikan ketika berhadapan langsung dengan masyarakat.
Tiga hari berada di ruang pelatihan menjadi awal sebelum menghadapi situasi sebenarnya.
Setelah pelatihan selesai, Zulfikar mendapatkan penugasan di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat.
Di sanalah cerita sesungguhnya dimulai.
Pada awal pendataan, Zulfikar mendapatkan sekitar 750 data keluarga dan usaha yang menjadi daftar awal atau prelist. Jumlah tersebut menjadi acuan dalam menjalankan tugasnya di lapangan.
Namun, setelah mulai mendatangi lokasi satu per satu, kondisi yang ditemui ternyata tidak selalu sama dengan data yang tersedia.
Ada warga yang tinggal di wilayah tersebut tetapi belum tercantum dalam data awal. Ada pula data yang harus ditindaklanjuti setelah ditemukan kondisi berbeda di lapangan.
Temuan-temuan tersebut kemudian membuat assignment baru terus bertambah.
Jika pada awalnya Zulfikar memiliki sekitar 750 data keluarga dan usaha, kenyataan di lapangan membuat jumlah pendataan berkembang hingga kurang lebih 900 data keluarga dan usaha.
Artinya, ada sekitar 150 data tambahan yang harus ditangani selama proses pendataan.
Bagi Zulfikar, angka tersebut bukan sekadar angka.
Setiap tambahan data berarti ada alamat yang harus didatangi, ada warga yang harus ditemui, ada pertanyaan yang harus diajukan, dan ada waktu tambahan yang harus disediakan.
Pekerjaan yang terlihat sederhana dari luar ternyata membutuhkan tenaga dan kesabaran yang tidak sedikit.
Tidak semua warga langsung menerima
Tantangan berikutnya datang dari masyarakat.
Ketika mendatangi warga, Zulfikar tidak selalu mendapatkan sambutan seperti yang diharapkan. Ada masyarakat yang menerima dan bersedia memberikan informasi, tetapi ada pula yang langsung menolak ketika mengetahui bahwa dirinya sedang menjalankan tugas sensus.
Salah satu alasan penolakan yang cukup sering ditemui adalah anggapan bahwa pendataan tersebut berkaitan dengan pajak.
Ada warga yang mengira kedatangan petugas bertujuan untuk menaikkan pajak. Ada pula yang menduga bahwa sensus dilakukan untuk mencari wajib pajak baru.
Kesalahpahaman tersebut membuat proses pendataan menjadi lebih panjang.
Zulfikar tidak bisa langsung melanjutkan pertanyaan ketika warga masih merasa khawatir. Ia harus terlebih dahulu menjelaskan tujuan sebenarnya dari pendataan.
Penjelasan mengenai sensus pun terkadang membutuhkan waktu yang cukup lama.
Alih-alih langsung mendata, Zulfikar harus lebih dahulu membangun kepercayaan dengan warga. Ia menjelaskan bahwa kedatangannya merupakan bagian dari pelaksanaan sensus dan bukan untuk menentukan atau menaikkan kewajiban pajak warga.
Selain persoalan pajak, terdapat pula warga yang menghubungkan pendataan dengan desil.
Sebagian warga khawatir data yang diberikan akan membuat desil mereka berubah atau berdampak pada status mereka dalam data sosial ekonomi.
Kondisi tersebut kembali membuat Zulfikar harus memberikan penjelasan.
Tidak jarang, waktu yang digunakan untuk menjelaskan tujuan sensus justru lebih lama dibandingkan waktu yang diperlukan untuk melakukan pendataan.
Namun, itulah kenyataan yang harus dihadapi seorang petugas di lapangan.
Dari penolakan hingga keramahan warga
Jika penolakan menjadi salah satu pengalaman yang cukup melelahkan, ada pula pengalaman lain yang justru memberikan semangat.
Tidak sedikit warga yang menyambut Zulfikar dengan ramah setelah mengetahui maksud kedatangannya.
Beberapa warga bahkan memberikan minuman atau snack ketika ia sedang melakukan pendataan.
Bagi sebagian orang, memberikan segelas minuman atau makanan ringan mungkin merupakan hal sederhana.
Namun bagi petugas yang seharian berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lainnya, pemberian kecil tersebut bisa menjadi penyemangat tersendiri.
Di tengah rasa lelah setelah berjalan dan mendatangi banyak rumah, keramahan warga membuat pekerjaan terasa sedikit lebih ringan.
Momen seperti itu pula yang membuat pengalaman menjadi petugas sensus tidak hanya tentang angka dan data.
Ada percakapan singkat dengan warga, ada tawa, ada penolakan, ada penjelasan yang harus diulang, ada pula kebaikan sederhana dari warga yang mungkin tidak akan pernah tercatat dalam laporan pendataan, tetapi justru menjadi kenangan bagi petugas.
750 data berkembang menjadi sekitar 900
Semakin jauh proses pendataan berjalan, semakin terlihat bahwa kondisi di lapangan memang berbeda dengan data awal.
Dari sekitar 750 data keluarga dan usaha yang diterima pada awal penugasan, Zulfikar akhirnya harus menangani kurang lebih 900 data.
Penambahan tersebut terjadi setelah ditemukan warga dan usaha yang belum tercantum dalam data awal sehingga muncul assignment tambahan.
Kondisi tersebut membuat pekerjaan Zulfikar menjadi lebih panjang dari perkiraan awal.
Selain menyelesaikan data yang sudah tersedia, ia juga harus menindaklanjuti data baru yang ditemukan selama berada di lapangan.
Setiap tambahan assignment berarti tambahan waktu dan tenaga.
Belum lagi jika warga yang harus didata tidak berada di tempat, sulit ditemui, atau membutuhkan penjelasan lebih dahulu sebelum bersedia memberikan informasi.
Karena itu, pekerjaan sebagai petugas sensus tidak selalu bisa selesai hanya dengan mengikuti daftar yang sudah diberikan.
Data awal menjadi titik awal.
Selebihnya, kondisi nyata di lapangan yang menentukan seberapa panjang perjalanan seorang petugas.
Ketika masa pendataan diperpanjang
Memasuki akhir periode pendataan, pekerjaan Zulfikar belum sepenuhnya selesai.
Berbagai kendala yang ditemui selama berada di lapangan, termasuk penambahan assignment dan proses meyakinkan warga yang masih ragu, membuat pekerjaan membutuhkan waktu lebih panjang.
Periode pendataan kemudian diperpanjang hingga 15 September 2026.
Bagi Zulfikar, perpanjangan tersebut berarti kembali melanjutkan pekerjaan di lapangan.
Kembali mendatangi warga, kembali mencari data yang belum selesai, kembali menjelaskan tujuan sensus kepada masyarakat yang masih memiliki kekhawatiran.
Jika dilihat dari luar, perpanjangan waktu mungkin hanya terlihat sebagai tambahan beberapa hari dalam kalender. Tetapi bagi petugas lapangan, tambahan waktu berarti tambahan perjalanan, tambahan tenaga, dan tambahan waktu yang harus diberikan untuk menyelesaikan tanggung jawab.
Setelah semua selesai
Setelah seluruh proses pendataan berakhir, masih ada satu hal yang menurut Zulfikar belum selesai.
Hingga saat ini, Zulfikar mengaku belum menerima pembayaran atas tugas yang telah dijalankannya sebagai petugas Sensus Ekonomi 2026 dari BPS.
Bagi seorang petugas yang telah menyelesaikan seluruh pekerjaan, menempuh perjalanan dari rumah ke rumah, menghadapi berbagai respons masyarakat, menangani penambahan assignment, hingga mengikuti perpanjangan periode pendataan, tentu ada harapan agar hak atas pekerjaan tersebut juga segera diterima.
Namun, terlepas dari persoalan tersebut, pengalaman menjadi petugas sensus telah memberikan cerita tersendiri bagi Zulfikar.
Ia belajar bahwa pekerjaan di lapangan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana.
Ia belajar bahwa data awal belum tentu menggambarkan seluruh kondisi yang akan ditemukan.
Ia belajar bahwa satu penolakan tidak selalu berarti pekerjaan harus berhenti.
Kadang, yang dibutuhkan hanyalah penjelasan dan kesabaran.
Ia juga belajar bahwa di tengah berbagai kesulitan, selalu ada kebaikan-kebaikan kecil yang membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Pada akhirnya, ketika tugas telah selesai, yang dibawa pulang bukan hanya pengalaman bekerja sebagai petugas Sensus Ekonomi 2026.
Ada pula segudang kenangan dari setiap pintu yang pernah diketuk dan setiap warga yang pernah ditemui.
Karena di balik data sensus, selalu ada cerita manusia yang ikut membentuknya.

