Iklim Berubah, Apakah Mengancam Kesehatan Kita?

Praktisi Kesehatan Masyarakat, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM, Co-Founder Nata Hirup Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rifqi Assafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jika mendengar tentang perubahan iklim, pernahkah kita menyadari bahwa udara siang hari terasa jauh lebih panas dan tidak peduli di kota mana kita berada? Cuaca panas tidak hanya dirasakan oleh warga Jakarta dan kota-kota Metropolitan saja, tetapi telah merambat ke setiap pinggiran kota hingga area pemukiman di daerah sekalipun. Mengapa hal ini terjadi? Saat ini kita sedang mengalami perubahan iklim. Selama bertahun-tahun, banyak yang terjebak pada pemahaman tentang perubahan iklim hanyalah narasi tentang pemanasan global atau bongkahan es kutub yang perlahan mencair. Kenyataannya, hal tersebut jauh lebih kompleks dan sudah mulai kita rasakan dampaknya dimanapun kita berada.

Kekhawatiran akan suhu bumi yang terus meningkat ini sebenarnya telah menjadi sorotan utama organisasi internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), salah satunya pada Konferensi Iklim COP 26 di Glasgow yang menghasilkan Glasgow Climate Pact yang menjaga batas toleransi maksimal kenaikan suhu global tidak melebihi 1,5 derajat celcius. Meski demikian, kenaikan suhu tetaplah menjadi krisis yang tidak akan hanya berhenti pada fenomena hasil alam saja, tetapi kita sebagai manusia yang beraktivitas ikut merasakan dampaknya. Sehingga muncul satu pertanyaan, Jika iklim berubah, kenapa tubuh kita yang semakin sering sakit?
Tubuh manusia sebenarnya sedang menghadapi berbagai ancaman yang sangat beragam dari lingkungan sekitarnya. Dampak dari perubahan iklim tidak lagi sebatas cuaca ekstrem, bumi menjadi panas atau naiknya permukaan laut, tetapi menjadi lebih luas seperti buruhnya udara karena polusi, krisis air bersih, hingga terganggunya produksi pangan. Dan lebih tragisnya, suhu lingkungan yang semakin meningkat sangat ideal bagi nyamuk dan serangga pembawa penyakit untuk berkembang biak dan hidup berdampingan dengan kita.
Ketika perubahan iklim ini terjadi, dampak paparannya menyasar ke semua sektor kehidupan. Perubahan ini tidak hanya mengancam keselamatan individu dan masyarakat saja, tetapi dapat merusak infrastruktur penting seperti sistem energi, sistem air, hingga fasilitas pelayanan kesehatan. Bisa kita bayangkan ketika lingkungan kita sedang mengalami banjir atau kemarau panjang sehingga memicu krisis air bersih yang menjadi pemicu kerentanan terhadap penyakit.
Risiko kerentanan terhadap penyakit akibat dari perubahan iklim tidak hanya ditentukan oleh faktor kerentanan individu atau lingkungannya. Kondisi demografis, lokasi geografis, status sosio-ekonomi, hingga kapasitas sistem kesehatan setempat menjadi penentu kerentanan tersebut dirasakan. Dalam laporan WHO menyebutkan bahwa dalam salah satu penelitian menunjukkan sekitar 3,6 miliar orang telah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Pada tahun 2030 hingga 2050, perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian per tahun karena kurang gizi, malaria, diare, dan tekanan panas saja yang disebabkan dari dampak perubahan iklim.
Dampak Perubahan Iklim
Dampak yang paling sering kita lihat dan bahkan dirasakan dari perubahan iklim adalah rentetan bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, badai, hingga cuaca ekstrim. Rentetan bencana hidrometeorologi tersebut dapat memicu lonjakan kasus cedera fisik hingga ancaman kematian yang tidak bisa dihindari. Selain itu, gelombang panas ekstrem dapat memicu penyakit terkait suhu (heat-related illness) seperti dehidrasi akut, kelelahan akibat panas, hingga heatstroke yang dapat berbahaya bagi orang dewasa, lansia, hingga anak-anak.
Ketika Perubahan Iklim Menjadi Inkubator Penyakit Menular
Suhu bumi yang kian meningkat dan curah hujan yang tidak menentu, mengubah lingkungan menjadi tempat perkembangbiakan patogen. Saat curah hujan tinggi yang memicu banjir dan merusak fasilitas sanitasi, kita dihadapkan langsung dengan ancaman penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne diseases) seperti kolera dan diare. Selain itu, perubahan iklim dapat mengakibatkan penyakit akibat vektor (vector-borne disease) seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria. Nyamuk yang sebelumnya hanya dapat berkembangbiak di lingkungan yang rendah, kini mulai merambah ke wilayah dataran tinggi yang dulunya terlalu dingin untuk nyamuk berkembangbiak.
Tindakan manusia dan kerusakan habitat asli menjadi anomali iklim yang memaksa hewan liar lebih dekat dengan pemukiman sehingga hal tersebut meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis, yaitu penyakit menular yang dapat berpindah secara alami dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya. Cuaca ekstrem juga dapat berdampak kepada sektor pertanian sehingga mengakibatkan gagal panen yang dapat memicu malnutrisi dan penyakit bawaan makanan (food-borne diseases).
Ketika Perubahan Iklim Menjadi Ancaman Senyap
Dampak dari perubahan iklim tidak hanya dapat menyebarkan virus atau bakteri melalui vektor, tetapi dapat mengakibatkan penyakit tidak menular. Kemarau yang panjang, polusi yang ada di udara, dan kebakaran hutan memicu buruknya kualitas udara. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan penyakit pernapasan (respiratory illness) seperti ISPA, bronkitis hingga asma. Stres termal akibat suhu panas juga dapat memaksa organ-organ vital bekerja lebih keras sehingga memperburuk kondisi bagi penderita penyakit bawaan.
Salah satu dampak yang cukup menarik dibahas adalah ketika perubahan iklim dapat mengakibatkan kesehatan mental terganggu dan mengakibatkan psikososial. Kehilangan harta benda dan tempat tinggal akibat bencana hidrometeorologi dapat menyisakan trauma mendalam. Lebih luas lagi, ancaman perubahan iklim di masa depan atau cuaca yang tak pasti dapat memicu fenomena eco-anxiety atau krisis kecemasan kronis terutama pada generasi muda yang merasa kehilangan kendali akibat kelestarian lingkungan mereka.
Ancaman dampak perubahan iklim bukan lagi suatu prediksi masa depan, tetapi menjadi krisis yang nyata hari ini. Dampak perubahan iklim bagi kesehatan dapat melalui dua jalur utama yaitu secara langsung melalui cedera fisik akibat akibat bencana atau paparan suhu ekstrem dan juga secara tidak langsung melalui penyakit menular, penyakit tidak menular, krisis pangan, hingga dapat mengganggu kesehatan mental. Namun, keterpaparan dan kerusakan yang timbul sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ketahanan lingkungan, struktur sosio-ekonomi, dan sistem fasilitas pelayanan kesehatan setempat. Semakin rentan lingkungan dan kondisi sosialnya, semakin berdampak buruk menjadi beban kesehatan akibat dari perubahan iklim.
Menghadapi dampak dari perubahan iklim yang sangat kompleks ini, tidak hanya mengandalkan mitigasi risiko saja. Tetapi, dibutuhkan untuk membangun resiliensi atau ketangguhan untuk beradaptasi dari setiap dampak yang muncul. Di tingkat masyarakat atau komunitas, penguatan kapasitas masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, gerakan sosial, literasi iklim kesehatan dan kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan. Pada akhirnya, menata lingkungan supaya menciptakan ketahanan akibat perubahan iklim bukan hanya sekedar menyelamatkan gunung es di kutub, tetapi untuk memastikan supaya kita bisa beradaptasi, bertahan hidup, dan menjaga kesehatan ditengah bumi yang semakin menua.
