Sadio Mane, "From Zero to Hero"

Dibalik pribadi yang sukses biasanya tersimpan kisah inspiratif yang mampu memantik semangat orang lain yang mendengarkannya. Karena kesuksesan itu sendiri identik dengan semangat dan kerja keras.
Salah satu sosok sukses yang memiliki kisah inspiratif menarik adalah Sadio Mane, striker klub Inggris, Liverpool.
Sadio Mane lahir dan tumbuh di desa kecil dan miskin di Senegal bernama Sedhiou. Hingga usianya menginjak 15 tahun, Mane masih menjadi remaja yang namanya belum terdengar oleh dunia bahkan di negara asalnya sekalipun, Senegal.
Ia berasal dari keluarga miskin yang tidak melihat sepakbola sebagai suatu profesi yang menjanjikan. Namun, beruntung Mane dianugerahi potensi hebat dalam mengolah ‘si kulit bundar’ dan juga keberanian untuk memperjuangkan impiannya.
Sadar bahwa ia memiliki banyak keterbatasan apabila tetap berada di kampong halaman kecilnya, Mane pun memutuskan untuk ‘hijrah’ ke kota besar di Senegal, yaitu Dakar. Tentunya keputusan ini diambilnya sendiri tanpa izin orangtuanya, seperti yang ia ceritakan pada France Football. Dengan berbekal sepatu bola rombeng, celana pendek lusuh, uang pinjaman dari seorang temannya dan keyakinan atas kualitas dirinya sendiri, Sadio Mane remaja memulai pertualangan mimpinya dengan menumpang bus ke Dakar.
Sesampainya disana, ia mengikuti trial untuk bisa masuk ke akademi sepakbola Generational Foot yang juga melahirkan nama besar seperti Diafra Sakho dan Papiss Cisse. Saat pertama ia berkumpul bersama remaja lainnya yang akan mengikuti trial, penampilannya beda sendiri. tidak seperti peserta lainnya yang dibekali sepatu bola bagus dan seragam sepakbola layak pakai oleh orangtuanya, Mane hanya memakai sepatu bola robek yang ia jahit sendiri kembali dan baju dan celana pendek lusuh. Ia pun menjadi bahan tertawaan sekitar 200 peserta lainnya.
“Ada satu orang yang melihatku dengan tatapan aneh. Seakan-akan aku berada di tempat yang salah,” cerita Mane kepada Goal. “Orang itu lalu bertanya, ‘Kamu ke sini mau ikut tes?’ Aku jawab iya. Dia bertanya lagi, ‘Pakai sepatu itu? Lihat sepatumu itu, bagaimana caramu bermain dengan sepatu seperti itu?’
“Saat itu sepatuku memang jelek sekali, sangat jelek. Tua dan koyak.” Ujar Mane. lalu orang tersebut masih bertanya lagi, “Kamu main bola dengan celana pendek itu? Kamu bahkan tidak punya celana pendek yang layak untuk bermain sepak bola.’”
Mane hanya bisa menjelaskan kalau dia datang dengan sepatu dan celana terbaik yang dia punya. Dia hanya ingin bermain, untuk menunjukkan bahwa dia punya potensi. Ketika Sadio Mane mulai mendapatkan kesempatan bermain, orang yang mempertanyakannya tersebut, ia buat terpukau.
“Orang dewasa itu mendatangiku setelah pertandingan dan bilang, ‘Aku memilihmu. Kamu akan bermain di timku,” kata Mane. “Setelah trial itu, aku langsung masuk ke akademi.”
And the rest history. Setelah menjalani 2 tahun trial di akademi tersebut, Mane kembali ‘hijrah’, kali ini tak tanggung-tanggung yaitu ke benua Eropa tepatnya Prancis. Ia kesana untuk bergabung dengan grup Ligue 2, Metz. Karirnya pun terus berkembang sampai akhirnya bermain di tanah Ratu Elizabeth dan menjadi pemain terbaik Afrika dan salah satu pemain terbaik di dunia. Rasa percaya diri atas potensi yang dimiliki serta keberanian untuk memperjuangkannya telah membawa Sadio Mane dari ‘Zero to Hero’.
