Hasto ajak Delegasi Asia ke Kampungnya, Resapi Gamelan sebagai Harmoni Demokrasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekjen PDIP Hasto ajak delegasi Asia ke kampung halamannya, resapi gamelan sebagai harmoni demokrasi. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sekjen PDIP Hasto ajak delegasi Asia ke kampung halamannya, resapi gamelan sebagai harmoni demokrasi. Foto: Dok. Istimewa

Suasana berbeda menyambut puluhan delegasi dari berbagai negara yang mengikuti CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia di Yogyakarta. Jauh dari kemewahan ruang pertemuan hotel, para delegasi diajak menikmati Welcome Dinner di Pendopo Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat (4/9) malam.

Malam keakraban itu berlangsung sederhana di pendopo terbuka tanpa pendingin udara. Namun, tempat tersebut memiliki makna personal dan historis bagi Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Di salah satu sudut rumah Jawa itulah Hasto dilahirkan pada 1966 dan kemudian tumbuh dalam lingkungan masyarakat dengan tradisi kebudayaan agraris yang kuat.

Didampingi istrinya, Maria Stefani Ekowati, Hasto menyambut pimpinan partai politik, legislator, akademisi, serta sejumlah tokoh dari berbagai negara Asia.

Turut hadir pengamat pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Karina De Vega, penyanyi Yuni Shara, cendekiawan Dr. Sukidi, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi, serta sejumlah kepala daerah dari PDI Perjuangan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di hadapan para delegasi internasional, Hasto menjelaskan bahwa pemilihan Desa Gadingan bukan sekadar untuk memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Nusantara. Kebudayaan, menurutnya, memiliki kekuatan untuk menjaga ruang kebebasan masyarakat ketika demokrasi menghadapi tekanan populisme otoriter.

"Di tempat ini kita belajar hidup berdampingan, menjaga prinsip Memayu Hayuning Bawono atau merawat keharmonisan dunia. Ketika politik terputus dari akar rumput, kekuasaan kehilangan karakter demokratisnya. Namun melalui puisi, tarian, dan lagu, masyarakat dapat menyuarakan kritik sosial secara damai untuk menantang sifat otoriter kekuasaan," kata Hasto.

Sekjen PDIP Hasto ajak delegasi Asia ke kampung halamannya, resapi gamelan sebagai harmoni demokrasi. Foto: Dok. Istimewa

Hasto kemudian mengajak para tamu mencermati filosofi gamelan yang dimainkan warga Desa Gadingan. Menurutnya, gamelan menggambarkan bagaimana keberagaman tidak harus menghasilkan pertentangan, melainkan dapat dipadukan menjadi sebuah harmoni.

"Gamelan adalah musik yang paling demokratis di dunia. Meskipun dimainkan oleh banyak pemusik dengan instrumen yang berbeda-beda, mereka bermain bersama menciptakan sebuah harmoni," ujarnya.

Bagi Hasto, prinsip yang sama semestinya berlaku dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan suara dan pandangan harus mendapat ruang, tetapi semuanya diarahkan untuk kepentingan bersama dan pertanggungjawaban kekuasaan kepada rakyat.

"PDI Perjuangan percaya bahwa demokrasi bukan sekadar mekanisme meraih kekuasaan, melainkan komitmen moral agar kekuasaan tetap bertanggung jawab kepada rakyat," tegas Hasto.

Ia juga mengaitkan pandangan tersebut dengan Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kebudayaan, menurut Hasto, menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga jati diri bangsa sekaligus memperkuat daya tahan demokrasi.

Kehangatan penyambutan dan pertunjukan kebudayaan Jawa-Bali mendapat respons emosional dari Direktur Regional Friedrich Naumann Foundation (FNF) Asia, Moritz Kleine-Brockhoff.

Moritz mengaku tersentuh menyaksikan anak-anak menari serta mendengarkan alunan gamelan yang menyambut para delegasi.

"Pidato dan sambutan hangat ini sungguh menyentuh hati saya. Melihat anak-anak menari dan alunan musik gamelan sangat menggerakkan perasaan," ujar Moritz.

Sekjen PDIP Hasto ajak delegasi Asia ke kampung halamannya, resapi gamelan sebagai harmoni demokrasi. Foto: Dok. Istimewa

Dalam kesempatan tersebut, Moritz juga menyampaikan penilaiannya mengenai posisi PDI Perjuangan dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

"Kita diingatkan kembali akan nilai-nilai PDI Perjuangan sebagai partai toleransi dan demokrasi di Indonesia—dan saya rasa, ini adalah satu-satunya partai toleransi dan demokrasi yang tersisa di Indonesia saat ini," katanya.

Malam kebudayaan tersebut semakin cair ketika para delegasi menikmati pertunjukan Sendratari Ramayana dan Tari Joged Agirang. Musik, tarian, dan keramahan masyarakat desa menjadi bahasa bersama yang mempertemukan para tamu dari beragam latar belakang politik dan kebangsaan.

Tak berhenti sebagai penonton, delegasi internasional, tokoh nasional, hingga masyarakat setempat kemudian diajak naik ke panggung untuk ngibing dan menari bersama.

Malam di Desa Gadingan itu pun menjadi bagian lain dari rangkaian konferensi tentang ketahanan demokrasi: bahwa demokrasi tidak hanya dibicarakan melalui pidato dan forum politik, tetapi juga dapat dirawat melalui kebudayaan, kebersamaan, dan harmoni di tengah perbedaan.