Pilu Warga Serpong Lagoon Tangsel Alami Muntaber Diduga dari Air Keran

Sebanyak 146 anak dan orang dewasa di Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), dilaporkan muntah dan diare (muntaber). Warga menduga penyebabnya air dari instalasi pengolahan air (water treatment plant/WTP) yang mengalir ke rumah-rumah mereka.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel menyebut hasil pemeriksaan laboratorium positif E. coli dan mengimbau warga tidak mengonsumsi air dari jaringan distribusi perumahan.
Masalah ini sampai ke DPRD Tangsel hingga digelar rapat dengar pendapat. Berikut rangkumannya.
Bermula dari Grup Warga
Kasus ini terungkap pada Rabu (7/10), saat seorang ibu melaporkan di grup warga bahwa anaknya demam, muntah, dan diare. Warga lain menyebut anak mereka mengalami gejala serupa, bahkan ada yang sejak 17 September.
"Seorang Ibu melaporkan di grup warga bahwa seorang anak mengalami demam, muntah, dan diare, kemudian dikonfirmasi oleh warga lainnya yang anaknya juga mengalami hal yang sama, ada yang sejak 17-Sep-2026," kata Arnis Silvia selaku perwakilan warga, dalam keterangan tertulis.
Ketua RT 04 RW 07 Heru Cahyono menyebut korban terdiri atas orang tua dan anak.
"(Total ada) 146. Campuran ya orang tua dan anak," kata Heru.
Anak Pingsan di Toilet
Novi, warga yang tinggal di Serpong Lagoon sejak 2016, menceritakan anak bungsunya yang berusia tujuh bulan diare selama dua hari. Awalnya ia mengira penyebabnya makanan pendamping ASI (MPASI). Sebelum sempat membawanya ke dokter, anak sulungnya ikut sakit pada tengah malam.
"Jam setengah satu malam tiba-tiba diare, muntah, diare, muntah. Dan itu terus intens sampai kira-kira jam setengah lima subuh. Terakhir dia muntah di toilet, dia pingsan, langsung kita bawa ke UGD," ungkap Novi.
Novi menyebut keluarganya memakai air WTP untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK), sedangkan untuk minum memakai air kemasan atau isi ulang. Air keran di rumahnya, katanya, terkadang keruh dan berpasir.
"Setelah 10 tahun tinggal di sini, baru concern karena kebetulan anak dua-duanya kena, jadi ya aku kayak, 'Ada apa sih ini air ini sebenarnya?'" katanya.
Temuan E. coli, tapi Penyebab Pasti Belum Final
Berdasarkan paparan warga, pemeriksaan puskesmas terhadap sampel air dari salah satu rumah menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) sebesar 5-7 CFU, padahal kandungan yang dipersyaratkan adalah nol. Hasil uji sampel 7 Oktober hanya mencakup analisis fisika dan kimia. Air itu dinyatakan tidak memenuhi baku mutu Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, tetapi belum mencakup uji mikrobiologi. Hasil tersebut belum membuktikan air menjadi penyebab seluruh kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel Fitria Oriza menyebut hasil pemeriksaan laboratorium positif E. coli. Menurutnya, lonjakan kasus hanya terjadi di satu kawasan perumahan dan belum dilaporkan menyebar ke perumahan lain.
"Ecolinya positif," kata Fitria.
"Peningkatan kasus karena sumbernya sama. Jadi jelas penyebabnya air dari WTP itu," ujarnya.
Sementara itu, warga menyebut sudah menelusuri jalur penularan lain, mulai dari interaksi antaranak di sekolah, air minum kemasan, hingga makanan dan jajanan. Mereka tidak menemukan kesamaan paparan. Seluruh rumah terdampak disebut menerima pasokan air dari penyedia yang sama.
Warga juga mengaku menemukan air kotor, jentik, dan endapan berlumpur di rumah. Sejumlah warga memasang filter tambahan secara mandiri, tetapi kasus disebut masih terjadi di beberapa rumah berfilter.
Sumber Air Diminta Disegel, Warga Butuh Pasokan
Heru menyebut RDP menghasilkan rekomendasi agar pihak WTP mempercepat perbaikan kualitas air. Ia juga menyebut kemungkinan penyegelan oleh Satpol PP.
"Dan kalau enggak salah akan ada penyegelan dari pihak Satpol PP kepada pihak WTP," kata Heru.
Ketua RW 007 Deden Amijaya menjelaskan, yang disegel hanya bagian produksi, sementara tangki distribusi tetap dipakai untuk menyalurkan air dari sumber lain.
"Yang disegel itu bagian produksinya aja. Setelah itu lalu si tangki itu diisi oleh aliran air-air yang dikirim oleh Pemkot kah atau yang disediakan oleh si WTP sendiri sebagai tanggung jawab provider menyediakan bagi warga." ujar Deden.
Kawasan ini dihuni sekitar 900 kepala keluarga (KK), dan tidak semua rumah memiliki bak penampungan. Deden menyebut Pemkot Tangsel bersedia mengirim satu truk air, yang menurutnya tidak cukup.
"Pemkot Tangsel juga sudah bersedia membantu bahwa bahkan pada hari ini pun akan mengirim satu truk. Satu truk ya, dan untuk kebutuhan warga Serpong Lagoon yang demikian banyak penduduknya ya itu tidak ada artinya," kata Deden.
Tuntutan Warga dan Peluang Jalur Hukum
Dalam RDP, warga meminta pasokan air alternatif yang terverifikasi laboratorium, uji independen di semua titik dari air baku hingga keran rumah, audit teknis pengolahan dan jaringan distribusi, serta keterbukaan dokumen perizinan dan evaluasi tarif.
Warga menyebut pengelola telah meminta maaf, tetapi belum melaporkan mitigasi terukur.
"Air bersih bukanlah tuntutan, ia adalah kebutuhan dasar. Keselamatan warga bukan hanya bahan audiensi, ia adalah hak asasi. Permintaan maaf jangan jadi retorika, harus berujung pada tindakan nyata," ujar Arnis selaku perwakilan warga dalam keterangannya, Rabu (14/10).
Ketua RT 04 RW 07 Heru Cahyono menyebut warga juga membuka peluang menempuh jalur hukum, meski belum ada kepastian langkahnya.
"Kemungkinan itu akan ada," kata Heru.
"Karena kan kita tahu sendiri bahwa air itu berbahaya. Tapi selayaknya kami sebagai konsumen adalah mendapatkan kualitas air yang memang layak untuk kita gunakan," tambahnya.
