Konten Media Partner

58 Kelurahan di Gunungkidul Gelar Pemilihan Lurah Secara Serentak

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah seorang warga yang mengikuti Pemilihan Lurah secara serentak di Gunungkidul. Foto: Erfanto/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Salah seorang warga yang mengikuti Pemilihan Lurah secara serentak di Gunungkidul. Foto: Erfanto/Tugu Jogja

Hari ini, Sabtu (30/10/2021) Kabupaten Gunungkidul menyelenggarakan pemilihan lurah (Pilur) serentak. Setidaknya ada 58 Kalurahan yang menyelenggarakan Pilur untuk jabatan 6 tahun ke depan.

Kepala Bidang Pemerintahan Desa, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kriswantoro mengungkapkan Dari 58 kalurahan yang menyelenggarakan Pilur, ada 170 calon lurah yang bertarung. Mereka berjuang untuk mendapatkan suara terbanyak dari warganya.

Ada 708 TPS yang disebar di 58 Kalurahan tersebut. Jumlah ini terbilang banyak dan tak biasanya. Penambahan TPS dilakukan untuk mengantisipasi kerumunan. Pihaknya juga mewajibkan penerapan protokol kesehatan secara ketat oleh panitia penyelenggara.

"Untuk jumlah DPT sendiri sebanyak 238.053 jiwa," ungkap dia, Sabtu (30/10/2021).

Kriswantoro menambahkan, untuk pelaksanaan Pilur Serentak 2021, pihaknya telah mempersiapkan anggaran sebanyak Rp 4,1 miliar. Anggaran ini mendapatkan penambahan dari pemerintah berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan dalam setiap tahapan, khususnya saat tahap pemungutan suara.

Sebelumnya, lanjut dia, anggaran untuk Pilur Serentak 2021 hanya sebesar Rp 3,3 miliar. Namun karena masih pandemi maka perlu penambahan perlengkapan dalam rangka penerapan protokol kesehatan, pihaknya kemudian mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp 800 juta.

kumparan post embed

"Anggaran tersebut disetujui karena memang kita menyelenggarakan Pilur di tengah Pandemi," ungkapnya.

Yang menarik dalam pesta demokrasi kali ini adalah ada pasangan suami istri uang bertarung memperebutkan posisi orang nomor 1 di tingkat kalurahan. Tercatat ada 10 pasangan suami-istri hingga bapak-anak yang berebut kursi lurah.

Majunya pasangan hidup dalam hajatan Pilur memang sebagian besar karena salah satunya adalah incumbent. Politik dinasti di mana ingin melanggengkan kekuasaan juga terjadi.

"Karena selain pasangan suami istri juga ada calon orangtua melawan anak. Sebenarnya ini adalah fenomena biasa yang terjadi setiap pilur," kata dia.

Kriswatoro menyebut setidaknya ada 10 pasangan suami istri yang mencalonkan diri sebagai lurah. Diantaranya adalah Kalurahan Girisekar, Giriwungu dan Girimulyo di Kapanewon Panggang. Kemudian Kalurahan Gari dan Wunung di Kapanewon Wonosari; Bendung di Kapanewon Semin.

Ada lagi di Kalurahan Ngipak di Kapanewon Karangmojo. Kalurahan Bohol dan Karangwuni di Kapanewon Rongkop, serta Kalurahan Karangawen di Kapanewon Girisubo.

"Sementara untuk bapak-anak yang turut berjuang mendapatkan suara warganya ada di Kalurahan Karangasem, Kapanewon Ponjong," ungkap dia.

Menurutnya, fenomena seperti ini sudah biasa terjadi saat pemilihan lurah pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena sejumlah faktor. Mulai dari tidak adanya lawan dalam demokrasi tersebut hingga lainnya.

"Di samping itu, strategi semacam ini dimaksudkan agar Pilur di kalurahan tersebut tidak tertunda dan pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya," paparnya.

Ia menyebut dari 58 kalurahan yang menyelenggarakan Pilur, cukup banyak lurah yang tidak ingin posisinya digantikan orang lain. Karena pihaknya mencatat ada 43 petahana yang kembali mencalonkan diri.