Bebatuan Menyerupai Kaki Candi Ditemukan di Bantul

Sisa struktur dan bongkahan bebatuan yang menyerupai kaki candi peninggalan Jawa masa lalu ditemukan di perkebunan tebu di wilayah Padukuhan Bintaran Kulon, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan. Penemuan ini tentu membuat warga Bintaran Kulon dan sekitarnya gempar.
Secara kasat mata, struktur permukaan bebatuan yang ditemukan memiliki panjang 190 centimeter. Sebagian batu lainnya hanya bongkahan- bongkahan dengan panjang dan lebar 50 x 30 centimeter. Bongkahan tersebut dibiarkan begitu saja di pinggir struktur utama.
Warga sekitar lokasi, Heri Kiswanto mengatakan, bangunan yang diduga bekas candi tersebut ditemukan oleh warga yang sedang menebang tanaman tebu di lahan milik Sariman (69), warga Kredenan, Srimulyo. Tepatnya di sebelah utara kandang milik Slamet warga setempat.
"Sak Ler Kandang Pak Slamet, Wonten Sitinipun Pak Sariman (Di sebelah utara Kandang Pak Slamet. Di tanah milik Pak sariman," ujar Heri, Selasa (18/8/2020) di lokasi penemuan.
Menurutnya, struktur dan bongkahan bebatuan tersebut terbilang penemuan baru karena warga belum pernah mengetahui sebelumnya. Di tempat tersebut sebelumnya juga pernah ditemukan bebantuan lain yang juga diduga peninggalan masa lampau.
Heri mengungkapkan, tidak jauh dari lokasi penemuan bebatuan itu, puluhan tahun silam, seingat dia, sekitar tahun 2003, pernah ditemukan dua fragmen serupa. Berbentuk sisa struktur bebatuan dan sebuah situs sumur tua. Situs sumur tersebut saat ini masih ada. Jaraknya sekitar 50 meter ke Utara dari lokasi penemuan.
Hanya saja, untuk struktur bebatuan yang ditemukan awal sayangnya sudah tertutup pelataran. Padahal jaraknya cukup dekat dengan lokasi penemuan yang baru. Hanya sekitar 20 meter. Ia sendiri tidak mengetahui apakah itu semua saling terhubung atau tidak.
Ia sendiri mengaku baru tahu, ternyata di lahan tebu yang letaknya di bawah menara telekomunikasi itu ada bongkahan bebatuan yang diduga kuat sebagai struktur candi peninggalan purbakala. Padahal, oleh pemiliknya, lahan tersebut sering dicangkuli terutama ketika tidak asa tanaman tebu.
"Saya baru tahu ini. Ini penemuan baru. Tidak diketahui, siapa yang pertama menemukan," paparnya.
Namun warga atau pemilik lahan menduga, bebatuan tersebut terkuak saat lahan digali tanahnya untuk bahan pembuatan batu bata. Karena letak persisnya, dari jalan Bintaran masuk kedalam area persawahan sekitar 50 meter. Di seputar lokasi merupakan area persawahan, tetapi sebagian tanahnya sudah tergali untuk bahan batu bata.
"Pesen dari petugas Polsus Purbakala bentuk temuan jangan diubah-ubah sampai nanti tim dari BPCB datang untuk meneliti," tambahnya
Dukuh Cikal Kring Bintaran Kulon, Setya Handoko mengungkapkan, di seputar wilayah Padukuhan Bintaran banyak situs peninggalan masa lampau. Salah satunya adalah situs Payak yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi penemuan bongkahan bebatuan tersebut.
"emang selama ini sering ditemukan benda-benda yang diduga peninggalan purbakala," ungkapnya.
Bahkan, kata dia, selain situs Payak, sumur tua dan fragmen bebatuan, di lokasi tersebut ditemukan arca yang menunjukkan sosok sedang bersila. Tetapi pada bagian kepala sudah lepas atau hilang. Namun untuk arcanya sampai sekarang masih ada.
"Bahkan jadi nama jalan. Namanya Reco Buntung," kata dia.
