BKKBN Ajak Semua Pihak Atasi Fenomena Remaja 'Setengah Kopling'
·waktu baca 2 menit

Fenomena remaja dengan masalah emosi dan juga perilaku kerap menjadi persoalan tersendiri di masyarakat. Tak jarang, aksi-aksi remaja justru menyimpang dan menimbulkan persoalan baru, misalnya seperti aksi kejahatan jalanan, tawuran, vandalisme dan sebagainya.
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyoroti gangguan emosi pada remaja atau disebutnya sebagai 'setengah kopling' ini perlu perhatian bersama. Ia mengajak seluruh pihak bergotong royong mengatasi kondisi mental emotional disorder di Indonesia agar kualitas kesehatan hidup masyarakat lebih baik dengan harapan bisa mewujudkan target pencapaian Indonesia Emas pada 2045.
"Selain angka stunting 24,4 persen di Indonesia, masalah ini penting jadi perhatian semua dan di 2022 bisa turun 21 persen. Kondisi remaja kita itu ada yang setengah kopling, fenomena klitih dan lain lain penting diatasi bersama-sama," kata Hasto Wardoyo, Senin (23/1/2023).
Hasto menyebut berdasarkan data, fenomena gangguan emosi pada remaja ini mengalami kenaikan. Di mana pada 2018 jumlahnya sebanyak 9,8 persen ,lebih banyak dibandingkan pada 2013 yang hanya sebanyak 6,9 persen.
Dia melihat, remaja dengan kondisi tersebut punya kecenderungan sulit diajak bekerja, diserahi tanggung jawab, berperilaku seenaknya sendiri, hingga sering bolos.
"Kalau diskusi mau menang sendiri, ada yang model begini bikin kacau situasi. Ada kondisi mental emotional disorder, kala jadi bupati saya sudah hafal bagaimana yang model begini. Di Kulon Progo setiap 100 (orang) ada 4-5 orang yang alami hal ini. Kalau diberikan pekerjaan tidak selesai, minta izin seminggu diberi dua minggu," kata dia.
Lebih lanjut, ia menyebut fenomena orang dengan kondisi tersebut terkesan njelehi atau bisa diartikan menyebalkan. Apalagi ia prihatin di Yogyakarta sendiri kasus semacam ini banyak ditemukan.
"Napza, ODGJ naik kalau alami kondisi begini. Hal yang bikin sedih, DIY dan DI Aceh alami kondisi ini yang paling tinggi 7 per seribu penduduk," ungkap Hasto.
Karena itu, pihaknya mendorong parenting atau pola pengasuhan anak yang baik disertai gizi yang cukup perlu diberikan. selain itu, penting pula agar kondisi lingkungan sosial juga diperhatikan.
