Bus yang Tabrak Tebing di Bantul Sempat Tak Kuat Lewati Tanjakan
·waktu baca 3 menit

Bus pariwisata yang menabrak tebing di Bukit Bego, Padukuhan Kedungbuweng, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Bantul dianggap sudah bermasalah sejak awal. Tiga kejanggalan mulai terasa sejak bus tersebut mulai meninggalkan objek wisata Tebing Breksi Kabupaten Sleman.
Danarto, penumpang bus tabrak tebing di Bantul yang kini dirawat di RS PKU Muhammadiyah Bantul menuturkan sejak meninggalkan Tebing Breksi, bus sudah berjalan tidak nyaman. Saat melewati tanjakan di dekat jembatan jalan Jogja-Wonosari, bus tersebut sempat tidak kuat menanjak.
Saat itu, Danarto menceritakan jika ia mengetahui persis apa yang dilakukan oleh sopir karena ia duduk di kap mesin di samping kiri sopir. Saat tanjakan di Jalan Jogja-Wonosari, sopir sebenarnya sudah menggunakan perseneling 1 dan 2. Awalnya sopir bisa mengatasi persoalan tersebut namun akhirnya berteriak kepada kondektur untuk mencari balok pengganjal.
"Itu dapat batu terus diganjal. Dan bus bisa nanjak lagi," ungkap dia.
Bus kembali tidak bisa menanjak ketika mereka baru saja meninggalkan destinasi Puncak Becici. Di tanjakan pertama di kawasan hutan pinus Mangunan, bus tak kuat menanjak. Bahkan karena panik, penumpang turun dari dalam bus.
Saat para penumpang sudah turun dan berjalan menuju ke puncak tanjakan, kemudian bus tersebut dapat berjalan keatas dan berhenti pas di puncak tanjakan. Ia bersama penumpang lain kemudian kembali menaiki bus untuk melanjutkan perjalanan.
“Kami melanjutkan perjalanan lagi, namun didepan terlihat jalannya terus menurun. Saat itu saya lihat sopirnya panik,” tuturnya.
Ia melihat sang sopir panic dengan memegang tuas perseneling. Bahkan, kaki kanan dan kiri bergantian menginjak pedal rem maupu kopling. Saat itu ia melihat sopir melaju menggunakan gigi 3. Upaya sopir berusaha memindah ke gigi rendah nampaknya gagal.
Sementara itu, ia juga melihat rekan rekannya yang berada didalam bus tersebut masih terdiam sebab tak mengetahui yang dilakukan sang sopir. Bahkan, ada yang tertidur saat bus melaju di jalan menurun.
“Jadi sopirnya itu berkali kali injak kopling dan rem, dan mencoba untuk mengubah gigi persneling untuk menghentikan laju bus. Tapi itu pendapat saya lo,” kata Danarto.
Tak berselang lama, bus tersebut sempat oleng ke kiri dan kekanan hingga melewati bata jalan. Namun di saat sampai di tikungan, bus tersebut berbelok ke kanan dan menabrak tebing dengan keras. Saat menabrak itu ia mendengar suara seperti dentuman kecil
"Ada suara Dukk, terus pyar. Saya terpental keluar dari tempat duduk saya, tapi saya tetap berdiri dan mencari keluarga saya dibelakang,” jelanya.
Beruntung saat itu, keluarga Danarto tidak mengalami luka serius sehingga ia mencoba untuk turun dari bus yang sudah dalam keadaan rusak berat di bagian depan. Danarto sendiri hanya mengalami luka lecet pada siku bagian kiri dan kepala dibagian kanan.
“Yang saya lihat didalam bus itu sudah semrawut (kacau), namun saya tetap berjalan keluar untuk mencari tempat aman,” ulasnya.
Danarto tak menyangka dalam kecelakaan itu, ada beberapa temannya yang mengalami luka serius bahkan ada yang meninggal. Meski demikian, ia mencoba menarik rekan rekannya yang dapat bergerak.
Usai sampai di luar bus, Danarto mendapati kondisi depan bus tersebut ringsek. Bahkan, ada rekannya yang terlempar dari dalam hingga menembus kaca depan.
“Saya sudah gak tau mau ngapain, ya saya tolong keluarga dan menarik teman yang disamping untuk diajak keluar. Sampai diluar saya kaget melihat kondisi bus, dan saya hanya duduk dipinggir jalan,” tuturnya.
Tak lama ia duduk, banyak warga yang datang untuk menolong rekan rekannya yang masih terjebak didalam bus. Hingga saat ada relawan yang mengangkat dirinya dan anaknya untuk dibawa keambulan dan dibawa ke rumah sakit.
“Beruntung saya masih sadar, tapi luka dikepala saya banyak mengeluarkan darah hingga mendapatkan pertolongan dari pihak rumah sakit,” jelasnya.
