Cak Nun Ajak Warga Kenang Jemek Supardi dari Sisi Keindahan
·waktu baca 3 menit

Dikenal sebagai seniman pantomim yang menyuarakan ketimpangan sosial masyarakat, kepergian Jemek Supardi rupanya meninggalkan banyak kenangan manis bagi para sahabat, salah satunya Emha Ainun Nadjib.
Pria yang akrab disapa Cak Nun ini sudah 50 tahun lebih berteman dengan Jemek sejak 1974 silam. Cak Nun pun menginisiasi acara bertajuk 'Memaknai Jemek Supardi' yang digelar di Balai Pelestarian Nilai Budaya, Selasa (23/8/2022) untuk mengenang 40 hari kepergiannya.
"Waktu pemakaman Jemek saya usul, mbok ono acara sing memaknai Jemek. Memaknai ini menurut saya ada dua pertimbangan yang pertama nek kowe arep ngukur sagak yo nganggo meteran, nek kowe arep ngukur banyu yo nganggo literan. Jemek ini sebuah maklum yang tidak ada duanya di seluruh alam semesta dan tidak bisa diukur dari sudut pandang manapun," kata Emoh Ainun Nadjib kala mulai menceritakan sosok Jemek, Selasa (23/8/2022).
Cak Nun mengatakan, Jemek memang sosok yang nakal namun di balik kenakalan nya itu, ada keindahan yang tersembunyi.
"Ngapuro, tidak ada manusia sebangsat dia. Jemek itu tidak ada yang membenci dia, tidak ada yang marah sama dia. Kapan ada kerumunan manusia dan ada Jemek pasti do guyu kabeh (tertawa semua)," ujar Cak Nun.
Menurut Cak Nun, apabila masyarakat melihat Jemek dari sisi akhlak, tidak ada kebaikan yang ditemukan, dan dari sisi kebenaran, tidak ada pula kebenaran yang ditemukan.
Oleh karena itu, sebagai sahabat yang sudah lama berkiprah di dunia seni bersama Jemek, Cak Nun mengajak masyarakat untuk dapat mengenang dan mengingat Jemek sebagai suatu keindahan.
"Jangan mengukur Jemek dari ilmu pengetahuan modern, jangan mengukur Jemek dari agama apapun, jangan mengukur Jemek dari sudut akhlak atau apapun ya, cara pandang apapun tidak yang cocok untuk Jemek. Anda harus melihat Jemek sebagai keindahan. Kalau saya tidak memakai keindahan, saya tidak bisa menghargai Jemek," lanjut Cak Nun
Lebih lanjut, Cak Nun mengungkap banyak hal yang tidak rasional kemudian menjadi rasional hanya karena Jemek yang ngomong. Pengalamannya bersama sang Maestro menyadarkan dirinya bahwa segala sesuatu itu tidak perlu terlalu dipusingkan.
"Jemek itu saya kira secara pemikiran sudah istimewa, masa bisa (orang normal) memikirkan 'berzinah lah secara halal'. Kalau saya cerita dengan semua itu ada yang tidak siap, makanya melihat Jemek itu lihatlah sebagai keindahan." papar Cak Nun
"Kalau Anda melihat dia dari keindahan, dia itu indah banget. Jemek itu ya hidupnya itu. Yang indah itu hidupnya. Pantomime nya itu bisa diukur bisa dinilai dan diregulasi tapi tidak manusianya. Kita harus tetap memperlakukan Jemek sebagai manusia unik manusia ciptaan Tuhan dan kita ingin ada Jemek lagi." pungkasnya.
Sebagai informasi, acara ini ramai dihadiri oleh masyarakat dari Jogja dan juga luar Jogja.
Hal ini sebagai tanda bahwa banyak yang merasa dekat dengan Jemek Supardi karena kepribadian selama hidupnya tidak pernah membeda-bedakan kepada siapa saja akan berelasi. Jemek selalu singgah, selalu menghadiri dan selalu menyambangi banyak orang lewat karyanya. (Maria Wulan)
