Cegah Penyakit Mulut dan Kuku, Lalu Lintas Ternak di Gunungkidul Diawasi
ยทwaktu baca 2 menit

Dinas Peternakan Gunungkidul mulai meningkatkan kewaspadaannya menyusul penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi yang ditemukan di Jawa Timur. Mereka mulai mengambil langkah antisipatif mengingat Gunungkidul lebih dekat dengan Jawa Timur dibanding daerah lain di DIY.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan meskipun belum ditemui kasus penyakit kuku dan mulut pada sapi namun pihaknya tetap melakukan langkah antisipasi fajar penyakit tersebut tidak masuk ke Gunungkidul.
"Beberapa upaya kami lakukan l untuk mengantisipasi terjadinya penularan PMK di Kabupaten Gunungkidul," ujar dia.
Langkah tersebut mulai dari sosialisasi ke peternak dan pedagang hewan untuk lebih jeli memantau kesehatan hewan mereka. Pihaknya juga melakukan pemantauan setiap hari pasaran di pasar hewan.
Kemudian juga dilakukan penyemprotan di kawasan pasar. Penyemprotan desinfektan ini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit yang bisa menerima sapi sapi di Gunungkidul
Pihaknya juga membentuk unit rekasi cepat pencegahan di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pengawasan arus lalu lintas ternak juga dilakukan oleh tim berkoordinasi dengan provinsi, bilamana ada ternak yang berasal dari Jawa Timur dan terindikasi terpapar PMK dilarang masuk wilayah Gunungkidul.
"Pengetatan arus lalu lintas ternak kami lakukan bersama dengan provinsi. Pada wabah ini, kami juga membuat SE bupati agar pedagang, peternak dan masyarakat lebib waspada kembali," imbuh dia.
Wibawanti menjelaskan PMK disebabkan oleh virus. Dimana penularannya lebih cepat karena bisa lewat udara dan kontak fisik, nempel di baju, sepatu, mobil dan lainnya. Berbeda dengan anthrax yang disebabkan oleh bakteri dan menular pada manusia.
"Meski PMK tidak menular pada manusia tapi tetap perlu diwaspadai," terangnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Sih Supriyana mengatakan, perlu ada action kewaspadaan untuk merespon PMK di Jawa Timur. Masyarakat umu, peternak dan pedagang perlu memahami tentang ciri-ciri hewan terpapar penyakit ini.
Diantaranya lemes dan napsu makan berkurang, mulut berbui atau berbusa, gelisah, demam pada tubuh hewan. Parah lagi munculnya luka di daerah mulut (sariawan), dan luka pada kuku di kaki ternak yang menyebabkab kuku copot.
"Bisa menyebabkan kematian, namun jika dilihat dari laporan daerah lain angka kematiannya rendah," paparnya.
Pengawasan terus dilakukan oleh pemerintah, terlebih saat ini sudah mendekati Idul Adha sehingga perlu pengawasan yang lebih ketat kembali.
Tonton video menarik dari Tugu Jogja berikut ini:
