Konten Media Partner

Cerita Pengusaha Tas Kulit di Bantul yang Tak Terdampak Pandemi Corona

Tugu Jogjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemilik bisnis tas kulit ABEKANI, Christiana Tunjung. Foto: Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Pemilik bisnis tas kulit ABEKANI, Christiana Tunjung. Foto: Istimewa.

Pandemi corona memukul telak sektor perekonomian di Indonesia. Tidak hanya sektor kesehatan saja yang terpuruk, sektor perekonomian pun ikut merasakannya.

Sejumlah perusahaan terpaksa gulung tikar dan memulangkan karyawannya akibat pandemi corona ini. Perusahaan yang bertahan pun harus berjuang untuk terus memutar roda perekonomian.

Rupanya, pandemi corona justru tak berdampak pada sebuah bisnis tas kulit di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pesanan konsumen yang stabil membuat bisnis ini seolah tak terdampak pandemi corona. Adalah Produk Tas Kulit Abekani.

“Pesanan kami jalan terus tiap hari. Di tengah pandemi, bisa dibilang kami sama sekali tidak terdampak. Jumlah kiriman pun sama seperti sebelum pandemi,” kata pemilik bisnis tas kulit Abekani, Christiana Tunjung, dalam keterangan, Kamis (22/10/2020).

Ia bercerita bahwa pada Mei hingga Juli 2020 menjadi masa terberat untuk industri kerajinan kulit. Pasalnya, banyak rekan dari karyawannya yang dipulangkan. Hal ini pun sempat membuat pekerja di Tas Kulit Abekani khawatir.

Produk tas kulit ABEKANI. Foto: Instagram/@abekani_jogja.

Cerita dari pengrajin ini pun ditindaklanjuti oleh Christiana Tunjung. Pihaknya bersiap untuk menurunkan kuantitas produksi sebagai langkah antisipasi. Namun siapa sangka, jumlah pesanan yang dikirim tetap stabil di sekitar angka 2000 item per bulan Bahkan dalam satu pengiriman bisa berisi lebih dari 10 item berbeda.

“Semua itu bisa terjadi karena anggota Abekanian. Memang hampir 90 persen penjualan kami saat pandemi ini bisa terdongkrak karena pesanan mereka. Mereka adalah para pelanggan setia tas kulit Abekani dan menamai diri mereka Abekanian yang saat ini berjumlah kurang lebih 28.000 anggota dari seluruh Indonesia,” kata Tunjung.

Bisnisnya ini berawal pada tahun 2012 di mana Tunjung fokus untuk memproduksi tas perempuan dari bahan kulit nabati. Jika harga produk tas kulit lain berada di atas Rp 1 juta, maka ia hanya membanderol produknya seharga Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu saja.

Awalnya produknya tersebut hanya dipasarkan lewat blog dan Kaskus. Namun, karena pembeli membludak, Tunjung memutuskan untuk memasarkan produknya lewat Facebook.

“Ada member sebuah komunitas fesyen yang membeli produk Abekani dan menulis review di forum komunitasnya. Intinya harganya terjangkau tapi kualitas bagus” kata Tunjung.

Sejak saat itu, Tunjung harus bolak-balik mengantar produk ke berbagai agen jasa pengiriman barang setiap harinya yang meningkat tajam. Hal ini tentunya rentan mengalami keterlambatan pengiriman barang.

Permasalahan ini rupanya terdengar oleh salah satu jasa pengantar barang di Indonesia, JNE. Melihat potensi usaha di Bantul ini, JNE pun menawarkan jasa free pickup untuk Abekani.

Kurir JNE mengangkut Tas Kulit ABEKANI yang siap didistribusikan untuk pemesan. Foto: Istimewa.

“Mungkin karena dari data JNE terlihat saya tiap hari ada pengiriman ya, mereka langsung tanggap. Jadi pesanan saya yang banyak banget itu dijemput langsung oleh kurir JNE. Datangnya selalu tepat waktu saat jadwal pengiriman. Saya sampai kenal dekat sama kurir yang biasa ke sini,” kata Tunjung.

Tunjung semakin mantap menggunakan layanan JNE hingga kini. Selain itu, kini 80 persen pelanggan Tunjung yang merupakan anggota Abekanian selalu memilih JNE untuk mengantarkan pesanan tas kulit Abekani ke rumah masing-masing. Selain biaya yang terjangkau dan pengiriman barang yang tepat waktu, proses tracking pengiriman barang pun sangat mudah dilakukan dengan tampilan website yang simpel.

Disaat seluruh jasa pengiriman mengalami keterlambatan hingga berhari-hari, Tunjung merasa terbantu dengan layanan JNE yang tepat waktu.

Kepala JNE Cabang Yogyakarta, Adi Subagyo mengatakan selama pandemi, layanan JNE didukung oleh jalur darat sebagai alternatif moda transportasi penerbangan. Sehingga ketika seluruh bandara sempat tutup di masa awal pandemi, pengiriman barang para pelanggan setia tetap selamat sampai tujuan dengan tepat waktu