Konten Media Partner

DPRD DIY Soroti Pentingnya Kesehatan Jiwa Bagi Warga Jogja

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi depresi. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi depresi. Foto: istimewa

Kesehatan jiwa saat ini masih menjadi masalah yang belum terselesaikan di sejumlah daerah. Hal tersebut terjadi karena banyak masyarakat yang belum mengerti pentingnya kesehatan jiwa.

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2018, DIY merupakan daerah dengan kasus gangguan jiwa berat (ODGJ) yang menduduki peringkat nasional kedua.

"Bahwa untuk kasus kesehatan jiwa di DIY ini menduduki peringkat dua peringkat nasional," ucap Ketua Komisi D DPRD DIY, Koeswanto, Rabu (10/8/2022).

kumparan post embed

Koeswanto juga menyebutkan bahwa Yogyakarta masih minim fasilitas untuk kesehatan jiwa. Satu-satunya rumah sakit yang menangani ODGJ di Yogyakarta yakni hanya Grasia.

"Ini karena masih kurangnya fasilitas tentang kesehatan jiwa di masyarakat. Karena yang menangani ODGJ ini satu-satunya adalah RS Grasia," ujarnya.

Bahkan yang paling menyedihkan adalah orang yang terindikasi ODGJ, biasanya mendapat bully-an dari masyarakat. Oleh karena itu, Koeswanto berharap dengan adanya Perda tentang Penyelenggaraan Kesehatan Jiwa dapat membantu masyarakat dalam memenuhi hak kesehatan, termasuk kesehatan jiwa.

"Mari tetap kita perjuangkan bahwa keterlibatan masyarakat ini dibentuk dalam suatu lembaga atau pihak. Saya rasa yang terjadi di masyarakat, ODGJ ini biasanya banyak di bully dan itu justru semakin memperparah ODGJ tersebut. Oleh karena itu kesehatan jiwa harus kita perjuangkan" jelas Koeswanto.

Anggota Komisi A DPRD DIY, Siti Nurjannahmengatakan bahwa pemerintah harus mengetahui latar belakang mengapa orang mengalami ODGJ. Sehingga pemerintah mengetahui secara pasti penyebab orang mengalami ODGJ.

"ODGJ perlu kita cari latar belakang penyebabnya, karena latar belakang itu macem-macem, nah itu dalam rangka mengurangi ODGJ" ucap Siti.

Siti juga mengatakan bahwa dari hasil riset di lapangan, salah satu faktor terbesar orang mengalami ODGJ adalah karena masalah ekonomi dan kemiskinan. Menurutnya, hal ini perlu diperhatikan oleh pemerintah supaya orang yang mengalami ODGJ dapat diminimalisasi.

"Nah latar belakang yang lain seperti kemiskinan. Nah ini juga barangkali untuk kuratif ke depan juga penting dalam rangka mengurangi angka orang dengan sakit jiwa itu ya kemiskinan itu perlu di pikirkan pemerintah mulai sekarang secara serius," ucap Siti.

Siti menjelaskan bahwa setelah adanya pandemi Covid-19 orang yang mengalami ODGJ ini kemungkinan besar bertambah.

"Apalagi ini pasca pandemi ya mungkin orang yang sakit jiwa juga bertambah," ungkap Siti. (Eva Mintarsih)

instagram embed