Dugaan Siswi Dipaksa Pakai Jilbab, Pemahaman Guru soal Toleransi Disorot

Konten Media Partner
3 Agustus 2022 16:33
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi siswi berjilbab. Foto: Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswi berjilbab. Foto: Tugu Jogja
ADVERTISEMENT
Seorang siswi di sebuah SMA Negeri 1 Banguntapan Bantul diduga dipaksa memakai jilbab. Hal ini tentu mengakibatkan sekolah yang bersangkutan menjadi sorotan banyak pihak. Terlebih kasus tersebut menjadi viral dan banyak pihak mulai dari ORI hingga Kementerian Pendidikan turun tangan.
ADVERTISEMENT
Terlebih beredar kabar jika pemaksaan ini dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah tersebut pada saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Akibatnya, siswi tersebut sempat trauma menangis di kamar mandi dan sampai mengalami depresiasi hingga tak mau sekolah lagi di sekolah semula.
Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bantul menilai pemaksaan penggunaan jilbab di sekolah negeri bukan seringkali terjadi dan peristiwa di Bantul itu juga bukan suatu hal yang baru. Namun ternyata peristiwa tersebut terus berulang.
Ketua FKUB Bantul, Yasmuri menyebut, sebelum peristiwa di salah satu SMA negeri di Bantul terjadi, sebenarnya kasus serupa juga sudah pernah terjadi di Kota Yogyakarta. Bahkan juga terjadi beberapa daerah seperti, Banyuwangi dan Jakarta.
ADVERTISEMENT
"Kebanyakan, pihak sekolah berakhir memberikan klarifikasi dan permintaan maaf atau mencabut aturan terkait keharusan menggunakan jilbab," terang dia, Rabu (3/8/2022).
Kondisi ini menurut Yasmuri menunjukkan jika seorang pendidik kurang memahami dan memiliki rasa toleransi. Di mana seorang guru sekalipun tidak memahami nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karenanya, FKUB akan turut hadir untuk memberikan pemahaman kepada para guru di sekolah.
Yasmuri menambahkan, peran seorang guru juga harus dilandasi pemahaman akan arti toleransi agar peristiwa yang sama tidak terulang kembali. institusi pendidikan harus memberikan hak kepada setiap siswanya dan tidak boleh memaksakan soal atribut tersebut.
"Kami akan mengajak guru dan sekolah yang bersangkutan untuk berdialog khusus," terang dia.
Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan memanggil pihak-pihak yang terlibat untuk berdiskusi. Karena pemahaman soal keberagaman ini sangat penting dilakukan. Sebab, siapa pun harus memberikan kebebasan terhadap masyarakat yang berbeda, tetapi tetap dalam koridor kenegaraan.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·