Konten Media Partner

Festival Gamelan di Jogja Digelar Secara Daring

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gamelan. Foto: Sandra/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gamelan. Foto: Sandra/Tugu Jogja

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-26 akan kembali digelar pada 23 hingga 26 September mendatang. Seperti halnya YGF ke-25 tahun lalu, festival kali ini akan diselenggarakan secara daring di tengah pandemi.

YGF tahun ini mengangkat judul The Gathering of Gamelan Players and Gamelan Lovers! dan diikuti oleh komposer, musisi, dan pencinta gamelan dari berbagai kalangan. Tidak hanya para pengrawit lokal pada kesempatan kali ini YGF juga diisi oleh pengrawit asal India dan Prancis.

Festival ini diselenggarakan oleh Komunitas Gayam16 dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang didukung pula oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY. Tidak sampai disitu, dalam acara ini juga menggandeng sosok Arutala.

kumparan post embed

Arutala merupakan perusahaan pengembangan gim di kota Yogyakarta. Selama satu bulan ini pihaknya telah melakukan kolaborasi dengan komunitas Gayam16 untuk menghadirkan pertunjukan gamelan dengan konsep virtual.

"Bersama teman-teman Gayam16 satu bulan kemarin, kami mempersiapkan untuk sebuah pertunjukan. Nantinya akan ditayangkan juga pada tanggal 26 besok," ungkap Indra.

Aktivitas kolaborasi antara gamelan dengan VR (virtual reality) ini merupakan bentuk dari upaya pelestarian budaya kearifan lokal dengan perkembangan teknologi pada masa kini. Sebab di tengah pandemi seperti ini, aktivitas budaya masyarakat menjadi terbatas, bahkan mengalami kelumpuhan karena kurangnya ruang gerak untuk dalam berkegiatan, seperti latihan, pertunjukan, atau pementasan.

Konferensi pers Yogyakarta Gamelan Festival. Foto: Len/Tugu Jogja

Namun nyatanya kondisi yang sulit ini tidak mematahkan semangat dan kegigihan para penggerak dan pelestari budaya. Kondisi ini tidak menjadi alasan untuk matinya suatu kebudayaan.

Program Director YGF Ishari Sahida, menuturkan sebagai bagian dari kebudayaan dunia, gamelan telah membuktikan keberadaannya bertahan di masa pandemi melalui pergerakan budaya bernama Yogyakarta Gamelan Festival.

"Lewat gamelan ini saya ingin mengajak rekan-rekan sekalian untuk tidak berhenti melestarikan budaya sebagaimana manusia yang berbudaya," tuturnya.

Ia meyakini bahwa budaya merupakan satu untaian yang terajut dari masa lalu, sekarang dan masa depan. Oleh karena itu, sudah sejatinya menjadi keharusan bagi kita untuk melestarikan dan mewariskannya kepada anak cucu.

kumparan post embed

Untuk mewujudkan hal tersebut, bukanlah perkara yang mudah, bahkan akan sangat sulit dilakukan seorang diri.

"Oleh karena itu, kita perlu bergotong bersama," jelas Dwi Ratna, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY.

Gotong royong inilah yang menjadi landasan bagi terselenggaranya YGF tahun ini.

“Tidak hanya mengajak musikus gamelan di dunia untuk mengapresiasi musik gamelan tetapi juga mengawinkan gamelan dengan teknologi masa kini,” ujar Ari Wulu.

Hadirnya konsep virtual ini mendapat perhatian dan respon yang baik dari para penggiat seni gamelan. Syahrul misalnya, salah satu partisipan yang akan mengisi acara YGF ke-26 ini mengaku kagum dengan adanya kolaborasi antara gamelan dengan nilai adiluhungnya dengan virtual reality yang begitu modern. Sebagai pelaku seni, bahkan hal itu tidak pernah terpikir sebelumnya, ia berharap adanya kolaborasi ini menjadi awal yang baik untuk perkembangan kedepannya. (Syiva Pramuji)