Konten Media Partner

Indonesia Jadi Negara Penghasil Sampah Makanan Terbesar Kedua di Dunia

Tugu Jogjaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertemuan G20 di Yogyakarta yang bahas tentang sampah makanan, Rabu (5/10/2022). Foto: Erfanto/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Pertemuan G20 di Yogyakarta yang bahas tentang sampah makanan, Rabu (5/10/2022). Foto: Erfanto/Tugu Jogja

Kementerian Pertanian RI menyebut jika angka makanan yang hilang serta makanan yang tersisa di Indonesia masih tinggi. Perilaku masyarakat yang sering berlebihan dalam membudidaya makanan dan mengambil makanan memicu tingginya makanan yang hilang.

Kepala Balitbang Kementan RI, Fadjry Djufry mengatakan, indonesia menduduki rangking kedua penghasil sampah makanan terbanyak di dunia. Indonesia hanya di atas Saudi Arabia yang paling banyak menyia-nyiakan makanan sehingga tersisa.

"Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan ternyata makanan yang hilang sejak budidaya hingga konsumsi mencapai 13 persen. Dan khusus food waste (sampah makanan) Indonesia mencapai 344 kg/kapita/year,"kata dia, Rabu (5/10/2022).

Fadjry menyebut makanan yang hilang mulai dari saat budidaya sampai konsumsi ternyata juga masih tinggi. Pihaknya mencatat angka loss food sejak budidaya hingga konsumsi masih mencapai 13 persen.

kumparan post embed

Oleh karenanya, Kementrian Pertanian terus mendorong petani menggunakan tehnologi terutama ketika panen. Sehingga tidak ada lagi panenan yang terbuang akibat belum ada mekanisasi dalam upaya memanen tanaman mereka.

"Sekarang sudah menggunakan mesin alat panen sehingga ada penurunan dari 13 persen menjadi 5 persen bahkan malah 3 persen,"kata dia.

Pihaknya akan berupaya untuk terus menekan makanan yang hilang tersebut di tingkat budidaya. Sehingga produktifitas petani akan semakin meningkat. Karena ketika makanan yang hilang seperti bulir padi yang hilang saat memanen terus berkurang maka pendapatan petani akan meningkat.

Ilustrasi food waste. Foto: Tugu Jogja

Di samping itu, ia mengakui masih banyak sampah makanan yang terbuang sia-sia. Penyebabnya karena perilaku masyarakat itu sendiri dalam mengkonsumsi makanan. Seringkali masyarakat Indonesia serakah dalam mengambil makanan.

"Ini sering terjadi di pesta perkawinan misalnya,"kata dia.

Biasanya para tamu mengambil semua makanan karena ingin mencicipi semuanya. Namun makanan yang berlebih tersebut tidak mereka makan semuanya sehingga masih banyak yang tersisa. Padahal di negara lain seperti di Jerman, jika ada yang mengambil makanan berlebihan dan tidak dihabiskan maka akan didenda.

Saat ini pihaknya memang tengah menggalakkan upaya menekan food lost dan waste food. Tujuannya tentu adalah produktifitas meningkat sehingga penghasilan para petanipun juga mengalami peningkatan.

Seperti yang dilakukan hari ini, pihaknya menggelar workshop bertema pengurangan food loss dan waste food dengan melibatkan 20 negara. kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan MACS-G20 pada 5-7 Juli 2022 di Bali dan Workshop Teknis Perubahan Iklim pada 3-5 Agustus 2022 di Bogor.

Workshop yang digelar selama dua hari tersebut bertujuan untuk mendukung pencapaian target SDG 12.3, mengurangi separuh sisa makanan di tingkat ritel, layanan makanan, dan rumah tangga, mengurangi kehilangan makanan di seluruh rantai pasokan serta memfasilitasi kerja sama dan jejaring di antara negara ASEAN.

"Ada banyak makanan yang terbuang di seluruh dunia, sedangkan kebutuhan pangan dunia pada tahun 2050 akan meningkat 50-100 persen sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 9,7 miliar. Kalau kita lihat di dunia berapa banyak loss makanan yang hilang, melihat dari budidaya on farm, sampai off farm. Belum lagi waste kita," ujarnya.