Konten Media Partner

Karnaval Pakaian Barang Bekas Menuju Bantul Bebas Sampah

Tugu Jogjaverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Penyelenggaraan karnaval pakaian barang daur ulang atau Recycle Fashion Carnival (RFC) 2018 di Bantul, Minggu (18/3/2018) bukan tanpa alasan. Dalam jangka pendek, kegiatan tersebut untuk menghibur masyarakat dengan penampilan peserta yang mengenakan pakaian dan produk-produk hiasan dari barang bekas atau daur ulang.

Karnaval Pakaian Barang Bekas Menuju Bantul Bebas Sampah
zoom-in-whitePerbesar

Bupati Bantul Drs H Suharsono saat memberikan sambutan pada pembukaan karnaval pakaian dari barang daur ulang di Lapangan Trirenggo, Kabupaten Bantul, DIY, Minggu (18/3/2018). Foto : Philipus Jehamun/kumparan.com/tugujogja

Namun, dalam jangka panjang kegiatan tersebut untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang barang bekas atau sampah. Dan hal ini dilakukan untuk mewujudkan Bantul bebas sampah tahun 2019.

"Saya mendukung kegiatan ini karena sebagai salah satu upaya sosialisasi kepada masyarakat bahwa barang bekas tidak boleh dibuang tapi harus dikumpulkan dan ditabung untuk kemudian diolah menjadi barang bernilai ekonomi dan seni tinggi. Bila masyarakat punya kesadaran demikian maka diharapkan lingkungan akan bersih, bebas dari sampah dan target Bantul bebas dari sampah tahun 2019 akan tercapai," kata Bupati Bantul Drs H Suharsono dalam sambutan saat membuka RFC 2018 di Lapangan Trirenggo depan Rumah Dinas Bupati Bantul, Minggu (18/3/2018).

Menurut Bupati, melalui karnaval ini masyarakat semakin tahu dan sadar bahwa barang bekas bukanlah sampah yang harus dibuang tapi dikumpulkan dan ditabung melalui bank sampah atau diolah sendiri menjadi produk kerajinan yang bernilai ekonomi dan seni tinggi. Bila kesadaran itu telah tumbuh maka lingkungan akan bersih dan bebas dari sampah, terutama sampah barang bekas.

Pendiri Bank Sampah Gemah Ripah Bambang Suwerda SST MSi selaku penggagas dan penyelenggara RFC 2018 mengatakan, karnaval ini memiliki pesan penting kepada masyarakat bahwa barang bekas bukanlah sampah yang harus dibuang. Barang bekas, seperti plastik, botol plastik bekas air mineral atau minuman ringan, bekas bungkus makanan ringan buatan pabrik dan sebagainya, sangat berharga sehingga tidak boleh dibuang, apalagi dibuang di sembarang tempat.

"Selain bisa diolah sendiri menjadi barang bernilai seni tinggi, barang bekas tersebut juga bisa disimpan atau ditabung di bank sampah manapun, termasuk di Bank Sampah Gemah Ripah. Selain bisa mendapat uang hasil menabung barang bekas di bank sampah, masyarakat juga bisa ikut berperan dan berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan lingkungan bersih maka masyarakat sehat karena lingkungan bersih," kata Bambang Suwerda yang juga Dosen Poltekes Yogyakarta ini.

Karnaval Pakaian Barang Bekas Menuju Bantul Bebas Sampah (1)
zoom-in-whitePerbesar

Para peserta yang mengenakan "pakaian" yang terbuat dari barang bekas seperti kertas koran, botol plastik bekas air mineral, plastik kresek, bekas bungkusa shampo dan sebagainya bersiap-siap mengikuti karnaval di Lapangan Trirenggo, Kabupaten Bantul, DIY, Minggu (18/3/2018). Foto : Philipus Jehamun/kumparan.com/tugujogja

Karena itu, Bambang Suwerda bertekad karnaval pakaian dan produk kerajinan dari barang daur ulang akan dilakukan rutin setiap tahun. "Selain untuk edukasi, mengumpul dan menabung barang bekas akan mendapatkan uang sebagai dampak ikutan dari menabung barang bekas di bank sampah. Dan dalam jangka panjang lingkungkan akan semakin bersih," kata Bambang Suwerda. (lip)