Konten Media Partner

Kata Keluarga dari Warga Temanggung yang Meninggal Diduga Dianiaya Anggota TNI

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana rumah warga Temanggung yang meninggal usai terlibat cekcok dengan anggota TNI. Foto: ari/Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Suasana rumah warga Temanggung yang meninggal usai terlibat cekcok dengan anggota TNI. Foto: ari/Tugu Jogja

Meninggalnya Argo Wahyu Pamungkas (32), warga Dusun Bugen, Desa Geblok, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menyisakan pertanyaan bagi keluarga. Pasalnya, Argo meninggal usai sebelumnya sempat terlibat keributan dengan salah satu anggota TNI dari Satuan Mekanis Raider 411/Pandawa/6/2 Kostrad yang bermarkas di Salatiga Kamis (1/9/2022) lalu.

Lantaran meninggalnya diduga tidak wajar maka pihak keluarga pun meminta Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa untuk memperhatikan kasus ini dan membuka secara terang benderang. Kendati permintaan maaf sudah ada dari pihak TNI namun persoalan hukum atas kematian Argo harus diusut tuntas.

Didit kakak kandung korban mengatakan, lebih menyakitkan lagi ada pemberitaan dari sebuah media online yang dirasa mendiskreditkan korban. Yakni, anggota Yonif MR 411/6/2 Kostrad dikeroyok oleh lima pemuda bertato dan dalam pengaruh minuman keras di Pasar Blauran Salatiga. Bahkan disebut di situ Argo dan rekan-rekannya adalah preman.

"Adik saya itu bukan preman, tapi pejuang keluarga. Memang badannya bertato tapi bukan berarti preman. Ini yang kemudian membuat keluarga kami tidak terima. Semestinya kalau memang ada salah paham dengan anggota ya diselesaikan dengan baik, bukan kemudian malah diambil dianiaya dan dibawa ke batalion, yang tahu-tahu adik saya dan kawan-kawannya di bawa ke rumah sakit, adik saya kritis lalu meninggal," katanya Selasa (6/9/2022).

Ia sanksi jika adiknya dalam pengaruh minuman keras, sebab kepergian dari Temanggung ke Salatiga adalah permintaan bosnya di percetakaan Surya untuk memasang neon box di sebuah tempat di Kota Salatiga. Namun di jalan terlibat senggolan dengan Pratu RW yang sedang berboncengan dengan istrinya kemudian terjadilah keributan dan berujung meninggalnya Argo.

kumparan post embed

"Ya, logikanya kalau mabuk mana mungkin bisa menyelesaikan pekerjaannya, sebab dia harus naik ke atas untuk masang neon box. Kalau ada salah menyenggol motor anggota TNI mestinya bisa diselesaikan baik-baik namanya juga di jalan. Tolong ini diluruksan, adik saya bukan preman. Sekali lagi kepada Bapak Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa kami minta agar kasus ini dibuka secara terang benderang," katanya.

Sebagaimana diketahui, Argo meninggal usai menjalani perawatan di RST dr.Asmir Salatiga bersama empat rekannya, yakni Ali Akbar Inung Rafsanjani (20) warga Ngumbulan RT 03 RW 03, Kelurahan Candimulyo, Kecamatan Kedu, Yahya (22), warga Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Ari Suryo Saputro (23) warga Munding Kidul, Desa Kundisari, Kecamatan Kedu, Arif Fahrurrozi (22) warga Parakan.

Keterangan Kadispenad TNI

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Tatang Subarna, menyebut bahwa insiden yang melibatkan oknum TNI Yonif 411/Raider Salatiga, terjadi pada Kamis (1/9/2022). Peristiwa tersebut dipicu oleh adanya pengeroyokan yang dilakukan oleh kelima orang warga Temanggung tersebut terhadap Pratu RW yang tak lain adalah anggota Yonif 411/Raider Salatiga.

Kronologinya, Pratu RW yang saat itu tengah memboncengkan sang istri yang sedang hamil 6 bulan terserempet oleh rombongan yang terdapat dalam satu unit mobil pick up di sekitar depan rumah dinas Wali Kota Salatiga.

Bukannya berhenti dan meminta maaf, Argo Wahyu Pamungkas dan keempat temannya justru langsung kabur dari lokasi. Bahkan, sebelum kabur dari lokasi, Argo Wahyu Pamungkas dan keempat temannya sempat membentak Pratu RW dan istri.

Namun yang bersangkutan tidak menghiraukan dan sesampainya di Pasar Blauran, Pratu RW malah dihentikan oleh Argo Wahyu Pamungkas. Selanjutnya Argo Wahyu Pamungkas bersama keempat temannya tersebut dikabarkan mengeroyok Pratu RW.

Istri Pratu RW yang panik dan ketakutan melihat suaminya dikeroyok dan tersungkur di jalan, lanjut Brigjen Tatang, lantas meminta pertolongan di WA Grup leting suaminya.

Selanjutnya, teman-teman leting Pratu RW melakukan pencarian hingga akhirnya berhasil menemukan para pelaku pengeroyokan. Mereka kemudian langsung dibawa ke Yonif 411/Raider sebelum akhirnya dilarikan ke RST Dr. Asmir Salatiga karena mengalami luka-luka.

Karena pengeroyokan itu, Pratu RW juga menderita sejumlah luka-luka pada tubuhnya, serta harus mendapat perawatan di RST dr. Asmir Salatiga. Diduga, para warga Temanggung yang mengeroyok Pratu RW di Pasar Blauran itu, tengah dalam pengaruh minuman keras (miras).

"Setelah mendapatkan perawatan, pada Jumat (2/9/2022) satu orang pengeroyok (Argo Wahyu Pamungkas) dinyatakan meninggal dunia dan 4 orang lainnya masih menjalani pengobatan di RST Dr. Asmir Salatiga,” jelasnya.

Kini, kejadian tersebut tengah dalam penanganan Denpom IV/3 Salatiga yang berkoordinasi dengan pihak Polres Salatiga untuk proses lebih lanjut.

Keluarga Bantah Keterangan Kadispenad TNI

Namun, keterangan dari Kadispenad tersebut menurut Didit tidak semuanya benar. Dari informasi yang diterimanya, memang Argo dan kawan-kawan sempat bersenggolan dengan Pratu RW, kemudian dikejar. Dalam pengejaran itu Pratu RW sempat menoyor salahsatu kepala kawan Argo yang duduk di bak belakang mobil, kemudian menghentikan laju kendaraan.

Di situ terjadi cek-cok antara korban dengan anggota TNI tersebut kemudian duel satu lawan satu, namun Argo kalah kemudian kawan-kawannya yang semula bermaksud melerai terpancing emosi maka sempat ikut memukul Pratu RW. Setelah itu dua kubu pergi, Argo CS melanjutkan tugas memasang neon box di kawasan Kota Salatiga, tak tahunya mereka didatangi sejumlah anggota TNI yang langsung melakukan pemukulan dan membawanya ke markas TNI.

"Kalau diamankan semestinya ya tidak dianiaya, tapi ini langsung dipukul dan di bawa ke markas. Nah, di sini kami tidak tahu apa yang terjadi karena di dalam kesatuan. Hanya kami dapat kabar kalau adik saya dan kawan-kawannya di bawa ke rumah sakit, dan kemudian Argo meninggal. TNI kan dari rakyat untuk rakyat, tapi kenapa justru seperti ini," katanya. (ari)