Konten Media Partner

Kata Mahasiswa UNY Kesulitan Bayar UKT, Syarat Ajukan Penurunan: Ortu Meninggal

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
UNY. Foto: Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
UNY. Foto: Tugu Jogja

Cerita Nur Riska Fitri Aningsih dan perjuangannnya berjuang membayar uang kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) rupanya hanya sekelumit kisah pilu. Ternyata, ada banyak Riska-Riska yang lain yang juga berkutat dengan masalah yang serupa saat menjalani perkuliahan yakni sulitnya membayar Uang Kuliah Tunggal atau UKT dan proses birokrasi kampus yang dinilai rumit.

Baru-baru ini, sebuah forum diskusi yang digelar oleh UNY Bergerak, membuka lebih luas tabir yang selama ini menutupi kampus tersebut. Benar saja, tak hanya puluhan tapi ribuan cerita pengakuan tentang sulitnya mengakses UKT terjangkau. Beberapa dari mahasiswa itu bahkan sampai harus merelakan mimpinya untuk melanjutkan kuliah di kampus yang bermoto Leading in Character Education.

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNY Rachmad Ganta Semendawai yang belakangan ini viral setelah mengunggah thread tentang Riska menyebut bahwa ada 97 persen dari 1.045 mahasiswa mengaku kesulitan membayar UKT. Jumlah itu didapatkan dari survei oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi UNY bersama UNY Bergerak mulai dari 21 Desember 2022 hingga 2 Januari 2023 dan itu pun belum mencakup seluruhnya.

"97 persen dari yang mengisi angket yang disebarkan UNY Bergerak mengatakan bahwa UKT yang mereka terima tidak sesuai kemampuan bayar mereka," sebutnya dalam diskusi bertajuk 'Ada Apa Dengan UNY?' yang digelar Senin (16/1/2023) malam.

kumparan post embed

Ganta lantas menyoroti salah satu kebijakan dari UNY yang dirasanya tidak memihak mahasiswa. Kebijakan yang dimaksudnya ialah kebijakan keringanan UKT yang diberikan pihak kampus di masa pandemi COVID-19.

Sudah bukan rahasia, gelombang COVID-19 berdampak besar pada perekonomian di berbagai daerah termasuk Indonesia hingga membuat banyak orang tua mahasiswa yang terkena PHK hingga sulit membayar biaya pendidikan. Masalah tak berhenti di situ, ketika mencoba mengajukan keringanan UKT, syarat yang diajukan justru dinilai di luar nalar.

"Ada 1000 lebih kisah yang dihimpun UNY Bergerak dan cukup tragis," sebutnya.

"Ada yang bapaknya di-PHK pas pandemi ngajuin penurunan (UKT) syaratnya orang tua meninggal," beber Ganta.

Ia menilai bahwa kebijakan tersebut tidak waras.

"Jadi bayangkan orang tua sudah di-PHK, setelah di-PHK pas pandemi belum dapet kerja juga. Tapi kemudian persyaratan untuk turun UKT orang tuanya meninggal dulu. Artinya ini sesuatu yang nggak waras, siapa yang ingin orang tuanya meninggal cuma untuk penurunan UKT. Itu mengerikan," ujar dia.