Konten Media Partner

Kiat Lurah Panggungharjo Bantul Sadarkan Masyarakat untuk Memilah Sampah

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang warga sedang memilah sampah di Panggungharjo, Bantul. Foto: Tugu Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Seorang warga sedang memilah sampah di Panggungharjo, Bantul. Foto: Tugu Jogja

Penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan kembali terulang untuk kesekian kalinya. Persoalan TPST Piyungan yang sudah penuh dan tak mampu lagi menampung sampah memang sudah berulang kali mencuat.

Kalurahan Panggungharjo Kapanewon Sewon Bantul menjadi salah satu Kalurahan yang telah berhasil menangani persoalan sampah mereka. Bahkan kini mereka mampu menjadikan pengelolaan sampah ini menjadi bisnis yang mendatangkan cuan tidak sedikit.

Lurah Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi menuturkan, untuk mengelola sampah yang dihasilkan masyarakat pihaknya membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kupas. Kupas sendiri berarti Kelompok Usaha Pengelola Sampah. Kupas ini sejatinya sudah mulai ada sejak tahun 2013.

"Dulu konsepnya memang masih belum baku. Dan sekarang insya Allah bisa profit,"kata dia.

Ada sistem yang mereka terapkan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya mengelola sampah. Mereka berusaha agar masyarakat sudah melakukan pemilahan sampah di rumah masing-masing.

Pihaknya memang menetapkan retribusi berbeda untuk sampah yang harus mereka tampung. Untuk sampah ukuran anorganik nanti akan mereka beli perkilogram sesuai jenisnya, sementara sampah organik akan mereka ambil cuma-cuma dan untuk sampah residu akan mereka Bebani retribusi Rp 1.000 perkilogramnya. Belum lagi limbah kaca yang juga ada nilainya sendiri.

kumparan post embed

"Ini sangat penting untuk edukasi. Jadi masyarakat akan terbiasa untuk memilah sampah. Karena sebenarnya masyarakat juga bisa mendapatkan rupiah dari sampah ini,"kata dia.

Sistem ini memang cukup berhasil mengubah perilaku masyarakat Panggungharjo dalam mengelola sampah. Awalnya hanya 18 orang saja yang sadar, namun kini sudah mencapai 1.600 orang. Dari sistem tersebut kini perbulan mereka mampu meraup omzet Rp 80 juta dan mempekerjakan puluhan orang.

Pengelola TPST Piyungan pun mengaku volume sampah yang masuk terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Nampaknya imbauan pemerintah untuk memilah sampah atau mengurangi produksi sampah di hulu ternyata tak banyak ditaati oleh masyarakat.

Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) TPST Piyungan, Jito mengungkapkan kini volume sampah yang masuk ke TPST Piyungan mencapai 750 ton perhari. Pihaknya mendorong kepada Pemerintah Daerah (Pemda) tingkat II yaitu Kabupaten/Kota untuk menyelesaikan sampah dari hilir.

"Kalau sampah diselesaikan dari hilir maka persoalan TPST Piyungan akan selesai," kata dia.