Warga Jogja Diimbau Optimalkan Pemilahan Sampah Rumah Tangga
·waktu baca 3 menit

Permasalahan sampah masih menjadi persoalan yang masif dan belum terselesaikan. Bahkan di Yogyakarta sendiri kini menjadi salah satu kota yang darurat karena sampah, apalagi sempat ditutupnya Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan.
Penutupan TPST Piyungan berdampak cukup signifikan terhadap kebersihan di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. Karena penutupan TPST Piyungan, kebersihan di 3 lokasi yang biasa membuang sampahnya di TPST Piyungan itu jadi berantakan.
Sebagai salah satu solusi atas persoalan sampah, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kini secara resmi telah menghadirkan Klinik Bank Sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto mengatakan Klinik Bank Sampah ini sebagai galeri khusus untuk mendaur ulang sampah.
Sugeng juga meminta agar masyarakat dapat mengoptimalkan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga sehingga sampah yang dibuang ke TPA Piyungan hanya sampah organik.
"Jika pemilahan sampah ini bisa dilakukan dengan baik, maka volume sampah yang dibuang ke TPA Piyungan tidak akan terlalu banyak karena hanya ada sampah organik saja,” kata Kepala DLH Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, Selasa (1/11/2022).
Saat ini volume sampah yang diproduksi Kota Yogyakarta rata-rata mencapai 340-370 ton per hari dengan 56 persen di antaranya merupakan sampah organik.
Sementara sampah anorganik diharapkan dapat dikelola di rumah tangga atau berhenti di bank sampah atau tersaring di TPST Nitikan 2 yang diupayakan akan mulai beroperasi pada 2023 mendatang.
Selain meminta masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, DLH Kota Yogyakarta rupanya juga bermitra dengan Forum Bank Sampah (FBS) untuk meningkatkan peran bank sampah dalam melakukan pengelolaan dan pengurangan sampah.
“Kami berharap 565 bank sampah, tidak hanya fokus pada sampah anorganik saja tetapi harus mulai meningkatkan pengelolaan sampah organik meskipun ada 180 bank sampah yang tidak aktif,” katanya.
Ketua Forum Bank Sampah Kota Yogyakarta Aman Yuriadijaya mengaku sudah menyiapkan sejumlah langkah strategis dengan upaya meningkatkan jumlah anggota.
Menurutnya apabila anggota FBS ini mumpuni maka volume sampah yang dikelola akan semakin banyak dan lebih cepat terselesaikan.
"Bank sampah kami ini sudah cukup optimal, karena jumlah nya sudah 565. Yang menjadi penting lagi adalah menambah anggota di masing-masing bank sampah menjadi strategi utama kami," kata Aman
Terkait produk daur ulang sampah dari sejumlah Bank Sampah di Kota Yogyakarta itu, Aman mengatakan akan dipamerkan di Galeri Daur Ulang Sampah di kantor DLH Kota Yogyakarta dan dipasarkan secara daring.
Lebih lanjut, Aman berharap dengan adanya klinik bank sampah ini dapat menjadi media yang cukup positif yang menggerakkan ratusan TPST yang tidak sehat itu menjadi produktif.
“Kami berharap masyarakat akan memiliki kesadaran untuk mengelola sampah secara mandiri,” lanjutnya.
Sementara Penjabat Wali Kota Yogyakarta Sumadi berencana akan menyusun regulasi untuk mendukung upaya pengurangan sampah yang dibuang ke TPA Piyungan.
"Bagaimana nanti, segera buat regulasi bahwa yang akan kita angkut ke TPA Piyungan adalah sampah organik, sehingga nanti yang sana bisa diselesaikan dengan baik," ujarnya
Sumadi sepakat bahwa sampah anorganik itu harus mulai berhenti di masyarakat saja kemudian di serahkan ke Forum Bank Sampah untuk didaur ulang.
Meskipun merupakan olahan dari sampah, Sumadi mengatakan pihaknya juga akan membantu dalam memasarkan produk hasil daur ulang sampah itu menjadi barang layak pakai dan memiliki nilai jual.
"Nanti dipasarkan lewat website kita bahkan tadi saya sudah minta kalau ada pameran pameran ya kita tampilkan ya ini produk dari persampahan yang kita jual," tandasnya. (Maria Wulan)
