Konten Media Partner

Oknum Guru Ngaji Cabuli Gadis dan Ibu Rumah Tangga di Gunungkidul

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pencabulan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pencabulan. Foto: Pixabay

Aksi pencabulan yang dilakukan oleh oknum seorang guru mengaji kembali terjadi di lingkup kerja Polda DIY. Kali ini oknum guru mengaji dan pelatih musik islami, hadroh di Kalurahan Mulo Kapanewon Wonosari Gunungkidul disidang warga karena telah melakukan pencabulan.

Aksi pencabulan tersebut dialami dua orang gadis masing-masing berusia 18 dan 20 tahun dan seorang ibu rumah tangga. Dua gadis tersebut tinggal di padukuhan yang sama dengan oknum guru mengaji tersebut. Padukuhan tersebut berada di sisi utara Kalurahan Mulo.

Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan mengatakan, pertengah pekan kemarin, oknum guru ngaji dan hadroh tersebut terakhir melakukan aksi bejatnya dua pekan yang lalu. Aksi bejat tersebut terungkap setelah keluarga korban curiga dengan gelagat korban.

Saat itu korban terlihat murung dan enggan untuk ikut mengaji ataupun latihan hadroh kembali. Setelah diinterograsi ternyata korban mengaku telah dicabuli oleh oknum guru mengaji dan pengampu musik islami Hadroh yang berinisial G.

kumparan post embed

"Itu sempat dimediasi di rumah pak dukuh," ujar salah seorang tokoh masyarakat padukuhan tersebut yang enggan disebutkan namanya, Senin (27/9/2021).

Oknum guru mengaji dan hadroh tersebut adalah G, lelaki yang berumur sekitar 35 tahun. Dalam kesehariannya, dia sebenarnya adalah seorang penjaga sekolah sekaligus Tenaga Tata Usaha (TU) di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Kalurahan Mulo.

Di padukuhan sisi utara Kalurahan Mulo, berdasarkan informasi ada dua gadis yang telah menjadi korban aksi bejatnya. Modus yang ia gunakan adalah mengelabui gadis yang menjadi murid mengajinya untuk mengikuti kegiatan ritual yang ia selenggarakan.

Menurut dia, dua orang gadis telah menjadi korban kebejatan yang bersangkutan. Di mana gadis yang pertama bahkan sudah berhubungan badan, sementara korban kedua baru sebatas meraba-raba.

Kedua korban adalah murid mengaji dan juga murid hadroh (kesenian islami) yang ia ampu di masjid Padukuhan tersebut. Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat ini, memang kelompok hadroh dan mengaji semua peserta adalah perempuan.

"Aksi yang pertama dilakukan di Sungai dan satunya di kuburan," ungkap dia.