Konten Media Partner

Profil Shinta Ratri, Pendiri Ponpes Waria Al Fatah di Jogja yang Meninggal Dunia

Tugu Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Shinta Ratri, pendiri Ponpes Waria Al Fatah yang meninggal. Foto: Instagram/@ponpeswaria
zoom-in-whitePerbesar
Shinta Ratri, pendiri Ponpes Waria Al Fatah yang meninggal. Foto: Instagram/@ponpeswaria

Kabar duka datang dari Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al Fatah di Jogja. Shinta Ratri, salah satu pendiri ponpes waria tersebut dikabarkan meninggal dunia, Rabu (1/2/2023).

Menurut kabar yang dihimpun, Shinta Ratri meninggal dunia lantaran serangan jantung di Rumah Sakit Umum Daerah Wirosaban, Yogyakarta. Jenazahnya disemayamkan di rumah orang tuanya di Jagalan, Kotagede.

“Ibu Shinta Ratri telah meninggal dunia tadi pagi di RSUD Wirosaban. Informasi dari dokter, beliau meninggal karena serangan jantung,” seperti dikutip dari akun media sosial Ponpes Waria Al Fatah.

Semasa hidupnya, sosok Shinta Ratri begitu vokal dalam membantu para transpuan untuk mendapatkan haknya. Salah satu yang diperjuangkan transpuan kelahiran 15 Oktober 1962 itu ialah hak beribadah.

Sebelum terjun ke dunia aktivis, sosok yang terlahir dengan nama Tri Santoso Nugroho ini pernah mengenyam pendidikan di SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta. Dia pun kemudian melanjutkan pendidikannya di Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), namun tidak menamatkannya.

kumparan post embed

Perjalanannya bersama dengan ponpes ini dimulai di tahun 2008. Kala itu, Shunta bersama Maryani mendirikan Ponpes Waria Al Fatah yang awalnya berlokasi di wilayah Notoyudan, Yogyakarta.

Di pondok itu, ia dan rekannya merangkul para transpuan lainnya untuk bergabung. Layaknya kegiatan di ponpes biasa, para transpuan di sana rutin engaji, mengulas tafsir Alquran, sholat berjamaah dan kegiatan bersifat kerelawanan lainnya.

Selepas, meninggalnya Maryani pada 2014, Shinta mengambil alih kepemimpinan ponpes Al Fatah dan memindahkan ponpes ke Desa Jagalan, lokasi ponpes itu berdiri hingga saat ini.

Jalannya selama menjadi pengasuh Ponpes Al Fatah tak selalu mulus. Di tahun 2016, kelompok FJI mempersekusi ponpes tersebut. Kelompok itu menuding, bahwa kegiatan dalam pesantren sesat.

Namun ponpes tersebut justru mendapat dukungan dari banyak pihak mulai dari LSM, aktivis sosial, Komnas Perempuan, Komnas HAM. Hingga akhirnya Ponpes Al Fatah masih berdiri tegak hingga saat ini.

Buah dari perjuangannya membawa Shinta Ratri menerima penghargaan dari Front Line Defenders, organisasi internasional untuk perlindungan pembela HAM berbasis di Irlandia di tahun 2019. Penghargaan tersebut diberikan bagi para pembela HAM berisiko tinggi yang mengalami kekerasan.

Kemudian Shinta juga memperoleh penghargaan bidang keanekaragaman dan pembangunan berkelanjutan dari lembaga Casa Asia yang berbasis di Spanyol pada Juli 2022.