Sultan HB X Berharap Industri Fashion di Jogja Berorientasi Ekspor
ยทwaktu baca 3 menit

Jogja Fashion Week (JFW) 2022 kembali digelar di Jogja Expo Center (JEC) mulai tanggal 26-30 Agustus 2022. Dengan mengambil tema 'Karya Wastra Bhinneka'. Sebanyak 79 Desainer berasal dari DIY dengan 6 dress rancangannya.
Selain itu, kegiatan ini juga menyelenggarakan pameran industri fashion dari DIY. Setidaknya ada 100 stand dan diikuti oleh 100 Industri Kecil Menengah (IKM) Fashion akan mengikuti.
Gubernur DIY Sri Sultan HB X menuturkan JFW telah memberikan nilai berbeda dengan tahun lalu. Dan berdasarkan kondisi pengalaman menangani COVID-19 pemerintah berusaha menkonsolidasikan potensi yang ada agar Jogja tetap tumbuh.
"Sehingga itu yang terjadi. Jogja tetap tumbuh," ujar dia, Jumat (26/8/2022).
Sultan HB X melihat jika fashion di Yogyakarta telah menjadi kekuatan baru yang mampu memberi kontribusi bagi perekonomian DIY dan mampu membuka lapangan kerja baru bagi DIY. Hal tersebut perlu dimaksimalkan lagi agar kontribusinya bisa lebih besar.
Menurut Sultan HB X, produk budaya dan tradisi di DIY cukup banyak. Pihaknya tidak pernah memperkirakan produk UMKM bakal diminta mengisi di Bandara YIA. Bahkan Dinas Koperasi dan UKM mendukung UMKM lewat program Sibakul.
Saat ini sudah ada 208 ribu lebih para UMKM seluruh Indonesia yang memanfaatkan aplikasi Sibakul. Program tersebut dianggap cukup menolong UMKM. Bahkan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan triwulan kedua ini, 30,1 persen pertumbuhan ekonomi disokong dari aplikasi Sibakul.
Oleh karena itu, pihaknya kini mencoba mengkonsolidasikan fashion. Tidak hanya dari sisi pakaian batik maupun non batik tetapi sepatu, tas dan lain sebagainya. Hal tersebut juga harus dikonsoladiskan ke arah industri agar sumbangan lebih besar lagi.
"Makanya kami memberanikan diri membeli eks hotel mutiara. Tahun ini dibangun dua tahun anggaran. Harapannya 2024 fashion harus siap karena di sana ada fashion," ungkapnya.
Nantinya di Eks Hotel Mutiara ini akan diisi oleh pengusaha kecil dan menengah dari DIY. Karena menurutnya DIY tidak perlu industri besar karena industri menengah dan kecil sudah bisa. Ia khawatir jika industri besar maka penyerapan tenaga kerja tidak maksimal.
Sultan HB X mengklaim saat ini pihaknya berusaha keras untuk mengkonsolidasikan sektor industri. Di mana saat ini tetap yang menjadi mayoritas adalah industri tekstil. Dan jika fashion mengkonsolidasikan menjadi industri maka ruang fashion harus diback uap untuk jadi industri.
"Kami berharap UMKM memiliki orientasi lebih internasional," terangnya.
Sultan HB X mengungkapkan bahwa pada bulan Maret 2023 nanti pihaknya akan melakukan penandatanganan dengan negara Victoria. Nantinya ia berharap fashion akan masuk agar nanti pelaku fashion bisa belajar manajemen dan marketing dengan orientasi ekspor.
Hanya saja, nanti semua produk harus melalui kurasi terlebih dahulu. Sehingga produk dihasilkan mampu mencapai standar produk nasional dan internasional. Sehingga nanti Industri fashion memasuki market internasional.
