Viral Curhatan Warga Bantul soal Oknum Guru yang Bunuh Cita-cita Anak
ยทwaktu baca 3 menit

Belum lama ini, jagat maya di media sosial Twitter dihebohkan dengan sebuah postingan yang berisi tentang curahan hati orang tua terkait masa depan anaknya.
Akun Twitter dengan username @bambangwn itu membuat thread yang menceritakan bagaimana awal mula sang anak depresi hingga menjalani terapi ke psikiater. Postingan tersebut menuding ada oknum guru telah membunuh cita-cita anaknya dengan mencibir karena ingin menjadi penyanyi.
"Tahun 2010 anak saya tersebut kelas 8 (2 SMP). Waktu itu, sang guru sedang bertanya kepada siswa di kelasnya tentang cita-cita para siswa tersebut kelak ingin menjadi apa. Biasa, muncul jawaban klasik, bahkan klise. Ada yang ingin menjadi Dokter, Polisi, Tentara, Guru, Pilot," tulis akun @bambangwn pada 20 Februari 2023 lalu.
Setiba giliran anaknya, Bambang menyebut sang anak dengan lantang menjawab, "Saya ingin jadi penyanyi!". Namun, ketika mendengar jawaban itu, reaksi guru tampak mengejutkan.
"Mbok cita-cita itu yang beneran, kayak teman2mu tadi Iho... mosok jadi penyanyi,"... teman sekelasnyapun tertawa. Anak saya tertegun, lantas menjawab lirih, Saya ingin jadi dokter...," lanjutnya menceritakan kejadian.
Perkataan sang guru itupun begitu membekas bagi anaknya itu. Hal ini terlihat lantaran sang anak mulai jarang tampil bernyanyi dan bermain musik.
Sementara alat musik yang dimiliki seperti Piano, biola, gitar, keyboard, recorder soprano, hanya menjadi barang yang tergolek berdebu yang tidak pernah dimainkan lagi.
OmDos Bambang W Nugrogo yang merupakan warga Bantul itu kemudian bercerita bahwa dia mendidik anaknya sedari kecil untuk bersikap jujur. Setiap mengikuti lomba pun Bambang selalu menekankan pada anaknya kalah dengan jujur lebih baik daripada menang tapi curang.
Karena terlatih jujur itulah, sang anak berpegang erat akan cita-citanya sebagai dokter. Bahkan, Bambang mengatakan setiap anaknya ditanya oleh siapa pun jurusan apa kuliahnya nanti, dia selalu menjawab Fakultas Kedokteran.
"Dan benar. Ketika tes masuk perguruan tinggi di tahun 2016, dia hanya mengincar Fakultas Kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter," kata OmDos Bambang W Nugroho.
Namun sayangnya, setelah dijalankan sekitar 3 tahun jiwa sang anak terganggu.
Bambang menceritakan perubahan pada diri anaknya yang seketika menjadi pemberontak, keras, kaku dan pembantah. Hal itulah yang membuat anaknya terpaksa menjalani perawatan hampir setahun lamanya oleh psikiater akibatnya menunda untuk ikut KoAs.
Karena fisik sang anak yang melemah dan daya pikirnya melambat akibat efek samping obat yang diminum, kemampuan dan minatnya menjadi dokter tak ada harapan kembali. Alhasil Bambang akhirnya membuat surat pernyataan pengunduran diri anaknya dari program profesi kedokteran.
"Ya, kami sadar, cita-cita anak saya yang sebenarnya sudah 'dibunuh' oleh gurunya sendiri," paparnya.
Memang tidak ada kerugian materil yang dialami, Kendari demikian Bambang berharap tidak ada lagi guru yang mematikan cita-cita anak didiknya.
"Kami sudah ikhlas dan mendoakan semoga di Bantul, di Indonesia, dan di seluruh dunia ini, tidak ada lagi guru seperti itu," pungkasnya.
Ketika dikonfirmasi Bambang Gunawan membenarkan hal tersebut. Bambang mengatakan pada intinya orangtua tidak tahu awal mula yang terjadi pada anaknya. Mereka baru mengetahui ketika anak tersebut sudah sembuh dari penyakitnya.
"Kami tahu setelah dia sembuh. Setelah sembuh dia mau cerita," kata dia, Kamis (24/2/2022).
Dia menambahkan, pertama kali ikut Koas 2 semester yang lalu, anaknya sudah tidak performance lagi. Setiap diperintah untuk memegang alat ataupun melakukan sesuatu berkaitan dengan penanganan pasien, anaknya tidak pernah bersedia melakukannya
"Ya akhirnya saya memutuskan agar anak saya mengundurkan diri," terangnya.
