Mereka Para Pejuang Lingkungan dan Kemanusiaan Melalui CCF
Aksi Climate Change Frontier (CCF) dalam bidang lingkungan dan kemanusiaan banyak mendapatkan dua jempol dari berbagai kalangan. Selain ada sosok Eko Baskoro yang sudah diulas sebelumnya, ada sejumlah pentolan lain yang membuat gerak CCF begitu masif di Jawa Timur dan Bali.
Berikut profile sejumlah pentolan CCF. Mereka selama ini, bergerak jauh dari sorot kamera, tapi keberadaannya begitu penting. Khususnya, terkait kampanye sedotan plastik di instansi-instansi yang kini begitu masif.
Alexander Yabes Dorong Pemda Gulirkan Aturan
Alexander Yabes bergabung pada 2017, meski sebenarnya dia telah aktif membantu CCF sejak organisasi ini berdiri pada 2017."Awalnya saya hanya di balik layar. Memberi masukan kepada Pak Eko (Baskoro, pendiri CCF). Lebih sering konsultasi," ucap pria yang akrab disapa Alex tersebut.
Sedangkan saat ini, dirinya memegang bagian hubungan relasi dengan para sponsor. "Kalau sekarang saya di bagian Relationship Division. Menangani sponsor acara, event, dan juga website," terangnya. Ia menyatakan bahwa banyak event yang telah ia gagas bersama teman-teman di CCF itu sendiri. Ia mencontohkan bahwa gerakan itu antara lain adalah sosialisasi terkait dampak lingkungan hidup yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Batu dalam acara Among Tani Run pada tahun 2018 silam.
Tak hanya itu, pihaknya juga banyak mengkampanyekan kepedulian lingkungan terutama masalah sampah plastik ke masyarakat di acara seperti Car Free Day. Ia menyatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan itu muncul secara lahiriyah saja."Awal ketertarikan itu awalnya saya memang sudah feeling. Ingin peduli terhadap lingkungan hidup dan kemanusian," terangnya.
"Memikirkan anak pasti, tapi itu kan terbatas. Ini memikirkan anakku nanti bagaimana, cucuku nanti bagaimana," ujarnya. Oleh karena itu, dirinya berusah menjaga bumi ini tetap lestari untuk gerasi di masa mendatang.
Namun, tentu saja langkah itu tidak berjalan dengan begitu mudahnya. Menurutnya, banyak dari masyarakat yang tidak begitu mengerti bahaya dari sampah plastik. Ia pun menuturkan hal tersebut.
"Sebab kalau dari masyarakat itu apatis. Misalnya pembagian totebag (tas belanja). Banyak masyarakat yang tidak tahu tujuannya apa. Mungkin awalnya senang dapat tas dan satu kali dipakai, tapi kan tidak selamanya," ujarnya. Ia mencontohkan bahwa Bali sudah melarang penggunaan kantung plastik. Bahkan sudah menjadi peraturan daerah.
"Jadi harapan kami ini lebih mendorong ke Pemda, terutama Jatim untuk mendorong peraturan tersebut," terangnya. Untuk diketahui, CCF memiliki mimpi besar untuk menuntut pemerintah agar membuat peraturan terkait pelarangan sampah plastik pada tahun 2020.
Zainul Cahyadi, Gabung CCF Setelah Prihatin Kondisi Lingkungan Rumahnya
Sosok lain yang begitu penting di Climate Change Frontier (CCF), lembaga yang bergerak di bidang lingkungan dan kemanusian, ialah Zainul Cahyadi. Salah satu motor penggerak dalam kampanye anti sampah plastik dan anti sedotan adalah pria kelahiran Bondowoso ini. Perannya di CCF ini adalah sebagai Koordinator Aksi dan Campaign.
Pria yang akrab disapa Adi ini bergabung sejak 2016 lantaran ia prihatin dengan kondisi lingkungan di dekat rumahnya."Karena saya lihat bahwa orang ini tidak terlalu peduli terhadap lingkungan. Sampah buangan di dekat tempat tinggal itu banyak. Oleh karena itu saya ingin bergabung dengan CCF ini," terang Adi.
Ia menyatakan bahwa pihaknya banyak melalukan aksi seperti pembagian tas belanja atau tote bag saat touring, car free day. Tak hanya kepedulian akan lingkungan, pihaknya juga menggagas banyak kegiatan wisata.
"Fokus kami memang di Malang, sedangkan Bondowoso kami sering ke sisi kemanusiaan," ujarnya. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan kemanusiaan itu berupa ptogram bedah rumah, dan juga menyumbang ke yayasan-yasasan atau panti asuhan.
Sedangkan terkait kampanye lingkungan, ia mengungkapkan pernah melakukan aksi bagi-bagi tas belanja secara cuma-cuma saat tur dari Malang menuju Bali. "Jadi kami bagikan 300 totebag saat touring dari Malang ke Bali," ujarnya. Ia menyatakan bahwa meski pada awalnya ingin semuanya dibagikan di Bali, tapi ia juga membagikan itu pada perjalanan pulang di daerah Bondowoso dan Situbondo.
Ia juga menyatakan bahwa terdapat kesulitan dalam kamoanye untuk mengurangi sampah plastik tersebut. "Kadang wisatawan itu ada yang tidak mau (diberi totebag), mungkin awalnya dipikir harus beli," ujarnya.
Oleh karena itu pihaknya juga aksi dan kampanye anti sampah plastik pada pihak cafe dan hotel. Yakni dengan cara tidak menggunakan sedotan plastik.
Kamto, Mudah Dekati Dunia Perhotelan karena Bekerja di Hotel
Sementara itu, Koordinator Campaign Climate Change Frontier yang lain, Kamto juga banyak aktif mengajak hotel-hotel untuk bergabung dalam kampanye anti sampah plastik. Kamto yang bekerja di dunia hotel, yakni di Alpines by Artotel Kota Batu itupun meruoakan sosok yang membuka pintu kampanye itu di banyak hotel di Jawa Timur bahkan provinsi lain.
"Karena kebetulan saya bekerja di hotel, jadi lebih mudah sosialisasinya," terangnya. Ia menyatakan bahwa Selasa (9/4/2019) ini CCF berhasil menggaet Hotel Tugu Malang dan Hotel Harris Malang. Sedangkan ke depan, ia juga bakal deal dengan beberapa hotel terkait kampanye anti sampah plastik itu.
Pada kesempatan itu juga, ia sempat memuji Hotel Tugu yang mana tempat itu sudah meninggalkan penggunaan plastik. Misalnya seperti di kamar tidak disediakan botol mineral plastik, tempat sampah bukan dari plastik, dan gula yamg terbungkus kertas.
"Jadi mungkin Hotel Tugu ini bakal jadi pioneer dan panutan. Karena sudah tidak menggunakan plastik sama sekali," terangnya.
Meski begitu ia juga berusaha mengkampanyekan hal tersebut ke pihak-pihak pemerintahan. "Sebab tujuan kami agar pemerintah stop sampah plastik pada tahun 2020. Dan kami ingin gaungnya itu ingin besar di Malang," tandas pria kelahiran 6 Juli 1986 itu.
Sedangkan selain Hotel Tugu Malang dan Hotel Harris Malang, sejumlah hotel dan kafe yang sudah tidak menggunakan sedotan plastik dan bekerjasama dengan CCF, diantaranya adalah Aria Hotel, Zam Zam Hotel, Amarta Hills Hotel, Seulawah Hotel, Bluebells Hotel, Ollino Hotel, Tugu Hotel, Harris Hotel, The Alana Surabaya, Fave Bojonegoro, Aston bojonegoro, Ubud Hotel, Kafe Pupuk Bawang, Lalapan Enaka Sambal, dan lain-lain. (adv)
Reporter : Gigih Mazda
Editor : Irham Thoriq
