Konten dari Pengguna

10 Puisi Paling Romantis Karya Sastrawan Indonesia (Part 2)

Tutur Literatur

Tutur Literatur

O Captain, My Captain. (Whitman, 1865)

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tutur Literatur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi biasanya terlahir sebagai buah perasaan terdalam penyairnya. Selain bisa dinikmati sebagai sarana ungkapan berekspresi, beberapa puisi juga mampu mempengaruhi dan menyentuh hati para pembacanya. Bagi kamu yang menyukai jenis puisi romantis, berikut ini kami hadiahkan beberapa puisi romantis karya sastrawan ternama di Indonesia. Selamat menikmati!

6. Aku Ingin (Sapardi Djoko Damono)

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

7. Kesadaran (Armijn Pane)

Pada kepalaku sudah direka, Mahkota bunga kekal belaka, Aku sudah jadi merdeka, Sudah mendapat bahagia baka.

Aku melayang kelangit bintang, Dengan mata yang bercaya-caya, Punah sudah apa melintang, Apa yang dulu mengikat saya.

Mari kekasih, jangan ragu Mencari jalan; aku mendahului, Adinda kini

Mari, kekasih, turut daku Terbang kesana, dengan melalui, Hati sendiri

8. Taman Dunia (Asrul Sani)

Kau masukkan aku ke dalam taman- dunia, kekasihku ! kaupimpin jariku, kautunjukkan bunga tertawa, kuntum tersenyum. kau tundukkan huluku tegak, mencium wangi tersembunyi sepi.

Kau gemalaikan di pipiku rindu daun beldu melunak lemah.

Tercengang aku takjub, terdiam. berbisik engkau: "Taman swarga, taman swarga mutiara rupa".

Engkaupun lenyap.

Termanggu aku gilakan rupa.

9. Pacar Senja (Joko Pinurbo)

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai. Pantai sudah sepi dan tak ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk, setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.

“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka.

Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja yang masih megap-megap oleh ciuman senja.

“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.

Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.

Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak dalam gemuruh ombak.

10. Dari Suatu Perpisahan (Ayatrohaedi)

Terkadang ada baiknya kita berduka,

Agar terasa betapa gembira

Pada saatnya kita bersuka

Terkadang ada baiknya kita menangis,

Agar terasa betapa manis

Pada saatnya kita tertawa

Terkadang ada baiknya kita merana

Agar terasa betapa bahagia

Pada saatnya kita bahagia

Dan jika sekarang kita berpisah

Itupun ada baiknya juga

Agar terasa betapa mesra

Jika pada saatnya nanti

Kita ditakdirkan bertemu lagi

Dari semua puisi di atas, yang manakah yang paling menyentuh hatimu?

Oleh: IPE