Konten dari Pengguna

Nicholas Sparks: Penulis Cerita Romantis yang Menyenangi Akhir Tragis

Tutur Literatur

Tutur Literatur

O Captain, My Captain. (Whitman, 1865)

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tutur Literatur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nicholas Sparks: Penulis Cerita Romantis yang Menyenangi Akhir Tragis
zoom-in-whitePerbesar

Mari berkenalan dengan Nicholas Sparks, Ia adalah salah satu penulis cerita cinta romansa yang karya-karyanya dicintai oleh pembacanya di di berbagai belahan dunia. Semua novel yang dihasilkannya menjadi New York Best Seller dan sudah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Hingga saat ini novel-novel Sparks sudah terjual lebih dari 105 juta kopi di seluruh dunia.

Ketika berusia lima belas tahun, novelis asal Amerika serikat ini sudah membaca lebih dari seratus buku dalam setahun dan dari buku-buku yang dibacanya, Sparks belajar sesuatu. Ia belajar bagaimana cara penulis-penulis terkenal membangun ketegangan di dalam sebuah cerita. Selain itu jika ingin menjadi penulis, kita harus konsisten dan fokus menulis genre yang ingin ditulis. Lalu langkah terakhirnya adalah: menulis.

The Notebook adalah novel pertama yang ditulis Sparks pada dan diterbitkan pada tahun 1996. Menariknya, buku itu diselesaikannya dalam waktu enam bulan, ketika ia masih terhitung usia muda yakni 28 tahun. Tak hanya menulis novel romantis, Sparks juga ternyata memiliki kepribadian yang demikian. Tahukah kamu? Setelah novel The Notebook terjual, barang yang ia beli pertama kali adalah cincin pernikahan baru untuk istrinya, Cathy.

Ia juga menerbitkan sejumlah novel romansa lainnya selain The Notebook, diantaranya ada Dear John, The Best of Me, The Longest Ride dan belasan buku lainnya. Namanya semakin dikenal setelah novel Message in Bottle difilmkan dengan bintang utama Kevin Costner di tahun 1999. Ia juga semakin di atas angin ketika A Walk To Remember, salah satu novelnya yang difilmkan, berhasil mendapatkan pujian dari banyak kritikus film, dan novel ini kemudian dinobatkan sebagai karya terbaiknya.

Dalam karya-karyanya, Nicholas Sparks dikenal sebagai seorang penulis yang 'tega'. Tak jarang kisah cinta yang terdapat dalam novelnya harus berakhir tragis bahkan selalu melibatkan kematian yang menyediihkan. Namun ia memiliki alasan kenapa memilih ending yang demikian. Menurutnya unsur-unsur tragis adalah bagian dari apa yang mendefinisikan kisah cinta. Kisah cinta dramatis itu mampu membuat pembacanya mengalami berbagai emosi seperti kebahagiaan, harapan, cinta, kemaran dan kesedihan.

Source: www.wignyawirasana.com