Masjid Sepi, Generasi Menjauh: Siapa yang Harus Berbenah?

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir, Jakarta. Prodi: Komunikasi Penyiaran Islam (Konsentrasi Jurnalistik Dakwah)
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari rd taupik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh : Rd Taupik
Masjid seharusnya menjadi tempat yang paling dekat dengan kehidupan seorang Muslim. Bukan hanya tempat menunaikan salat lima waktu, melainkan juga pusat pendidikan, pembinaan akhlak, penguatan ukhuwah, dan ruang tumbuhnya generasi penerus umat.
Namun, ada pemandangan yang patut menjadi bahan renungan bersama. Di sejumlah lingkungan masyarakat, masjid tampak ramai oleh generasi tua, tetapi relatif sepi dari kehadiran anak muda. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di ruang digital, pusat hiburan, atau berbagai aktivitas lain di luar masjid.
Fenomena ini semestinya tidak hanya dibaca sebagai persoalan rendahnya kesadaran beragama generasi muda. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah masjid sudah benar-benar menjadi ruang yang ramah bagi mereka? Ataukah selama ini kita terlalu sibuk menuntut anak muda untuk datang, tanpa berusaha memahami apa yang membuat mereka merasa jauh?
Masjid Bukan Sekadar Bangunan, tetapi Pusat Peradaban
Dalam sejarah Islam, masjid memiliki kedudukan yang sangat strategis. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan masjid hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, musyawarah, bahkan pengelolaan urusan sosial kemasyarakatan.
Masjid Nabawi menjadi bukti bahwa kehidupan umat Islam tidak dapat dipisahkan dari fungsi masjid yang luas. Dari tempat inilah generasi sahabat dibina, ilmu disebarkan, persaudaraan diperkuat, dan peradaban Islam mulai dibangun.
Allah ﷻ berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya selain Allah." (QS. Al-Jinn: 18).
Ayat tersebut menegaskan bahwa masjid memiliki orientasi penghambaan kepada Allah. Namun, penghambaan itu tidak berhenti pada aktivitas ritual semata. Kehidupan seorang Muslim seharusnya dibentuk oleh nilai-nilai yang tumbuh dari masjid: keimanan, ilmu, persaudaraan, kepedulian, dan akhlak.
Karena itu, ketika masjid kehilangan perannya dalam membina generasi muda, sesungguhnya ada fungsi penting yang perlu dihidupkan kembali.
baca juga : SIPILIS:Memahami Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme dalam Perspektif Islam
Jangan Terburu-buru Menyalahkan Generasi Muda
Salah satu kekeliruan dalam melihat persoalan ini adalah terlalu mudah memberikan label kepada anak muda. Mereka dianggap malas ke masjid, kurang peduli terhadap agama, atau lebih mencintai dunia daripada akhirat.
Padahal, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan menyalahkan satu pihak.
Bisa jadi, ada anak muda yang sebenarnya ingin belajar agama, tetapi merasa tidak memiliki teman. Ada yang ingin terlibat dalam kegiatan masjid, tetapi tidak pernah diberi ruang untuk berkontribusi. Ada pula yang memiliki gagasan dan semangat, tetapi justru dianggap belum cukup pengalaman untuk dilibatkan.
Tidak jarang, masjid hanya memberikan ruang kepada generasi muda sebagai peserta kegiatan, bukan sebagai bagian dari penggerak kegiatan.
Padahal, generasi muda tidak cukup hanya diajak untuk hadir. Mereka juga perlu diberi kepercayaan, tanggung jawab, kesempatan belajar, dan ruang untuk berkembang.
Dakwah yang hanya menuntut kehadiran tanpa membangun kedekatan berisiko membuat masjid terasa sebagai tempat yang jauh dari kehidupan mereka.
baca juga : Siapakah Sosok yang Gerahamnya Sebesar Gunung Uhud? Kegelisahan Abu Hurairah
Menghidupkan Masjid dengan Pembinaan, Bukan Sekadar Keramaian
Menghidupkan masjid tidak cukup dengan menyelenggarakan kegiatan besar sesekali. Yang lebih penting adalah membangun pembinaan yang berkelanjutan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ...
"Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi dengan naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya ... salah satunya adalah seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan betapa berharganya masa muda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, pembinaan generasi muda seharusnya menjadi perhatian serius pengurus masjid dan masyarakat.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membentuk remaja masjid sebagai wadah kaderisasi. Bukan sekadar organisasi yang bertugas mengisi acara seremonial, tetapi ruang pembelajaran untuk membangun kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap masjid.
Kegiatannya pun tidak harus selalu berupa kajian formal. Bisa dimulai dari hal sederhana: talaqqi Al-Qur'an, kajian rutin, olahraga bersama, kerja bakti, diskusi keislaman, hingga kegiatan sosial.
Melalui aktivitas tersebut, hubungan antarpemuda dapat tumbuh. Mereka memiliki teman dalam kebaikan, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan untuk memahami Islam bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai pedoman kehidupan.
Tentu saja, seluruh kegiatan tersebut harus tetap diarahkan pada nilai-nilai syariat dan pembinaan keislaman. Masjid bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan tempat membangun kedekatan kepada Allah.
Pengurus Masjid Juga Harus Mau Berbenah
Persoalan regenerasi masjid tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada anak muda. Pengurus masjid juga perlu melakukan evaluasi terhadap pola pengelolaan dan pendekatan dakwah yang selama ini diterapkan.
Jangan sampai masjid hanya terbuka secara fisik, tetapi tertutup dalam kesempatan berpartisipasi. Jangan sampai generasi muda diminta memakmurkan masjid, tetapi ketika mereka ingin berkontribusi, gagasannya tidak didengarkan.
Tentu, keterlibatan pemuda bukan berarti mengabaikan adab, pengalaman, atau kebijaksanaan para senior. Justru diperlukan hubungan yang saling menguatkan antara generasi tua dan generasi muda.
Generasi tua memiliki pengalaman dan kematangan, sementara generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan. Pengurus masjid perlu menjadi pembimbing, bukan sekadar pemberi instruksi. Sementara generasi muda harus belajar menghormati, bukan merasa paling benar dengan gagasannya sendiri.
Inilah pentingnya membangun komunikasi dan regenerasi yang sehat.
baca juga : Hijrah Bukan Tren: Menjaga Konsistensi Setelah Euforia Reda
Jangan Biarkan Masjid Kehilangan Generasi Penerus
Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang megah bangunannya, indah karpetnya, atau ramai jamaahnya pada hari-hari tertentu. Kemakmuran masjid juga terlihat dari keberhasilannya melahirkan generasi yang mencintai Allah, menjaga salat, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap umat.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ
"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah." (QS. At-Taubah: 18).
Ayat ini mengingatkan bahwa kemakmuran masjid berkaitan erat dengan keimanan dan ketaatan. Maka, menghadirkan generasi muda ke masjid bukan sekadar persoalan memenuhi saf salat, tetapi bagian dari ikhtiar membangun generasi yang beriman dan bertakwa.
Kita tidak ingin masjid hanya dikenang sebagai tempat yang dahulu ramai, tetapi kehilangan generasi yang akan meneruskan perjuangannya. Kita juga tidak ingin anak-anak muda tumbuh tanpa ikatan dengan masjid, sementara masjid berjalan tanpa mempersiapkan penerusnya.
Sudah saatnya kita berhenti hanya bertanya, "Mengapa anak muda jarang ke masjid?"
Mari mulai bertanya, "Apa yang sudah kita lakukan agar mereka mencintai masjid?"
Sebab, generasi muda tidak hanya membutuhkan nasihat untuk datang ke masjid. Mereka membutuhkan teladan, penerimaan, pembinaan, dan kepercayaan.
Masjid harus menjadi tempat mereka belajar menjadi hamba Allah, sekaligus tempat mereka mempersiapkan diri menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat.
Jangan sampai kita sibuk membangun dan memperindah masjid, tetapi lupa membangun generasi yang akan memakmurkannya.
baca juga : Dari Resolusi Jihad ke Literasi Digital: Santri dan Tugas Menguatkan Negeri
