Perempuan dalam Jerat Konsumerisme: Dilema Antara Kebutuhan dan Tuntutan Sosial

Mahasiswi aktif Program Studi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2023. Saya memiliki hobi memasak dan mendengarkan musik.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Elsa Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Antara pilihan sadar dan tekanan lingkungan, konsumerisme menyelinap dalam kehidupan sehari-hari perempuan.

Dulu kita mengenal ungkapan “Cogito, ergo sum”, aku berpikir, maka aku ada. Tapi sekarang makna itu seolah memudar, tergantikan oleh pola hidup baru "I shop therefore I am", aku berbelanja maka aku ada. Ini menunjukkan bahwa identitas seseorang tak lagi diukur dari pikiran dan kesadarannya, melainkan dari apa yang mereka konsumsi dan tampilkan. Menurut Soedjatmiko (2008) antusiasme masyarakat modern dalam berbelanja mencerminkan kenyataan bahwa konsumsi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dalam budaya masyarakat konsumen. Budaya konsumen sudah membingkai alam berpikir masyarakat yang ditunjukkan melalui gaya hidup, selera, dan cita rasa.
Sistem kebutuhan saat ini tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan yang riil melainkan telah diatur dan diciptakan sesuai dengan keberadaan barang-barang komoditi. Sistem masyarakat dalam konsumsi cepat berubah mengikuti sistem kebutuhan dan sistem fungsi-fungsi. Sehingga ikatan sosial tidak hanya terbentuk atas dasar kebutuhan barang yang di konsumsi, tapi juga suatu keinginan dalam mengonsumsi barang tersebut. Intinya suatu konsumsi barang dan jasa bukan lagi bersifat kebutuhan melainkan keinginan dari setiap individu yang terhanyut kedalam dunia konsumtif yang diciptakan oleh media.
Di tengah gemerlap dunia digital dan derasnya arus tren, perempuan masa kini menghadapi dilema yang tak sederhana: memilih berdasarkan kebutuhan nyata atau karena tuntutan sosial yang tak kasatmata. Dari skincare viral, pakaian model terbaru, hingga “self-reward” dalam bentuk barang mahal semuanya terlihat biasa. Namun, di balik itu tersimpan tekanan yang kerap tidak disadari: tuntutan untuk tampil sesuai standar sosial.
Konsumerisme: Budaya yang Dibungkus Estetika
Konsumerisme bukan hanya soal membeli, tapi tentang gaya hidup yang terus mendorong kita untuk merasa “kurang”. Perempuan secara historis telah menjadi target utama iklan, promosi, dan narasi budaya populer. Produk kecantikan, fasion, hingga gaya hidup sehat dikemas dalam pesan yang halus tapi kuat: “Kamu akan lebih bahagia jika punya ini.”
Akibatnya, banyak perempuan merasa perlu terus memperbarui penampilan atau mengikuti gaya hidup tertentu agar diterima dalam lingkup sosialnya. Perasaan ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang menampilkan konten serupa secara terus-menerus, tanpa jeda.
Ketika Gaya Hidup Jadi Kompetisi Diam-Diam
Di media sosial, perempuan tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga “etalase hidup” yang dinilai. Ada tekanan untuk tampil trendi, rapi, dan “estetik” setiap saat. Unggahan tentang liburan mewah, belanja barang branded, atau skincare routine menjadi konten yang mengundang “likes” sekaligus membentuk standar sosial baru: siapa yang terlihat paling sukses dan bahagia?
Padahal, banyak dari gaya hidup itu bukan kebutuhan, melainkan tuntutan sosial terselubung. Ada rasa bersalah jika tidak membeli. Ada rasa takut ketinggalan jika tidak mengikuti tren.
Antara Merawat Diri dan Terjebak Gaya Hidup
Merawat diri adalah hak perempuan. Namun, saat konsep self-care berubah menjadi ajakan belanja berlebihan, batas antara kebutuhan dan keinginan mulai kabur. Skincare bukan lagi untuk kesehatan kulit, tapi untuk validasi. Fashion bukan sekadar ekspresi diri, tapi bentuk persaingan sosial yang halus. Banyak perempuan akhirnya merasa lelah secara mental dan finansial karena terus berusaha memenuhi ekspektasi yang tidak pernah selesai.
Saatnya Menjadi Konsumen yang Sadar
Menjadi perempuan di era konsumerisme menuntut kesadaran baru: bahwa tidak semua yang ditawarkan dunia harus kita beli. Bahwa merawat diri tidak harus selalu dengan membeli produk mahal. Dan bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh isi lemari pakaian atau merek yang kita pakai. Mari kita sebagai perempuan harus mempunyai langkah kecil untuk bisa menjadi awal dari perubahan, yaitu dengan cara mengurangi waktu konsumsi media sosial yang menekan, mendukung gaya hidup sederhana dan sadar lingkungan, dan selalu bertanya pada diri: “Apakah aku benar-benar butuh ini?
Perempuan hari ini hidup di era pilihan yang luas, namun juga dalam tekanan sosial yang semakin halus. Konsumerisme akan selalu ada, tapi kesadaran akan kebutuhan sejati bisa menjadi pelindung. Karena pada akhirnya, kebahagiaan tidak selalu terletak pada barang yang kita punya, tapi pada rasa cukup dan damai dengan diri sendiri.
Keluar dari konsumerisme bukan berarti berhenti belanja, tapi mulai memilih mana yang benar-benar penting.
