Mengapa Orang Sering Hidup dari Kenangan?

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Meisya Mawadah Nuralifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pergulatan Batin Tokoh dalam Karya Fiksi dan Relevansinya dengan Kehidupan Hari Ini
Ada satu pertanyaan yang mungkin pernah singgah di benak banyak orang: mengapa semakin bertambah usia, seseorang justru semakin sering membicarakan masa lalu? Padahal hidup terus berjalan dan masa depan selalu menunggu. Namun, kenangan tetap menjadi tempat yang sering dikunjungi, seolah-olah di sanalah tersimpan bagian diri yang tidak ditemukan lagi pada masa kini.
Fenomena tersebut bukan hanya terjadi dalam kehidupan nyata, tetapi juga sering menjadi tema dalam karya sastra. Banyak pengarang menghadirkan tokoh yang terus menoleh ke belakang, bukan karena ingin mengulang masa lalu, melainkan karena sedang mencari jawaban atas hidup yang berubah terlalu cepat. Pergulatan semacam ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan pengalaman manusia.
Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi menjelaskan bahwa tokoh merupakan unsur penting dalam karya fiksi karena melalui tokohlah pengarang menyampaikan pengalaman hidup, nilai, dan persoalan kemanusiaan. Penokohan yang baik tidak hanya memperlihatkan siapa tokoh itu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ia berpikir, merasakan, dan bereaksi terhadap berbagai peristiwa sehingga pembaca dapat memahami konflik yang dialaminya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan sebuah cerita sering kali tidak terletak pada peristiwa yang besar, melainkan pada pergulatan batin tokohnya. Pembaca akan lebih mudah mengingat tokoh yang dipenuhi keraguan daripada tokoh yang selalu tampak benar. Sebab dalam kehidupan nyata, manusia jarang hidup dengan jawaban yang pasti.
Hal inilah yang membuat tema nostalgia begitu kuat dalam karya sastra. Nostalgia bukan sekadar kerinduan terhadap masa lalu, melainkan usaha seseorang untuk menemukan kembali makna hidup yang pernah ia rasakan. Ketika kehidupan sekarang dipenuhi tuntutan pekerjaan, persaingan, atau perubahan sosial yang cepat, kenangan sering menjadi ruang untuk mengingat bahwa seseorang pernah memiliki mimpi, keyakinan, atau tujuan yang begitu besar.
Menurut saya, inilah alasan mengapa banyak cerita tentang mantan aktivis, guru, atlet, seniman, bahkan pekerja biasa terasa menyentuh. Yang dirindukan bukan hanya masa mudanya, tetapi juga keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan saat itu benar-benar berarti. Seiring waktu, keberhasilan dan kegagalan sering kali mengaburkan keyakinan tersebut.
Dalam karya fiksi, konflik seperti ini jauh lebih menarik dibanding pertentangan fisik. Tokoh tidak sedang melawan orang lain, tetapi sedang berusaha berdamai dengan dirinya sendiri. Ia bertanya apakah keputusan yang pernah diambil sudah tepat atau justru menjadi sumber penyesalan yang terus dibawa hingga bertahun-tahun.
Nurgiyantoro juga menjelaskan bahwa penokohan dibangun melalui tindakan, dialog, pikiran, dan respons tokoh terhadap situasi yang dihadapinya. Artinya, pembaca tidak hanya mengenal tokoh dari apa yang diceritakan pengarang, tetapi juga dari cara tokoh menghadapi perubahan. Semakin alami respons tokoh, semakin kuat pula kesan yang ditinggalkan kepada pembaca.
Karena itu, tokoh yang mengalami pergulatan batin sering terasa lebih hidup dibanding tokoh yang digambarkan selalu berhasil. Keraguan, rasa kehilangan, dan penyesalan justru membuat tokoh menjadi manusiawi. Pembaca tidak merasa sedang melihat sosok yang sempurna, melainkan seseorang yang memiliki kelemahan seperti dirinya sendiri.
Kondisi tersebut juga sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Banyak anak muda memulai perjalanan dengan semangat idealisme, tetapi setelah memasuki dunia kerja mereka dihadapkan pada berbagai kompromi. Tidak semua cita-cita dapat diwujudkan, tidak semua prinsip dapat dipertahankan, dan tidak semua impian berakhir seperti yang dibayangkan.
Bukan berarti idealisme harus ditinggalkan. Namun, perjalanan hidup sering memperlihatkan bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Ada yang memilih mengejar karier, ada yang bertahan pada prinsip, dan ada pula yang terus mencari titik temu di antara keduanya. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar karena setiap orang membawa pengalaman hidup yang berbeda.
Menurut saya, karya sastra menjadi penting karena mampu mengingatkan bahwa pergulatan batin merupakan bagian dari kehidupan manusia. Sastra tidak selalu menawarkan solusi, tetapi membantu pembaca memahami bahwa keraguan dan penyesalan bukanlah pengalaman yang dialami sendirian.
Pada akhirnya, orang mungkin memang sering hidup dari kenangan. Namun, bukan karena masa lalu selalu lebih indah, melainkan karena kenangan membantu seseorang memahami siapa dirinya hari ini. Barangkali, yang paling dibutuhkan bukanlah kembali ke masa lalu, tetapi menemukan kembali makna yang pernah membuat langkah terasa begitu ringan. Itulah sebabnya karya sastra tetap relevan dibaca, sebab ia tidak hanya bercerita tentang tokoh-tokoh rekaan, tetapi juga tentang kehidupan yang diam-diam sedang kita jalani sendiri.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ferianto, N. 2026. “Tidak Ikut Berpesta”. Kompas.id, 20 Mei 2026.
