KKN : Festival Budaya Bentuk Improv Edukasi Hukum Dari Mahasiswa Untuk Desa

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pelita Bangsa Cikarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ferri Cahyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sabtu 30 agustus 2025, dalam situasi yang penuh antusias serta dan semangat kebersamaan di penghujung hari-hari terakhir KKN para mahasiswa KKN Fakultas Hukum Universitas Pelita Bangsa berhasil mengumpulkan seisi warga desa, mereka berbondong-bondong datang ke kantor desa untuk bersama-sama menyaksikan gelaran Festival Budaya yang diselenggarakan para Mahasiswa KKN di desa banjarsari.
Dalam suasana yang penuh antusias itu sontak saya kembali teringat dengan kata "Beri Rakyat Roti Dan Sirkus Maka Semuanya Akan Beres" kata-kata tersebut merupakan kata yang cukup populer pada masa romawi. yang dimana dari kata-kata tersebut tersimpulkan makna bahwa ketika rakyat/masyarakat diberikan sebuah hiburan maka semua pasti akan beres dan terkendali, dan terbukti pada hari itu tanggal 30 agustus 2025 acara festival budaya berlangsung dengan lancar dan sukses dengan penuh antusiasme dari warga desa.
Kata Festival Budaya itu sebenarnya hanyalah cover atau judul namun ada point penting di balik itu semua. Apakah point penting itu ? jawabanya ialah "Edukasi Hukum". Karena tujuan dari acara festival budaya itu ialah edukasi hukum untuk untuk memberikan ilmu serta pemahaman hukum kepada warga desa supaya tercapainya kesadaran hukum. Jadi selain diadakanya acara festival budaya dilain sisi juga diselingi dengan edukasi yang diharapkan bisa menambah suasana keakraban dan kekeluargaan. Ini adalah bentuk pengabdian nyata dari mahasiswa kepada desa sesuai dengan pedoman ketiga Tridharma Perguruan Tinggi.
Mengumpulkan masyarakat desa yang memiliki berbagai macam kesibukan dan pekerjaan serta prioritas lainya bukanlah hal yang mudah jika hanya dengan cara mengundang atau mengajak saja. Penulis juga sadar saat itu bahwa satu-satunya cara agar bisa mengumpulkan mereka ya dengan amplop berisi uang. Namun sekali lagi kita bisa mengumpulkan mereka tanpa memberikan uang dengan gagasan acara festival budaya. Dari beberapa tulisan diatas mungkin pembaca sendiri dapat menyimpulkan bahwa Masyarakat bisa dikumpulkan dengan cara bertajuk hiburan, dan yang paling penulis ingin tekankan disini bahwa ada alternatif lain untuk bisa mengumpulkan seluruh elemen masyarakat tanpa memberinya uang ketika kita ingin memberikan suatu edukasi atau penyuluhan. Ada banyak cara juga untuk memberikan edukasi untuk terciptanya masyarakat yang cerdas dan memiliki pemahaman yang luas agar tercapainya suatu desa yang maju dan inklusif.
Tulisan ini hampir selesai dan sebelum penulis menutup tulisan ini ingin berpesan kepada kawan-kawan pembaca semua khususnya kawan-kawan mahasiswa yang mungkin nanti akan menjalankan KKN atau pengabdian ke masyarakat bahwasanya tidak semua program harus dengan membagikan uang atau juga menghambur-hamburkan uang. Semua bisa terlaksana asal kita semua bersinergi dengan tujuan yang sama, berkolaborasi dengan pemuda desa dan tokoh masyarkat desa dan kunci dari semua itu adalah komunikatif. Komunikatif , mau pendekatan dengan masyarakat dan mau terjun bersama masyarakat. Dan terakhir ingatlah kata-kata "Beri Rakyat Roti Dan Sirkus Maka Semuanya Akan Beres".
