Pencarian populer

564 Tahun Penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih

Penaklukan Konstantinopel. (Foto: Wikimedia Commons)

“Kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibu kota negaranya!”

Kata-kata itulah yang diucapkan oleh Napoleon Bonaparte, seorang kaisar sekaligus jenderal kebanggaan Prancis pada abad ke-19. Dalam kata-katanya itu Bonaparte tampak tak kuasa menahan ungkapan hasratnya terhadap kota yang letaknya menjadikan ia jalur pertemuan antara benua Asia dan benua Eropa.

Berabad-abad lamanya, kota Konstantinopel yang indah dan makmur ini telah menjadi simbol kejayaan di mata dunia internasional. Ia dibangun pada tahun 330 M oleh Kaisar Theodosius. Lokasinya yang strategis membuat ia menjadi salah satu kota terpenting di dunia. Sejak didirikan oleh Kekaisaran Byzantium atau Romawi Timur, ia telah menjadi ibu kota pemerintahaan negeri Byzantium itu.

[Baca juga: 5 Fakta Bangsa Viking yang Mungkin Belum Kamu Tahu]

Dengan fungsinya sebagai ibu kota Kekaisaran Byzantium, Konstantinopel kemudian menjadi salah satu kota terbesar sekaligus benteng terkuat saat itu. Ia dikelilingi oleh tiga lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu Selat Bosphorus, Laut Marmara, dan Selat Tanduk Emas yang terpasang rantai amat besar. Dikelilingi benteng besar, perariran dalam dan rantai yang kokoh, setiap sisi Kontantinopel amatlah sulit untuk dimasuki pihak asing.

Namun sejarah mencatat peristiwa besar pernah terjadi 564 tahun lalu. Pada tanggal 29 Mei 1453 kota dengan benteng legendaris yang tak tertembus itu akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih atau yang juga dikenal dengan nama Sultan Mehmet II.

Ilustrasi Muhammad Al Fatih (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)

Sultan ke-7 Turki Utsmani itu berhasil memimpin penaklukan Konstantinopel ketika usianya baru 21 tahun. Ia dianggap telah membuktikan hadis yang diucapkan Nabi Muhammad SAW pada 8 abad sebelumnya.

"Sesungguhnya Konstantinopel itu pasti akan dibuka (dibebaskan). Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya," HR Bukhari.

Mayoritas penduduk Konstantinopel pada masa Kekaisaran Byzantium beragama Kristen Ortodoks. Pada abad ke-6, ketika Heraklius menjadi kaisar Byzantium, Rasulullah SAW sempat menyurati sang kaisar untuk masuk ke dalam agama Islam. Namun sang kaisar tidak bisa mengikuti seruan itu. Ia membalas ajakan itu dengan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Upaya penaklukan --umat muslim menyebutnya pembebasan-- Konstantinopel telah dilakukan sedikitnya sebanyak 8 kali oleh umat Islam. Lima kali pada diansti Umayyah, satu kali pada Dinasti Abbasiyah, dan dua kali pada masa Utsmaniyah.

[Baca juga: Hizbut Tahrir di Turki: Eksis Meski Diberangus]

Pembebasan Konstantinopel bukanlah semata-mata karena haus terhadap kekuasaan dan wilayah. Upaya pembebasan ini merupakan usaha umat muslim untuk membuktikan hadis Nabi Muhammad SAW di atas. Mereka berkeinginan dan berlomba-lomba menjadi sebaik-baik pemimpin ataupun sebaik-baik pasukan sebagaimana yang disebut di dalam hadis itu.

Semangat pembuktian hadis nabi telah tampak sejak masa para sahabat nabi. Salah seorang sahabat nabi, Abu Ayyub al-Anshari, yang ikut serta dalam upaya pembebasan Konstantinopel pertama kali pada tahun 44 Hijriah gugur dalam usia 80 tahun.

Ghirah atau semangat untuk membebaskan kota Konstantinopel dalam diri lelaki setua itu lebih-lebih lagi tampak pada bunyi wasiatnya. Ia berwasiat agar jasadnya dikuburkan pada titik terjauh dekat dengan Konstantinopel yang mampu dicapai pasukan kaum muslim.

[Baca juga: Rakyat Yaman Kelaparan di Bulan Ramadhan]

Pada akhirnya pasukan Muhammad Al-Fatih-lah yang mampu membuktikan hadis nabi di atas. Upaya pengepungan kota Konstantinopel berlangsung sejak 6 April 1453 sampai 29 Mei 1453. Setelah berhasil membebaskan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih kemudian mengganti nama kota tersebut menjadi Islam Bul yang berarti kota Islam.

Di kota Islam Bul itu Muhammad Al-Fatih kemudian membangun sekolah, pasar, perumahan, dan rumah sakit. Ia melindungi segenap penduduk, termasuk yang beragama Nasrani maupun Yahudi, dan menerapkan budaya toleransi. Ia menggratiskan pendidikan untuk setiap warga dan bahkan menyediakan rumah untuk pada pendatang yang mencari nafkah di kota itu.

Kita menaklukkan Konstantinopel bukan untuk menguasainya, melainkan untuk memompa darah baru di aliran darahnya. Seperti seekor ular yang mengganti kulitnya dan merasakan kesegaran, kita juga akan memberikan Konstantinopel kulit baru dan di sana akan dibentuk taman kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa solusi kemanusiaan yang kita cari di tempat yang salah akan ditemukan di kota ini.

- Muhammad Al-Fatih

Kini, kota Konstantinopel itu dikenal dengan nama Istanbul. Kesultanan Turki Utsmani jatuh pada tahun 1923. Pada tahun 1923 itulah Mustafa Kemal Pasha membantuk negara Turki yang berbentuk republik. Islam Bul kemudian berganti nama menjadi Istanbul yang berarti “ke kota itu”.

[Baca juga: 7 Negara yang Tawarkan Wisata Halal Untuk Traveler Muslim]

Istanbul yang kini masih tetap tersohor. Ia tak pernah bisa lepas dari perhatian dunia internasional. Dengan keindahannya dan memori sejarahnya, banyak turis dari berbagai negara datang ke sana. Dalam setiap masa, banyak pasang mata manusia rupanya akan tetap tertuju ke kota dua benua itu.

Istanbul kini. (Foto: Wikimedia Commons)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23