Konten dari Pengguna

Sulit Mengenali Diri Sendiri? Ini Alasan Gangguan Kepribadian Tidak Disadari

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syahvira Nur Rokhmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : pixabay.com

Penulis : Syahvira Nur Rokhmawati dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog

Belakangan ini, istilah seperti “toxic”, “narsistik”, atau “manipulatif” makin sering muncul di media sosial. Banyak orang jadi lebih sadar soal kesehatan mental, tetapi tidak sedikit juga yang akhirnya mudah memberi label psikologis kepada orang lain hanya berdasarkan perilaku sehari-hari. Padahal, gangguan kepribadian bukan sekadar sifat buruk atau kebiasaan yang menjengkelkan. Kondisi ini adalah gangguan kesehatan mental yang memengaruhi cara seseorang berpikir, mengelola emosi, dan berhubungan dengan orang lain dalam jangka panjang.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi terbaru dari American Psychiatric Association, gangguan kepribadian ditandai dengan pola perilaku dan cara berpikir yang menetap, sulit berubah, dan sering menimbulkan masalah dalam kehidupan sosial maupun pekerjaan.

Kenapa Sering Tidak Disadari?

Salah satu alasan gangguan kepribadian sulit dikenali adalah karena gejalanya sering terlihat seperti “kepribadian biasa”. Contohnya, seseorang dengan gangguan kepribadian narsistik mungkin terlihat sangat percaya diri dan suka tampil unggul. Namun di balik itu, ia bisa sangat membutuhkan validasi dan sulit menerima kritik.

Sementara individu dengan gangguan kepribadian borderline bisa terlihat sangat emosional, mudah marah, atau takut ditinggalkan secara berlebihan dalam hubungan.Ada juga orang dengan gangguan kepribadian avoidant yang sering dianggap pemalu atau pendiam, padahal sebenarnya mereka mengalami ketakutan besar terhadap penolakan sosial. Karena perilaku-perilaku ini terlihat seperti bagian dari karakter seseorang, banyak orang tidak sadar bahwa kondisi tersebut bisa berkaitan dengan gangguan psikologis. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet, prevalensi gangguan kepribadian pada orang dewasa diperkirakan mencapai 10–15% populasi dunia.

Peran Tes Psikologi

Untuk memahami kondisi seseorang secara lebih akurat, psikolog menggunakan proses yang disebut psikodiagnostik. Proses ini melibatkan wawancara klinis, observasi perilaku, dan penggunaan tes psikologi.

Salah satu tes yang sering digunakan adalah MMPI-2 (Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2). Tes ini membantu psikolog melihat pola kepribadian, kondisi emosional, dan kemungkinan adanya gangguan psikologis tertentu. Contohnya, jika seseorang cenderung menunjukkan pola curiga berlebihan, kesulitan mengontrol emosi, atau perilaku impulsif yang konsisten, hasil MMPI-2 dapat membantu psikolog melihat pola tersebut secara lebih objektif.

Selain itu, ada juga Rorschach Inkblot Test, yaitu tes bercak tinta yang digunakan untuk memahami dinamika emosi dan cara seseorang memaknai situasi di sekitarnya. Tes-tes tersebut tidak berdiri sendiri. Psikolog juga mempertimbangkan riwayat hidup, hubungan keluarga, lingkungan sosial, dan budaya individu sebelum menentukan diagnosis.

Menurut Gregory (2021) dalam buku Psychological Testing: History, Principles, and Applications, penggunaan beberapa metode asesmen secara bersamaan dapat meningkatkan akurasi diagnosis psikologis.

Jangan Asal Self-Diagnose

Saat ini banyak konten media sosial yang membahas kesehatan mental dengan cara ringan dan relatable. Hal itu memang membantu meningkatkan awareness, tetapi juga bisa membuat orang terlalu cepat melakukan self-diagnose. Misalnya, merasa sedikit perfeksionis lalu langsung menganggap diri memiliki OCD, atau menyebut orang lain “narsistik” hanya karena suka posting foto diri. Padahal, diagnosis gangguan kepribadian memerlukan proses asesmen profesional yang cukup kompleks. Psikolog perlu melihat apakah pola perilaku tersebut benar-benar menetap, mengganggu fungsi hidup, dan muncul dalam berbagai situasi. Karena itu, tes psikologi seharusnya dipahami sebagai alat bantu untuk memahami kondisi mental secara lebih mendalam, bukan sebagai label untuk menghakimi seseorang.