Konten dari Pengguna

In This Economy: Lelucon Viral yang Menelanjangi Pahitnya Hidup Anak Muda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wardokhi - tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI

Kalau Anda sering scrol-scrol X, TikTok, atau Instagram belakangan ini, frasa "in this economy" hampir pasti pernah lewat di lini masa. Dari guyonan soal harga kopi susu kekinian yang tembus Rp50 ribu, keputusan menunda nikah, sampai pilihan memelihara kucing dibanding punya anak, ungkapan ini selalu jadi alasan pemungkas.

Sekilas, kalimat itu cuma becandaan ringan khas anak muda internet. Namun, kalau dilihat lebih dekat, ada cermin pahit dari tekanan finansial yang sedang melilit masyarakat kelas menengah dan generasi muda Indonesia.

Bukan Cuma Meme, tapi Realitas Pahit

Frasa "in this economy" bukan lagi sekadar tren meme impor dari Barat. Ungkapan ini sudah jadi cerminan kondisi sosial-ekonomi kita hari ini.

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor, maraknya fenomena underemployment (bekerja di bawah kualifikasi), hingga kenaikan harga barang pokok yang tak sebanding dengan kenaikan gaji rata-rata, membuat komedi gelap (dark humor) ini jadi jalan pintas pertahanan diri (coping mechanism).

Ketika protes terasa mahal dan melelahkan, humor jadi bahasa paling gampang untuk meratapi dompet yang kian tipis.

Impian Dasar yang Makin Mahal

Tantangan ekonomi yang dihadapi generasi produktif saat ini memang beda cerita dibanding era sebelumnya. Sulitnya menembus lapangan kerja formal yang stabil memaksa banyak anak muda bertahan di sektor informal tanpa jaminan sosial yang jelas.

Peta jalan hidup yang dulunya dianggap "standar" seperti punya rumah sendiri sebelum umur 30, menabung buat dana pensiun, atau berkeluarga kini bertabrakan keras dengan kenyataan. Daya beli tergerus, sementara biaya hidup terus melonjak. Jadi, tak heran kalau kalimat "in this economy" muncul sebagai jawaban realistis saat impian-impian dasar itu makin sulit digapai.

Alarm Cemas buat Pemangku Kebijakan

Menganggap fenomena ini cuma keluhan generasi yang "kurang gigih" atau terlalu konsumtif jelas kekeliruan besar. Sarkasme yang ramai di media sosial ini justru membuktikan adanya kesadaran kritis. Anak muda tahu betul bahwa masalah finansial mereka bukan sekadar urusan "salah kelola uang pribadi", melainkan dampak langsung dari kondisi makroekonomi yang sedang tidak ramah.

Pemerintah dan pembuat kebijakan perlu peka membaca fenomena ini. Ketika humor satire dipercayai dan terus diulang oleh jutaan pengguna media sosial, itu pertanda masyarakat sudah mulai berada di titik jenuh. Yang dibutuhkan saat ini bukan imbauan untuk hemat, melainkan kebijakan konkret: penciptaan lapangan kerja berkualitas, stabilitas harga bahan pokok, dan perlindungan bagi pekerja muda.

Pada akhirnya, frasa "in this economy" adalah sinyal peringatan yang dibungkus tawa. Tanpa intervensi kebijakan yang memihak rakyat, lelucon ini tidak akan pernah hilang dari lini masa. Ia akan terus bergema bukan lagi sebagai lelucon penjelas candaan, melainkan sindiran tajam atas masa depan yang makin sulit dipastikan.