Langkah Konkrit Solusi Penanganan Banjir

Seorang PNS aktif mengajar, konsentrasi bidang IT dan SDM Aparatur. Memiliki Sertifikasi Kompetensi Pengembangan Perangkat Lunak, Sertifikasi Operator Komputer, Sertifikasi Manajemen Aparatur Sipil Negara, Sertifikasi Asesor Pemerintahan.
Tulisan dari Wawan Kusdiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banjir masih terus terjadi di beberapa daerah termasuk Karawang. Berbagai upaya penanganan sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh pihak-pihak terkait sesuai fungsi dan kewenangannya. Langkah konkrit solusi penanganan banjir sangat diperlukan agar musibah banjir dapat dicegah.
Namun mengapa banjir masih terus melanda? Kita sering lupa bahwa ketika banjir terjadi di musim penghujan, diwaktu yang lain di musim kemarau, bencana kekeringan juga mengintai kita. Penanggulangan banjir dan kekeringan yang holistik diharapkan menjadi landasan berfikir para pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan lainnya dalam menghadapi tantangan.
Baca juga : Solusi Penanggulangan Banjir Secara Komprehensif
Pakar di bidang pengelolaan tanah dan air Aries Purwanto, M.Si, M.Sc, Ph.D (candidate) in Land & Water Management, yang juga salah seorang ASN Kabupaten Karawang menjelaskan siklus penanggulangan banjir terdiri dari upaya pencegahan (prevention), penanganan (intervention/response), dan pemulihan (recovery). Selain pendekatan struktur yang dilakukan dalam upaya pencegahan, solusi lain penanganan banjir dengan pendekatan non-struktur berbasis ekologis.
“Pendekatan ini kadang sering tidak menjadi prioritas sehingga pelaksanaannya tidak berjalan optimal dan kontinyu”, kata Aries Purwanto. Berikut lima langkah konkrit terkait solusi non-struktur khususnya konsep zero run-off yang dapat diterapkan untuk mengatasi atau penanganan banjir khususnya di Kabupaten Karawang menurut Aries Purwanto yang konsen melakukan penelitian tentang pengelolaan tanah dan air, bidang pertanian, irigasi, energi air.
Sumur Resapan (infiltration well)
Menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sumur resapan adalah sistem resapan buatan yang dapat menampung air hujan akibat adanya penutupan tanah oleh bangunan, baik dari lantai bangunan maupun dari halaman yang diplester atau di aspal yang dialirkan melalui atap, pipa talang, maupun saluran, dapat berbentuk sumur, kolam dengan resapan, saluran porous dan sejenisnya.
Sumur resapan juga dapat diterapkan di skala yang lebih besar seperti di area publik, kawasan industri dan area komersial lainnya. Selain mengurangi limpasan permukaan sehingga dapat mencegah banjir, sumur resapan bermanfaat dalam menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah sehingga dapat menjaga keseimbangan hidrologi air tanah agar dapat mencegah intrusi (masuknya air laut kedalam pori-pori batuan dan mencemari air tanah) air laut, mengisi pori-pori tanah yang akan mencegah terjadinya penurunan tanah, mereduksi dimensi jaringan drainase, menurunkan konsentrasi pencemaran air tanah, dan mempertahankan tinggi muka air tanah.
Pemanenan air hujan (rainwater harvesting)
BPPT mendefinisikan pemanenan air hujan sebagai kegiatan menampung air hujan secara lokal dan menyimpannya melalui berbagai teknologi. Selain dengan menggunakan media penampung berupa tangki dan storage lainnya, pemanenan air hujan dapat dikombinasikan dengan pembuatan sumur resapan, pembuatan embung, dan media penampungan lainnya.
Taman Hujan (rain garden)
Taman hujan adalah sebuah konsep ruang terbuka hijau yang ditanami tumbuhan yang memiliki sistem perakaran yang dalam dan berfungsi mengurangi volume air yang melimpah, sekaligus menyaring, menyimpan air tanah, menjaga kelembaban tanah, dan menambah estetika lahan.
Dapat dilakukan pada skala rumah tangga maupun wilayah yang lebih luas. Taman hujan menciptakan neraca air mini yang menjadi tempat air hujan berkumpul dan terserap, sehingga tercipta keseimbangan air tanah.
Lubang Biopori
Lubang Biopori merupakan lubang yang dibuat tegak lurus ke dalam tanah dengan diameter antara 10-30 cm dan tidak memiliki muka air tanah dangkal. Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik yang memiliki fungsi sebagai makanan makhluk hidup yang ada di tanah, seperti cacing dan akar tumbuhan. Selain bermanfaat untuk mengurangi jumlah air limpasan ke saluran umum, lubang biopori juga dapat mengurangi timbulan sampah organik, menyuburkan tanah, dan ikut menambah kapasitas tanah dalam menyerap air.
Restorasi sungai
Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sekaligus penggagas restorasi sungai di Indonesia, Prof. Agus Maryono, mendefinisikan restorasi sungai sebagai upaya mengembalikan fungsi alami, meningkatkan eksistensi dan mengembalikan esensi sungai.
Lima konsep restorasi yang ditawarkan, yaitu restorasi hidrologi, restorasi ekologi, morfologi, sosial ekonomi, serta restorasi kelembagaan dan peraturan. Restorasi hidrologi lebih difokuskan kepada upaya pemantauan dan kuantitas dan perbaikan kualitas air sungai, sedangkan restorasi ekologi berfokus kepada upaya pemantauan dan pemeliharaan flora dan fauna.
Upaya restorasi yang ketiga yaitu restorasi morfologi dengan memperhatikan bentuk morfologi atau bentuk keaslian sungai. Restorasi sosial ekonomi melihat manfaat sungai bagi masyarakat dari sisi ekonomis dengan meningkatkan pemahaman serta pengetahuan masyarakat tentang fungsi dan manfaat sungai.
Upaya restorasi yang terakhir, yaitu restorasi kelembagaan berfokus kepada pembuatan peraturan-peraturan dan reformasi kelembagaan yang mendukung kelestarian sungai.
Baca juga : Penyebab Banjir Karawang, Berikut Solusi Penangananya
“Kelima pendekatan non-struktur yang berbasis ekologis diatas diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi upaya penanggulangan banjir apabila dilakukan secara berkesinambungan dan kolaboratif. Selain itu, upaya non-struktural lainnya seperti pengendalian tata ruang, penegakan hukum, early warning system atau peringatan dini bahaya banjir, pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) terpadu dari hulu ke hilir, serta peningkatan kapasitas kelembagaan instansi yang terkait penanggulangan banjir menjadi sesuatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan”, pungkas Aries Purwanto yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 di Belanda.
Kolaborasi yang partisipatif antara pemerintah, dunia usaha atau swasta, serta masyarakat menjadi prasyarat keberhasilan upaya-upaya tersebut dalam meminimalisir dampak banjir, mengurangi potensi banjir hingga menjadikan Karawang bebas banjir. Semoga musibah ini segera berlalu. (WKN)
