Paulo Freire dan Kelas Sosial di Balik Personal Branding Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Prodi Pendidikan Sosiologi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Windi Az-Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Paulo Freire dan konsep banking education-nya relevan untuk membaca fenomena personal branding mahasiswa yang hari ini sudah menjadi standar tidak tertulis di hampir setiap kampus. Organisasi masuk LinkedIn. Seminar dibagikan ke Instagram. Magang dijadikan konten. Sertifikat masuk CV. Setiap pencapaian terasa belum sah kalau belum dilihat orang lain.
Standar ini tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan dari tekanan dunia kerja yang semakin kompetitif, budaya digital yang merayakan visibilitas, dan narasi tentang mahasiswa ideal yang terus bergeser mengikuti zaman. Tapi ada pertanyaan yang jarang sekali diajukan secara terbuka: siapa yang benar-benar bisa memainkan permainan ini dengan lancar, dan siapa yang sejak awal sudah ada di posisi yang jauh lebih sulit untuk ikut bermain?
Paulo Freire dan Banking Education: Pertanyaan yang Perlu Diajukan
Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (2010) mengkritik model pendidikan yang disebutnya banking education, di mana mahasiswa diperlakukan seperti wadah kosong yang cukup diisi pengetahuan tanpa diajak berpikir kritis tentang kondisi mereka sendiri. Dalam model ini, yang diajarkan bukan bagaimana mempertanyakan sistem, melainkan bagaimana bertahan dan menyesuaikan diri di dalamnya.
Kalau logika ini kita terapkan pada fenomena personal branding di kampus, pertanyaannya menjadi cukup mengganggu. Apakah mahasiswa yang rajin membangun citra digitalnya melakukan itu karena pilihan yang benar-benar sadar dan bebas, atau karena sistem sudah lebih dulu mendefinisikan bahwa itulah yang harus dilakukan oleh mahasiswa yang dianggap berpotensi dan layak diperhitungkan oleh dunia kerja?
Freire juga menulis tentang bagaimana pendidikan bekerja dalam relasi kelas sosial. Sistem pendidikan hampir tidak pernah benar-benar netral. Ia cenderung menguntungkan mereka yang sudah punya modal untuk bermain di dalamnya, sementara yang tidak punya modal itu perlahan tersisih bukan karena kurang berprestasi secara substantif, tapi karena tidak bisa menampilkan prestasi dengan cara dan format yang diakui sistem yang berlaku.
Modal yang Tidak Pernah Diakui Secara Terbuka
Personal branding terdengar seperti sesuatu yang bisa dilakukan siapa saja asal mau berusaha dan punya inisiatif. Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Membangun personal branding yang efektif membutuhkan perangkat yang memadai, koneksi internet yang stabil, kemampuan membuat konten yang layak dilihat, waktu yang cukup untuk mengelola berbagai platform digital, serta jaringan sosial yang bisa membuka pintu ke kesempatan-kesempatan tertentu. Semua itu bukan sesuatu yang terdistribusi secara merata di antara seluruh mahasiswa.
Mahasiswa yang harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya tidak punya waktu yang sama dengan mahasiswa yang sepenuhnya ditopang keluarganya. Mahasiswa yang baru pertama kali punya laptop ketika masuk kuliah tidak punya pengalaman dan kepercayaan diri digital yang sama dengan mahasiswa yang sudah terbiasa menggunakan berbagai platform sejak SMA. Bourdieu dan Passeron (1990) menyebut kondisi ini sebagai perbedaan modal budaya, yakni seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang diwariskan melalui lingkungan keluarga dan sosial, yang secara langsung memengaruhi kemampuan seseorang untuk menavigasi sistem pendidikan dan dunia kerja dengan lebih mudah.
Dalam konteks personal branding, perbedaan modal budaya ini sangat terasa. Mahasiswa yang tumbuh di lingkungan yang melek digital, yang sejak kecil terbiasa melihat orang-orang di sekitarnya membangun citra profesional secara online, punya keunggulan yang tidak pernah dihitung dalam penilaian akademik mana pun, tetapi pengaruhnya sangat nyata dalam jangka panjang.
Ketika Ketimpangan Bersembunyi di Balik Semangat
Yang membuat fenomena ini sulit untuk dikritisi adalah tampilannya yang terlihat seperti pilihan bebas dan murni individual. Tidak ada yang memaksa siapa pun untuk membuat akun LinkedIn atau mengunggah sertifikat ke Instagram. Tapi ketika sistem rekrutmen kerja mulai menjadikan profil digital sebagai pertimbangan informal, ketika dosen atau senior di kampus memberikan apresiasi lebih kepada mahasiswa yang aktif membangun citra online, dan ketika mahasiswa yang tidak hadir di ruang digital mulai dianggap kurang ambisius atau kurang inisiatif, maka tekanan itu tidak lagi terasa seperti paksaan dari luar. Ia terasa seperti kebutuhan yang tumbuh dari dalam diri sendiri.
Freire menyebut kondisi ini sebagai internalisasi nilai-nilai dari sistem yang tidak setara. Ketika mahasiswa yang tidak punya cukup modal untuk membangun personal branding mulai meyakini bahwa mereka memang kurang kompeten dibanding rekan-rekannya, padahal yang berbeda bukan kemampuan mereka melainkan kondisi awal yang mereka miliki, maka sistem itu berhasil mempertahankan dirinya tanpa harus menggunakan tekanan yang kasat mata. Ketimpangan direproduksi bukan melalui paksaan, melainkan melalui keyakinan yang perlahan terbentuk dalam diri orang-orang yang paling dirugikan oleh sistem itu sendiri.
Pertanyaan yang Perlu Dibawa ke Ruang Kelas
Pertanyaan yang Freire dorong kita untuk ajukan bukan soal apakah personal branding itu baik atau buruk sebagai praktik. Pertanyaannya adalah siapa yang diuntungkan oleh standar ini dan siapa yang secara diam-diam disisihkan olehnya tanpa pernah ada ruang untuk mempersoalkan apakah standar itu adil sejak awal.
Kalau kampus serius ingin menjadi ruang yang setara bagi semua mahasiswanya, perlu ada percakapan yang lebih jujur tentang bagaimana keberhasilan mahasiswa didefinisikan dan oleh siapa. Mahasiswa yang tidak punya profil digital yang rapi belum tentu kurang berprestasi. Mungkin ia hanya tidak punya cukup sumber daya untuk menampilkan prestasinya dengan cara yang diakui dan diapresiasi oleh sistem yang berlaku saat ini.
Pendidikan yang membebaskan dalam pengertian Freire bukan yang hanya mengajarkan mahasiswa cara bertahan dan menyesuaikan diri dalam sistem yang sudah ada. Ia adalah pendidikan yang mengajak mahasiswa untuk melihat sistem itu sendiri secara kritis, termasuk sistem yang bersembunyi rapi di balik layar ponsel, kolom pengalaman di CV, dan notifikasi LinkedIn yang terus berbunyi setiap kali ada koneksi baru yang perlu dikonfirmasi.
