Konten dari Pengguna

Perempuan Tidak Terlahir Menyukai Penyiksaan, Media yang Mengajarinya

Syifa Uswatun Khasanah

Syifa Uswatun Khasanah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi tahun ketiga Universitas Telkom Bandung. Sedang menjalani program magang di PT. Radio Karang Tumaritis dan pengurus harian UKM Aksara Jurnalistik.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa Uswatun Khasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penyiksaan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyiksaan. Foto: Shutterstock

Di lini masa media sosial kita hari ini, jutaan penonton jatuh cinta pada karakter fiksi yang dalam kehidupan nyata patut dijauhi. Massimo dalam 365 Days memaksa seorang perempuan ke dalam kamarnya dan menyebutnya cinta. Hardin Scott dalam seri After meledak-ledak secara emosional, lalu kembali dengan seikat bunga dan permintaan maaf yang memaksa wanitanya iba.

Di Indonesia, Kale dalam The Story of Kale memanipulasi perasaan pasangannya, sambil tetap tampil sebagai sosok romantis yang memesona. Penonton, khususnya remaja dan dewasa muda perempuan, mengagumi mereka. Menyebut karakter-karakter beracun ini sebagai sosok charming idaman—terlepas dari paras mereka yang memang elok bak pahatan Phidias. Ketiganya memiliki satu kesamaan. Mereka adalah jelmaan sifat red flag yang dikemas dalam etanol fantasi romansa.

Terdapat pertanyaan yang perlu kita jawab: Apa konsekuensinya bagi perempuan muda yang mengonsumsinya setiap hari? Dan apakah industri hiburan benar-benar bertanggung jawab atas kerusakan psikologis dan tatanan sosial yang perlahan terjadi?

Bingkai yang Membias Realitas

Romantisasi perilaku abusif dalam media bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil konstruksi narasi yang terencana. Kenasri dan Sadasri (2021) dalam penelitian mereka di Jurnal Humaniora mengungkap bahwa drama romansa Korea—salah satu konten hiburan paling berpengaruh di Asia—secara sistematis membungkus Intimate Partner Violence (IPV) dalam kemasan estetis. Alih-alih kejahatan, kekerasan terhadap pasangan ditampilkan sebagai ekspresi proteksi atau cinta yang meluap-luap. Pelaku digambarkan sebagai sosok yang memiliki luka masa lalu, sehingga perilaku abusifnya ketika ter-trigger seolah dibenarkan.

Ilustrasi kekerasan pada anak. Foto: Master1305/Shutterstock

Pola narasi semacam ini menciptakan bias kognitif yang berbahaya. Ketika media secara konsisten menonjolkan sisi melankolis pelaku dan mengesampingkan trauma korban, penonton, terutama perempuan muda, mengalami pergeseran empati. Perilaku posesif karakter tidak lagi terbaca sebagai ancaman. Inilah jebakan naratif yang paling halus dan paling merusak.

Representasi Kerapuhan sekaligus Kepatuhan Ekstrem Perempuan

Akar dari romantisasi toxicity tidak bisa dilepaskan dari bagaimana perempuan direpresentasikan dalam media. Andriani (2025) dalam penelitiannya di Harakat An-Nisa: Jurnal Studi Gender dan Anak mencatat bahwa film Indonesia masih kerap menempatkan perempuan dalam dua kutub yang sama-sama bermasalah, yaitu sosok yang perlu diselamatkan atau yang perlu didisiplinkan oleh pasangan laki-lakinya. Framing semacam ini secara implisit melegitimasi dominasi mutlak laki-laki sebagai sesuatu yang wajar, bahkan ideal.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana representasi ini sama sekali tidak terasa seperti propaganda. Ketika seorang karakter laki-laki bersikap protektif hingga melewati batas privasi pasangannya, narasi film membingkainya sebagai bentuk kasih sayang yang dalam. Penonton menerimanya, bahkan membayangkannya dengan penuh damba. Perempuan muda tumbuh dengan pemahaman bahwa cinta yang nyata adalah cinta yang intens, meskipun menyakitkan.

Kamera Membuat Kekerasan Tampak Puitis

Serial Euphoria menjadi contoh paling telanjang dari bagaimana sinematografi bisa mengaburkan batas antara ekspresi seni dan normalisasi kekerasan. Rahmaniyah Bashori (2025)—dalam analisis semiotika berbasis kerangka Charles Sanders Peirce di jurnal The Commercium—membedah bagaimana tanda-tanda toxic relationship dalam serial tersebut dikonstruksi secara visual.

Ilustrasi toxic relationship. Foto: Resty Pangestu/kumparan

Ketergantungan emosional yang ekstrem, manipulasi, dan siklus kekerasan yang berulang, semuanya disajikan dengan sinematografi megah, palet warna memukau, dan latar musik yang menyayat hati. Akhirnya, adegan penyiksaan jadi tampak puitis dan kekerasan menjadi tampak romantis.

Apakah karya seni semerta-merta tidak boleh menampilkan sisi gelap kehidupan? Tentu boleh, bahkan perlu. Masalahnya adalah ketika adegan penderitaan itu secara konsisten digglorifikasi, alih-alih dikritisi. Ketika estetika tidak memberi ruang pada dampak nyata dan konsekuensi jangka panjangnya, sinema hanya menjadi medium ideologi yang keliru.

Efek Resepsi yang Nyata

Bahaya terbesar ada pada apa yang penonton bawa pulang. Feizal Bagoes Kusuma dan Dyva Claretta (2023) dalam analisis resepsi terhadap film The Story of Kale: When Someone's in Love menemukan bahwa respons penonton terbagi dua.

Sebagian mulai menyadari dan mengidentifikasi tanda-tanda toksisitas dalam hubungan tersebut. Namun sebagian lainnya justru melakukan pembenaran. Mereka memaklumi perilaku manipulatif karakter Kale demi mempertahankan hubungannya. Nah, kelompok kedua inilah yang paling rentan.

Ardhito Pramono (pemeran Kale di film The Story of Kale: When Someone's in Love) saat ditemui di Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (19/11). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Sampailah kita pada konsekuensi paling menyedihkan dari seluruh rantai romantisasi ini, yaitu alam bawah sadar remaja yang sedang belajar tentang cinta untuk pertama kalinya. Tukachinsky dan Dorros (2018) dalam Journal of Children and Media meneliti fenomena parasocial romantic relationships, yaitu hubungan romantis satu arah antara audiens dan karakter media. Temuan mereka menegaskan bahwa keyakinan romantis yang tidak realistis pada remaja—yang dibentuk oleh hubungan parasosial ini—berkorelasi dengan ekspektasi hubungan yang keliru di dunia nyata.

Remaja yang tumbuh mengidolakan karakter red flag cenderung akan mereplikasi pola tersebut saat menjalin hubungan sesungguhnya. Mereka akan mencari intensitas yang sama, dan ketika menemukan pasangan yang bersikap posesif atau temperamental, respons pertama mereka adalah merasa familiar.

Kekerasan emosional terasa seperti plot twist yang sudah mereka kenal. Pada akhirnya, mereka tidak melarikan diri. Mereka bertahan dalam hubungan beracun itu karena film mengajarkan bahwa cinta sejati memang harus diperjuangkan meski menyakitkan.

Komodifikasi Luka: Industri yang Diuntungkan, Audiens yang Dirugikan

Industri hiburan—dari platform streaming global hingga rumah produksi lokal—mengetahui dengan sangat baik bahwa konflik emosional yang intens punya daya jual. Toxic relationship dipilih karena menghasilkan engagement tinggi, binge-watching, dan pembicaraan viral di media sosial. Semakin penonton terprovokasi secara emosional, semakin banyak klik dan tayangan yang mereka dapatkan.

Ilustrasi orang menonton film. Foto: Stock-Asso/Shutterstock

Solusi dari masalah ini tidak cukup diselesaikan dengan tagar atau boikot satu judul film. Dibutuhkan dua pergerakan simultan, yaitu dari sisi produksi dan dari sisi konsumsi.

Para kreator konten dan penulis skenario perlu mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Mereka bisa tetap menulis cerita yang kompleks, gelap, dan penuh konflik tanpa harus membungkusnya dengan glorifikasi. Karakter yang abusif bisa ditulis dengan segala kedalaman psikologisnya, asalkan narasi tidak menawarkannya sebagai model yang patut diidamkan. Dampak buruk kekerasan harus ditampilkan seterang intensitasnya.

Di sisi lain, kita sebagai konsumen media harus berinvestasi pada literasi kritis. Menonton adalah proses pembentukan referensi diri tentang dunia. Ketika kita mampu mengidentifikasi pola-pola manipulasi dalam narasi fiksi, kita juga membangun kemampuan untuk mengenalinya dalam kehidupan nyata.

Cinta yang sehat bukannya identik dengan ketiadaan konflik. Namun, ia tidak pernah bergantung pada rasa sakit sebagai bukti kedalaman. Ia tidak memerlukan dominasi untuk dirasa nyata. Dan ia pasti tidak membutuhkan pengorbanan martabat diri sebagai harganya. Sudah terlalu lama kita diajarkan untuk mencintai luka. Kini, waktunya kita belajar mencintai diri sendiri dengan menolak narasi yang membenarkan luka itu.