Konten dari Pengguna

Bukan Investasi Diri, Gen Z Cuma Kedok Boros?

Yuli Susanti

Yuli Susanti

Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yuli Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penyesalan di akhir bulan akibat pengeluaran konsumtif yang kerap dipaksakan dengan label 'investasi diri'. (Foto: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyesalan di akhir bulan akibat pengeluaran konsumtif yang kerap dipaksakan dengan label 'investasi diri'. (Foto: Unsplash)

Setelah tren self-reward habis-habisan dikritik karena sering kali menjadi kambing hitam atas tipisnya dompet di akhir bulan, belakangan muncul istilah baru yang tidak kalah keren di kalangan anak muda: investasi diri atau self-investment.

Kalimat-kalimat motivasi seperti, "Gak apa-apa mahal, yang penting kan investasi buat masa depan," atau "Jangan pelit sama diri sendiri, ini bentuk upgrade skill," mendadak jadi mantra sakti yang berseliweran di media sosial.

Sekilas, konsep ini terdengar sangat positif dan visioner. Siapa sih yang tidak mau menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri? Berbeda dengan self-reward yang kesannya cuma buat bersenang-senang setelah capek beraktivitas, investasi diri punya kedudukan moral yang lebih tinggi karena tujuannya adalah jangka panjang.

Namun, kalau kita mau jujur dan berkaca di depan cermin, jangan-jangan istilah keren ini cuma taktik psikologis baru kita saja? Sebuah kedok baru yang sengaja diciptakan oleh ego kita agar kita tidak merasa bersalah saat menguras saldo tabungan demi hal-hal yang sebenarnya tidak mendesak.

Jebakan "Membeli Identitas" Orang Produktif

Salah satu fenomena paling nyata dari bias investasi diri ini adalah kebiasaan membeli alat atau fasilitasnya dulu, tapi melupakan esensi aktivitasnya. Kita sering kali terjebak dalam delusi bahwa dengan membeli "barang-barang orang produktif", otomatis kita akan langsung berubah menjadi orang yang produktif juga.

Sebagai contoh konkret, berapa banyak dari kita yang rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli tablet atau gawai keluaran terbaru, lengkap dengan pensil stylusnya, dengan alasan: "Biar kalau nyatet kuliah lebih rapi dan semangat belajar"? Tapi kenyataannya, setelah barangnya ada di tangan, gawai tersebut justru lebih sering dipakai untuk menonton serial drama terupdate atau sekadar scrolling media sosial sampai subuh.

Kasus lainnya adalah buku-buku pengembangan diri (self-improvement) berkaver estetik yang dibeli saat diskon tanggal kembar. Dalihnya tentu saja investasi leher ke atas. Tapi setelah paketnya datang, buku tersebut hanya berakhir menjadi pajangan estetik di sudut meja kamar kosan, dibaca pun tidak sampai bab kedua. Kita tidak benar-benar membeli ilmunya, kita hanya membeli rasa puas karena merasa "sudah menjadi anak muda yang gemar membaca".

Ketika Gaya Hidup Dibungkus Label 'Masa Depan'

Pergeseran makna investasi diri ini juga masuk ke ranah perawatan tubuh dan gaya hidup sehat. Merawat kulit dengan skincare atau menjaga kebugaran tubuh memang bentuk investasi masa depan yang sangat bagus. Namun, pembungkus label ini sering kali kebablasan.

Berubah haluan dari produk lokal yang ramah kantong ke produk impor yang harganya setara dengan jatah makan kosan seminggu, sering kali dipaksakan dengan dalih investasi penampilan. Begitu juga dengan keputusan mendaftar keanggotaan pusat kebugaran (gym) yang mahal atau membeli baju olahraga bermerek terkenal demi konten healthy lifestyle.

Jika pengeluaran tersebut sampai mengganggu kestabilan arus kas keuangan bulanan kamu sebagai mahasiswa, maka itu bukan lagi investasi, melainkan konsumtif yang dipaksakan. Kamu sedang membeli gengsi dan validasi sosial, tetapi membungkusnya dengan rapi menggunakan label kesehatan masa depan agar terhindar dari penghakiman orang sekitar.

Bedanya Investasi Riil dan Liabilitas Berkedok

Dalam ilmu dasar manajemen keuangan, investasi itu seharusnya memberikan nilai tambah atau keuntungan di masa depan, sedangkan hal-hal yang terus menguras uang kita tanpa ada timbal balik yang jelas disebut sebagai liabilitas (beban).

Lantas, bagaimana cara membedakan apakah pengeluaran kita beneran buat investasi diri atau cuma kedok boros belaka? Caranya sederhana: lihat eksekusinya, bukan transaksinya.

Jika kamu membeli sebuah kursus online berbayar dan kamu benar-benar meluangkan waktu berjam-jam di malam hari untuk menyelesaikannya sampai dapat sertifikat dan keahlian baru, itu adalah investasi. Tapi, jika kamu cuma rajin membeli kelasnya karena tergiur diskon promosi lalu membiarkan tautan kelas tersebut kedaluwarsa tanpa pernah diklik sama sekali, itu adalah pemborosan yang hakiki.

Investasi diri yang sesungguhnya itu sering kali tidak instan dan justru menuntut pengorbanan kenyamanan, bukan sekadar pengorbanan isi dompet. Menahan kantuk demi belajar materi baru secara gratis di YouTube, konsisten bangun pagi buat olahraga ringan di sekitar area kosan, atau disiplin membaca buku perpustakaan kampus adalah bentuk investasi diri yang nyata—dan hebatnya, semua itu hampir tidak membutuhkan biaya besar.

Kesimpulan

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Menjadi anak muda yang ambisius dan berpenampilan menarik di era sekarang adalah modal sosial yang penting. Namun, kita harus tetap kritis dan jujur pada motivasi terdalam kita saat menggesek kartu atau menekan tombol bayar di aplikasi.

Jangan sampai kita terjebak dalam lingkaran setan konsumerisme gaya baru yang berlindung di balik istilah-istilah psikologi populer. Memanjakan keinginan itu manusiawi, tetapi mengakuinya sebagai sebuah "investasi" demi menenangkan rasa bersalah adalah sebuah kekeliruan finansial.

Yuk, mulai sekarang kita kurangi fokus pada apa yang bisa kita beli, dan mulai alihkan fokus pada apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang sudah kita miliki. Karena pada akhirnya, versi terbaik dari dirimu tidak ditentukan oleh seberapa mahal barang yang melekat di tubuhmu, melainkan dari seberapa besar komitmenmu untuk terus bertumbuh setiap harinya.