Selain HACCP, ada VACCP dan TACCP dalam Sistem Jaminan Keamanan Pangan

Nature Enthusiast, menulis reviu buku dan berpuisi di https://kenangkata.blogspot.com/ sambil mengamati perkembangan dunia perikanan.
Tulisan dari Yusixka Satyaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sistem jaminan keamanan pangan adalah suatu sistem yang dirancang untuk memastikan bahwa produk pangan aman untuk dikonsumsi. Sistem ini terdiri dari serangkaian prosedur dan langkah-langkah yang bertujuan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan bahaya yang dapat membahayakan keamanan pangan.
Bahaya keamanan pangan adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan produk pangan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi. Bahaya ini dapat berupa bahaya biologis, kimia, atau fisik.
Bahaya biologis adalah bahaya yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri, virus, atau parasit. Bahaya ini dapat menyebabkan penyakit, seperti keracunan makanan atau diare.
Bahaya kimia adalah bahaya yang disebabkan oleh bahan kimia, seperti pestisida, logam berat, atau racun. Bahaya ini dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk kanker dan kerusakan sistem saraf.
Bahaya fisik adalah bahaya yang disebabkan oleh benda asing, seperti logam, kaca, atau tulang. Bahaya ini dapat menyebabkan cedera, bahkan kematian.
Selama ini HACCP adalah sistem jaminan keamanan pangan yang paling umum dikenal. Hal ini karena HACCP adalah sistem yang dianggap paling efektif untuk mencegah bahaya yang tidak disengaja, seperti kontaminasi bakteri, kimia, atau fisik.
HACCP telah menjadi sistem jaminan keamanan pangan yang paling umum digunakan di seluruh dunia. HACCP telah diadopsi oleh pemerintah, organisasi industri, dan perusahaan pangan di berbagai negara.
Namun, seiring dengan meningkatnya risiko bahaya yang disengaja dan penipuan pangan, kemudian berkembang sistem jaminan keamanan pangan yang lebih komprehensif yaitu VACCP dan TACPP.
HACCP adalah sistem yang berfokus pada pencegahan bahaya yang tidak disengaja. VACCP berfokus pada pencegahan penipuan pangan, yang biasanya dilakukan untuk keuntungan ekonomi. TACCP berfokus pada pencegahan bahaya yang disengaja, seperti sabotase, pemerasan, atau terorisme.
Penerapan TACCP dan VACCP dapat membantu organisasi untuk melindungi konsumen dari bahaya yang lebih luas. Hal ini karena sistem-sistem ini dapat membantu organisasi untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya yang tidak disengaja dan penipuan pangan.
Kenali HACCP, VACCP dan TACCP beserta perbedaannya.
1. HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points)
HACCP adalah sistem berbasis risiko yang digunakan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan bahaya yang dapat membahayakan keamanan pangan. Sistem ini terdiri dari tujuh prinsip, yaitu:
1. Identifikasi bahaya
2. Evaluasi bahaya
3. Identifikasi titik pengendalian kritis (CCP)
4. Penentuan batas kritis untuk setiap CCP
5. Pemantauan CCP
6. Tindakan koreksi
7. Verifikasi sistem HACCP
HACCP dikembangkan oleh NASA dan Pillsbury Company pada tahun 1960-an untuk memastikan keamanan makanan astronot di luar angkasa. Pada tahun 1970-an, HACCP mulai diterapkan di industri pangan di Amerika Serikat. Pada tahun 1985, Codex Alimentarius Commission (CAC) dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengadopsi HACCP sebagai standar internasional untuk keamanan pangan.
Berikut adalah beberapa perkembangan HACCP yang telah terjadi selama bertahun-tahun:
CAC menerbitkan pedoman HACCP yang merupakan standar internasional untuk penerapan HACCP (1993).
Komisi Eropa mengadopsi HACCP sebagai persyaratan hukum untuk semua perusahaan makanan di Uni Eropa (1997).
Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengeluarkan peraturan HACCP yang mengharuskan semua perusahaan makanan yang memasarkan produknya di Amerika Serikat untuk menerapkan HACCP (2005).
Codex Alimentarius Commission menerbitkan pedoman HACCP yang diperbarui (2011).
HACCP telah menjadi dasar peraturan keamanan pangan saat ini – termasuk Undang-Undang Modernisasi Keamanan Pangan (FSMA) – dan standar dan termasuk program sertifikasi untuk Inisiatif Keamanan Pangan Global (GFSI).
Perkembangan HACCP ini menunjukkan bahwa HACCP adalah sistem yang terus berkembang dan diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan keamanan pangan yang terus berubah dan mengikuti tren di masa mendatang seperti:
Integrasi HACCP dengan sistem manajemen lainnya, seperti sistem manajemen mutu (ISO 9001) dan sistem manajemen lingkungan (ISO 14001).
Penerapan HACCP pada rantai pasokan pangan yang lebih luas, termasuk transportasi, penyimpanan, dan distribusi.
Pengembangan metode HACCP yang lebih canggih, seperti HACCP berbasis risiko dan HACCP berbasis penilaian bahaya.
2. VACCP (Vulnerability Assessment and Critical Control Points)
VACCP adalah sistem yang digunakan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan kerentanan yang dapat menyebabkan penipuan pangan. VACCP adalah pendekatan sistematis untuk identifikasi, penilaian, dan pengendalian kerentanan yang dapat menyebabkan penipuan pangan. VACCP didasarkan pada prinsip-prinsip Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP), tetapi dengan fokus khusus pada kerentanan.
Kerentanan VACCP dapat didefinisikan sebagai kelemahan dalam sistem pangan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku penipuan pangan untuk keuntungan finansial. Kerentanan dapat terjadi di semua tahap rantai pasokan makanan, mulai dari produksi hingga distribusi hingga konsumsi.VACCP membantu bisnis untuk mengidentifikasi dan mengatasi kerentanan ini, sehingga mengurangi risiko penipuan pangan. Contoh kerentanan VACCP meliputi:
Dokumentasi yang tidak memadai sehingga dapat menyulitkan proses koreksi saat terjadi permasalahan.
Sistem pelacakan produk yang lemah sehingga tidak dapat terdefinisi asal muasal produk
Keamanan fisik yang tidak memadai seperti kemudahan produk untuk diduplikasi, disubtitusi dengan produk lain yang merugikan.
Kontrol kualitas yang buruk dapat menyebabkan kerugian yang lebih besar secara kesehatan
Personel yang tidak terlatih sehingga dapat menyebabkan kerusakan produk atau pencurian produk.
Hubungan pemasok yang tidak terkelola yang menyulitkan dalam pembuktian raw material yang sesuai standar.
VACCP pertama kali dikembangkan pada tahun 1990-an oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat. Pada tahun 2003, FDA menerbitkan pedoman VACCP yang merupakan standar nasional untuk penerapan VACCP.
Pada tahun 2005, Codex Alimentarius Commission (CAC) dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengadopsi VACCP sebagai standar internasional untuk keamanan pangan.
Perkembangan VACCP ini menunjukkan bahwa VACCP adalah sistem yang terus berkembang dan diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan keamanan pangan yang terus berubah contohnya adalaha integrasi VACCP dengan sistem manajemen lainnya, seperti sistem manajemen mutu (ISO 9001) dan sistem manajemen keamanan informasi (ISO 27001).
VACCP adalah alat yang berharga untuk membantu bisnis mengurangi risiko penipuan pangan. Dengan mengidentifikasi dan mengatasi kerentanan, bisnis dapat melindungi konsumen dan reputasi mereka.
3. TACCP (Threat Assessment and Critical Control Points)
TACCP (Threat Assessment and Critical Control Points) adalah sistem jaminan keamanan pangan yang dirancang fokus khusus pada identifikasi, penilaian, dan pengendalian ancaman keamanan pangan yang disengaja seperti sabotase, pemerasan, atau terorisme.
TACCP dapat membantu bisnis untuk:
Mengidentifikasi dan mengatasi kerentanan dalam sistem pangan yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku untuk melakukan serangan keamanan pangan
Melindungi konsumen dari produk makanan yang telah dicampuri atau disabotase
Melindungi bisnis dari kerugian finansial dan reputasi akibat serangan keamanan pangan
TACCP dapat diterapkan pada semua tahap rantai pasokan makanan, mulai dari produksi hingga distribusi hingga konsumsi. Beberapa contoh penerapan TACCP meliputi:
Kontrol akses ke area produksi dan penyimpanan makanan
Penapisan karyawan dan pemasok
Sistem pelacakan produk
Sistem deteksi dan pencegahan intrusi
Pengendalian proses produksi
Pengendalian kualitas produk
Pendidikan dan pelatihan karyawan
TACCP pertama kali dikembangkan pada tahun 2000-an oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat. Pada tahun 2005, FDA menerbitkan pedoman TACCP yang merupakan standar nasional untuk penerapan TACCP.
Pada tahun 2011, Codex Alimentarius Commission (CAC) dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengadopsi TACCP sebagai standar internasional untuk keamanan pangan. TACCP juga berkembang dan dapat berintegrasi dengan sistem manajemen lainnya, seperti sistem manajemen mutu (ISO 9001), sistem manajemen keamanan informasi (ISO 27001) dan Supply Chain Security Management System (SCSMS) (ISO 28000).
Ketiga sistem ini penting untuk diterapkan dalam sistem jaminan keamanan pangan. Penerapan sistem jaminan keamanan pangan yang tepat dapat membantu organisasi untuk memastikan bahwa produk pangan yang mereka produksi aman untuk dikonsumsi.
Kombinasi dari sistem keamanan pangan tersebut juga merupakan jaminan perlindungan terhadap konsumen dari bahaya makanan baik secara kesehatan dan bebas dari penipuan serta dapat mencegah potensi bahan makanan untuk dijadikan sarana bioterorisme.
